Share

Hadiri Bimtek Partai Perindo, Ketua KPK Bilang Mahalnya Biaya Politik Asal Mula Korupsi

Carlos Roy Fajarta, · Jum'at 10 Desember 2021 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 10 337 2515058 hadiri-bimtek-perindo-ketua-kpk-bilang-mahalnya-biaya-politik-asal-mula-korupsi-b6wObKxvdk.jpg Ketua KPK Firli Bahuri menyampaikan materi pada Bimtek Partai Perindo (Foto : MPI)

JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Firli Bahuri hadiri diskusi sesi kedua bimbingan teknis (Bimtek) Partai Perindo 2021 Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota Partai Perindo se-Indonesia pada Jumat (10/12/2021) di Jakarta Concert Hall iNews Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Dalam kesempatannya ia menyebutkan biaya politik yang mahal dalam perhelatan Pilkada, Pileg, hingga Pilpres menjadi salah satu akar ataupun asal muasal tindakan korupsi.

Firli Bahuri juga membahas korupsi dalam tema besar Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Dalam Pelaksanaan Fungsi Penganggaran.

"Dari hasil survei kita, semua biaya politik kita sangat mahal. Kami melaksanakan survei karena ingin tahu mengapa para calon pemimpin daerah dan caleg maju ke Pileg dan Pilkada padahal uang tidak cukup atau minus. Rupanya mereka mendapatkan pinjaman dari sponsor," ujar Firli.

Ia menjelaskan dari hasil survei yang dilakukan internal KPK disebutkan 82,3 persen hasil survei Pilkada dibiayai sponsor dan donatur.

"Kenapa mereka (donatur dan pihak sponsor) mau membiayai? Akan mendapatkan kemudahan usaha itu 91 persen, dekat dengan penguasa 87 persen, ada jaminan tentang keberlangsungan usaha sebesar 81 persen," ungkap Firli Bahuri.

Baca Juga: Firli Bahuri Heran Ada Koruptor Ditangkap KPK Bilangnya Apes

Firli Bahuri mengungkapkan dari pihak sponsor inilah yang nantinya meminta bagian proyek dari sejumlah program anggaran pemerintah daerah untuk calon legislatif atau pimpinan daerah yang dipilih oleh rakyat.

"Jadi jika kita ingin melaksanakan pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai kesejahteraan masyarakat maka APBN harus sepenuhnya untuk rakyat, tidak boleh satupun dikorupsi," tambah Firli Bahuri.

Ia menyebutkan sistem demokrasi di Indonesia seharusnya terbuka, sehingga tidak ada biaya politik mahal. Ia menyebutkan dalam pemberitaan untuk menjadi Presiden saja membutuhkan uang Rp 8 Triliun.

"Termasuk untuk menjadi anggota Caleg juga membutuhkan biaya sangat tinggi. Kalau seperti ini terus maka kasus korupsi tidak pernah habis di Indonesia," tegas Firli Bahuri.

Ia memberikan contoh kebiasaan yang ada saat ini apabila para pelaku usaha mau izin harus melakukan suap, harus ada gratifikasi. Jika tidak ada uang maka tidak ada izin yang keluar dari eksekutif dan legislatif.

"Apakah regulasi kita sudah cukup efektif untuk tidak membuat ada tindakan koruptif. Apakah tata kelola anggaran kita sudah mampu mencegah tindakan korupsi," kata Firli Bahuri dengan nada bertanya.

Ia menganalogikan pemberantasan korupsi itu seperti permainan orkestra, di seluruh kamar kekuasaan baik legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Korupsi adalah musuh kita bersama. Seperti masyarakat melawan Covid-19, maka Firli Bahuri mengajak masyarakat bersama-sama melawan korupsi.

"Jadi tugas pemberantasan korupsi bukan tugas KPK saja tapi seluruh masyarakat. Kalau seluruh masyarakat bersatu melawan korupsi maka dalam setahun bisa diberantas seluruh korupsi di Indonesia," kata Firli Bahuri.

Firli Bahuri menekankan seluruh partai politik harus menekan pakta integritas bebas korupsi untuk mewujudkan pilkada bebas korupsi.

"Bagaimana mengehentikan korupsi di seluruh sendi kehidupan bangsa bernegara. Dalam perencanaan, penyusunan, pengesahan, implementasi, dan evaluasi anggaran tidak boleh ada korupsi. Jika kita tidak menemukan orang baik di dunia ini, maka jadilah contoh sebagai orang baik," pungkas Firli Bahuri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini