Anak Eks Pejabat Pajak Bersaksi di Sidang Suap Ayahnya, Pengakuannya Mengejutkan

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Rabu 08 Desember 2021 01:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 08 337 2513600 anak-eks-pejabat-pajak-bersaksi-di-sidang-suap-ayahnya-pengakuannya-mengejutkan-0CLAsxCSkI.jpg Terdakwa kasus korupsi pajak, Angin Prayitno saat di KPK (foto: MNC Portal)

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan Anggota Polri, Taufan Arif Nugroho dalam sidang perkara dugaan suap terkait pemeriksaan nilai pajak tiga perusahaan besar, hari ini. Taufan merupakan anak terdakwa mantan pejabat Direktorat Jenderal Pajak, Angin Prayitno Aji.

Dalam persidangan, Taufan memberikan pengakuan yang mengejutkan soal sosok ayahnya, Angin Prayitno Aji. Taufan mengklaim bahwa ayahnya kerap mengajarkan hidup sederhana. Angin sendiri merupakan terdakwa penerima suap terkait pemeriksaan nilai perpajakan.

"Saya selalu dididik dengan sederhana," singkat Taufan di ruang sidang Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (7/12/2021).

Baca juga:  Perintah Pejabat Pajak Angin Prayitno untuk Kumpulkan Fee Terbongkar di Persidangan

Taufan menceritakan bahwa ayahnya sering membatasi uang jajannya. Menurutnya, ajaran itu yang membuatnya bisa hidup dengan sederhana. Ajaran itu dilakukan ke seluruh keluarganya. "Iya, sama juga (perlakuan ke keluarga lain)," tutur Taufan.

Dalam persidangan ini, JPU pada KPK juga menghadirkan saksi yang merupakan wiraswasta,.M Fatoni. Jaksa sempat mengonfirmasi tudingan saksi M Fatoni. Fatoni mengklaim mendapatkan pesan yang diduga dari kubu terdakwa sekaligus mantan Pejabat Dirjen Pajak Angin Prayitno Aji.

"Ada satu SMS (WhatsApp) untuk bekerja sama," kata Fatoni.

Baca juga:  9 Daftar Pelaku Mafia Pajak, Ada yang Sempat Bikin Heboh Publik

Fatoni menyebut kerja sama itu untuk menyelamatkan aset milik Angin saat kasus tengah dalam proses penyidikan di KPK Namun, dia tidak menggubris pesan itu. Jaksa kemudian mempertanyakan pengirim pesan itu. Fatoni mengaku mengetahui pengirimnya merupakan seorang perempuan.

Dia mengakut tidak mengenal orang itu. Jaksa kemudian mempertanyakan kebenaran pernyataan Fatoni. "Tahu darimana ibu-ibu?" ujar jaksa.

Jaksa kemudian meminta Fatoni untuk memperlihatkan bukti tudingannya. Namun, dia mengeklaim pesan itu sudah hilang karena terhapus. "Terhapus (pesannya)," tutur Fatoni.

Dalam perkara ini, dua mantan pejabat pada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani didakwa menerima suap sebesar Rp15 miliar dan 4 juta dolar Singapura atau setara Rp42 miliar.

Jika dikalkulasikan, total suap yang diduga diterima dua mantan pejabat pajak tersebut sekira Rp57 miliar. Uang dugaan suap Rp57 miliar tersebut diduga berkaitan dengan pengurusan pajak PT Jhonlin Baratama (JB); PT Bank PAN Indonesia (PANIN); serta PT Gunung Madu Plantations (GMP).

Angin Prayitno Aji selaku mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak, serta Dadan Ramdani selaku bekas Kepala Sub Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak, didakwa menerima suap bersama-sama dengan tim pemeriksa pajak pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak.

Adapun, tim pemeriksa pajak pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak yang didakwa turut serta menerima suap yakni, Wawan Ridwan; Alfred Simanjuntak; Yulmanizar; dan Febrian. Mereka diduga mereka telah merekayasa hasil penghitungan pajak tiga perusahaan besar tersebut.

Mereka didakwa menerima suap sebesar Rp57 miliar melalui tiga konsultan dan satu kuasa pajak. Mereka yakni, Veronika Lindawati selaku kuasa dari PT Bank Panin, Agus Susetyo selaku konsultan pajak PT Jhonlin Baratama. Kemudian, Ryan Ahmad Ronas dan Aulia Imran Magribi selaku konsultan pajak dari PT Gunung Madu Plantations.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini