Share

Kasus Guru Cabuli Belasan Santri, Kemenag Bandung Pindahkan Seluruh Santriwati

Antara, · Kamis 09 Desember 2021 17:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 337 2514583 kasus-guru-cabuli-belasan-santri-kemenag-bandung-pindahkan-seluruh-santriwati-fLPs4TrMDE.jpg Ilustrasi (Foto : Antara)

BANDUNG - Guna memberi perlindungan baik secara fisik maupun secara psikologis kepada para santri, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandung memindahkan seluruh santriwati dari pesantren Tahfidz Madani di Kota Bandung yang terlibat kasus pemerkosaan dengan pelaku seorang oknum guru berinisial HW (36).

Total sebanyak 35 orang santriwati yang terdaftar, menurutnya telah difasilitasi.

"Kita rapat dengan provinsi dan seluruh pokja PKPPS berkoordinasi siapa yang akan menampung 35 anak. Walaupun keputusannya tetap itu tergantung kepada anak. Sebagian besar anak mau ke sekolah formal," kata Kepala Kemenag Kota Bandung Tedi Ahmad Junaedi, Kamis (9/12/2021).

Menurutnya, saat ini Kemenag pusat pun telah mencabut izin pondok pesantren yang berada di Kota Bandung tersebut. Tedi mengatakan pondok pesantren tersebut hanya mendapatkan izin untuk beroperasi di wilayah Antapani, sedangkan pesantren yang berlokasi di Cibiru berdiri tanpa izin Kemenag.

"Kalau lembaganya dalam proses pencabutan izinnya. Karena yang berwenang mencabut izin yaitu Kemenag RI," kata dia.

Baca Juga : Guru Pesantren Perkosa Belasan Santri, Respons Pelaku Herry Wirawan Mengejutkan

Ia mengungkapkan, saat rapat dengan DP3A Jawa Barat dan Polda Jabar, Kemenag ikut melaksanakan pendampingan terhadap kasus tersebut secara proporsional.

"Kasus kriminalnya ditangani oleh Polda Jabar, psikologi anak oleh Dinas DP3A, dan Kemenag membina dan menangani kelembagaan serta kelanjutan pendidikan anak-anak tersebut," kata dia.

Saat ini, lanjut Tedi, pihaknya tengah berkoordinasi bersama pihak kepolisian untuk bisa mengakses ke bangunan sekolah yang sudah disegel, yakni untuk mengambil sejumlah kelengkapan administrasi peserta didik.

"Dari aduan orang tua, masih ada 16 anak yang belum punya ijazah setara paket B dan C. Padahal telah lulus sejak 2019 dan 2020 tapi belum diberikan. Kita terus berkoordinasi dengan kepolisian karena bangunannya sudah diamankan," katanya.

Adapun kasus itu mulai terungkap sejak adanya laporan sekitar bulan Mei 2021 ke Polda Jawa Barat. Setelah itu, laporan tersebut ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan penyidikan hingga berkas perkara lengkap dan dilimpahkan ke kejaksaan.

Dari kasus tersebut, diketahui HW melakukan tindakan asusila kepada 12 orang santriwati. Dari aksi tidak terpuji itu, para santri mengalami kehamilan hingga melahirkan beberapa orang anak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini