Gunung Merapi Alami Erupsi Erusif, Ini Penjelasannya

Mohammad Adrianto S, Okezone · Rabu 08 Desember 2021 06:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 08 337 2513622 gunung-merapi-alami-erupsi-erusif-ini-penjelasannya-Ew7YXiRua9.jpg Foto: Ist.

YOGYAKARTA - Gunung Semeru baru-baru ini mengalami erupsi, terjadi pada Sabtu (4/12/2021) sore. Namun, ternyata gunung berapi ini bukanlah satu-satunya gunung yang sedang aktif.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, terjadi awan panas guguran Gunung Merapi, pukul 16.44 WIB, Senin (6/12/2021).

BACA JUGA: Update Korban Erupsi Semeru: 34 Orang Meninggal Dunia dan 22 Hilang

BPPTKG lewat akun Twitter-nya menuliskan, awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 14 mm dan durasi 160 detik. Jarak luncur 1.800 ke arah Kali Bebeng. Arah angin ke timur.

Awan panas guguran itu bukan yang pertama hari ini. Pukul 16.09 WIB juga terjadi hal yang sama. Tercatat di seismogram dengan amplitudo 12 mm dan durasi 163 detik. Jarak luncur 1.800 m ke arah barat daya. Arah angin ke timur.

Mengutip Instagram resmi @bpptkg, ternyata Gunung Merapi juga sedang mengalami fase erupsi efusif. Apa yang dimaksud erupsi erusif?

BACA JUGA: Penampakan Satu-Satunya Rumah Selamat saat Erupsi Gunung Semeru

Erupsi erusif merupakan aktivitas berupa pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran.

Erupsi ini tekanannya kecil, sehingga hanya berupa lelehan yang berangsur keluar. Ini terjadi karena magma di dalamnya bersifat basa dan memiliki kandungan gas.

Berbeda dengan erupsi eksplosif, yang menyemburkan abu vulkanik dengan kekuatan yang sangat dahsyat dan dapat mencapai ketinggian puluhan kilometer. Abu vulkanik ini sendiri sebenarnya adalah magma yang hancur dalam proses erupsi.

Lebih lanjut, guguran dan awan panas ini melanda sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro, dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning,erce Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih.

Erupsi eksplosif juga masih berpeluang terjadi dengan ancaman bahaya berupa lontaran material vulkanik yang dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Masyarakat bisa menyaksikan peristiwa ini dari jarak aman. Namun, mereka juga diimbau untuk tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya tersebut.

Saat ini Gunung Merapi masih berstatus siaga atau level III sejak 5 November 2020.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini