Share

Cerita Misni, Warga yang Selamat dari Erupsi Semeru Usai Berlindung di Mushola

Tritus Julan, Koran SI · Minggu 12 Desember 2021 09:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 12 337 2515715 cerita-misni-warga-yang-selamat-dari-erupsi-semeru-usai-berlindung-di-mushola-OPp1jkewzH.jpg Misni beserta keluarga pasca erupsi semeru (foto: MNC Portal/Tritus)

LUMAJANG - Erupsi Gunung Semeru menyisakan berjuta kisah duka dari para korban. Cerita pilu mereka yang harus kehilangan anggota keluarga, teman dekat, hingga kerabat. Cerita ribuan orang yang harus kehilangan rumah dan entah bagaimana kelangsungan hidup mereka setelahnya.

Namun, tak sedikit pula dari mereka yang justru mengucap syukur kendati rumah dan harta bendanya lenyap. Ya, mereka yang selamat dari muntahan erupsi gunung tertinggi di pulau Jawa itu. Terlebih, mereka yang tak kehilangan satu pun anggota keluarga yang disayangi. Adalah Misni, perempuan yang berhasil lolos dari maut yang menimpa kampungnya, Dusun Curahkobokan, Kabupaten Lumajang. Ia berserta suami dan anaknya masih bisa bernapas lega setelah lolos dari maut. Sementara banyak orang di kampungnya yang harus kehilangan nyawa akibat erupsi Gunung Semeru Sabtu 4 Desember 2021 lalu.

"Alhamdulillah, saya sekeluarga selamat. Padahal waktu itu kami berpikir akan mati," begitu ucap Misni yang tak henti-hentinya bersyukur.

Baca juga:  Kisah Ngatri, Panggul Anaknya yang Disabilitas Lari dari Kejaran Awan Panas Semeru

Ia terus bertutur bagaimana keluarganya bisa melalui masa sulit saat Gunung Semeru memuntahkan lahar panas. Peristiwa yang meluluh-lantakkan kampungnya hingga menjadi kampung mati saat ini. Masih lekat dalam ingatan perempuan berumur 51 tahun ini tatkala, ia dan anggota keluarganya panik mencari tempat berlindung. Awan yang gelap membuatnya semakin kalut. Dalam situasi yang serba ketakutan itu, ia diseret sang suami untuk berlindung di salah satu bangunan musala yang tak jauh dari rumahnya.

 Mushola

Ia sempat kehilangan harapan lantaran di dalam mushola itu sudah ada puluhan kepala keluarga yang sudah lebih awal berlindung. Praktis, ia harus sedikit memaksa untuk masuk dan berharap kondisinya lebih aman dibanding berada di dalam rumahnya sendiri.

"Saya yakin akan lebih aman di mushola," tutur Misni.

Baca juga:   BMKG Prakirakan Cuaca di Wilayah Gunung Semeru Hujan Lebat hingga 3 Hari

Pilihan untuk berlindung di dalam mushola, juga bukan datang serta-merta. Beberapa saudaranya juga sempat mengajak dirinya untuk berlindung di tempat yang rutin ia sambangi saat beribadah itu. Lantaran itulah ia merasa lebih aman.

"Paling kalau mati, ya ada saudara-saudara juga di situ (mushola)," begitu Misni menceritakan sedikit kepasrahannya saat itu.

 

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Beberapa jam, Misni dan sekitar 50 orang di dalam musala itu menunggu nasib. Sementara di luar musala, mereka melihat dengan jelas bagaimana lahar panas yang bercampur air hujan datang seperti air bah. Suara gemuruh membuat mereka bertambah takut.

"Kami terus berdoa, baca surah Al Fatihah dan yang laki-laki mengumandangkan adzan," ucapnya.

Baca juga:  Update Erupsi Semeru: 45 Meninggal Dunia dan 9 Orang Hilang

Semakin lama, lahar yang bercampur air hujan itu menelan sebagian bangunan rumah warga. Yang ia takutkan, muntahan lava di udara juga mulai berjatuhan ke atap mushola. Tentu saja, Misni dan orang-orang yang ada di dalam mushola semakin ketakutan.

"Takut atapnya ambruk. Saya juga menyaksikan banyak rumah warga yang atapnya sudah ambruk," kenangnya.

Perasaan yang sama juga dituturkan Susanti, yang juga masih kerabat dengan Misni. Saat itu, ia dan suaminya juga memilih berlindung di dalam mushola tempat Misni dan keluarganya berlindung. Sedikitnya, enam kepala keluarga yang masih kerabat, ikut berlindung di dalam bangunan seluas 7X7 meter itu.

"Semua menjerit ketakutan dan menyebut nama Allah," kata Susanti.

Perempuan berumur 24 tahun ini juga sempat mengalami keputusaan lantaran melihat kondisi di luar mushola yang sudah porak-poranda. Namun di balik itu, ia masih memiliki keyakinan akan selamat. "Karena menurut saya, mushola adalah tempat yang paling aman," ucap Susanti.

Dan benar saja, hingga situasi membaik, bangunan mushola ini masih utuh. Lahar panas tak menembus lantai musala. Begitu juga dengan bagian atap yang masih utuh. Padahal ratusan rumah di kampung ini rusak parah. Tak sedikit pula warga yang tak selamat kendati berlindung di dalam rumah.

Kisah bertaruh nasib di dalam mushola itu masih menjadi nostalgia bagi Misni, Susanti dan empat kepala keluarga lainnya yang masih sekerabat. Karena itulah, mereka yang berjumlah 18 orang orang itu memilih mengungsi di tempat yang sama di rumah salah satu warga di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.

Mereka selamat bersama dan ingin mengungsi bersama. Meski hingga saat ini, mereka tak punya rencana untuk tinggal di mana pasca masa pengungsian berakhir.

"Ya, satu rumah ini kami bersama enam kepala keluarga. Tidak tahu kami nanti tinggal di mana. Kami tak punya uang lagi kalau pindah rumah," ungkap Sumarmi, korban selamat di dalam musala lainnya.

Enam kepala keluarga senasib ini juga tak memiliki keberanian untuk kembali ke kampung halaman yang kini menjadi kampung mati. Mereka beralasan tak ingin mengulangi peristiwa paling menakutkan sepanjang hidupnya.

"Kita tunggu saja bagaimana nasib selanjutnya. Tapi kalau kembali tinggal di rumah, kami tak berani," kata Sumarmi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini