Share

Kisah 2 Pujangga Masyhur yang Ceritakan Kebesaran Kerajaan Majapahit

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 07 Desember 2021 05:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 337 2512988 kisah-2-pujangga-masyhur-yang-ceritakan-kebesaran-kerajaan-majapahit-vaqTU0cU4o.jpg Raja Majapahit, Hayam Wuruk (foto: dok wikipedia)

SEPANJANG memerintah Kerajaan Majapahit, Raja Hayam Wuruk meninggalkan beragam karya sastra. Karya sastra ditulis oleh dua pujangga besar, kalau itu Mpu Prapanca dan Mpu Sutasoma. Kitab sastra itu mengisahkan kehidupan Kerajaan Majapahit dan segala dinamika, termasuk pemujaan ke Hayam Wuruk.

Kitab Negarakertagama menjadi kita yang terkenal yang dikarang oleh Mpu Prapanca. Sebagaimana dikutip dari buku "Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada" dari Sri Wintala Achmad, Negarakertagama menjadi referensi melihat kebesaran - kebesaran Majapahit.

Baca juga:  Gajah Mada Jadi Dalang Pembunuhan Raja Majapahit?

Dimana pada Kitab Negarakertagama menceritakan wilayah - wilayah kekuasaan Majapahit dan keharusan daerah kekuasaan menyetorkan upeti. Naskah Kakawin Negarakertagama terdiri dari 98 pupuh. Pembagian pupuh - pupuh dalam tersebut terbentuk sangat rapi. Adapun isinya di setiap pupuh mengisahkan pemujaan Prapanca terhadap raja.

Prapanca memuji nenek baginda raja yang bernama Rajapatni, putri Gayatri sebagaimana dikisahkan pada Pupuh II - VI. Putri bungsu Sri Kertanagara dari Singasari, beliau bertindak sebagai penasihat utama dalam pemerintahan. Di pupuh VIII, Prapanca mengisahkan tentang memuja Sri Rajasanagara, raja Majapahit.

Baca juga:  Petilasan Ki Kebokanigoro Keturunan Majapahit di Boyolali Jadi Tempat Semedi agar Hajat Terkabul

Tercatat hingga Pupuh XCV - XCVIII beragam kisah diceritakan Mpu Prapanca. Dimana di pupuh terakhirnya, ia mengisahkan kebosanannya tinggal di dusun dan nekat bertapa ke lereng gunung.

Menariknya naskah Kakawin Negarakertagama bersifat pujian ke raja yang disusun tidak atas perintah Raja Hayam Wuruk, baik sebagai tujuan politik pencitraan maupun legitimasi kekuasaan. Melainkan murni kehendak Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bakti pada raja.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Selain Negarakertagama, Mpu Prapanca juga menulis kitab Kakawin Niratha Prakretha. Kitab ini terdiri dari 13 pupuh. Pada kitab Niratha Prakretha, Prapanca menuangkan karyanya dengan bahasa indah memikat, karya tersebut mengandung ajaran - ajaran kearifan yang bersifat transendental. Ajaran bagi seluruh manusia yang ingin mencapai pembebasan neraka, dan mencapai nirwana.

Sedangkan, satu sastrawan lainnya yakni Mpu Tantular. Kitab Sutasoma menjadi karya Tantular semasa kejayaan Majapahit kekuasaan Hayam Wuruk. Tidak diketahui pasti kapan naskah tersebut digubah. Pada sejarawan memperkirakan bahwa naskah Kakawin Sutasoma ditulis pada 1365 - 1389.

Selain menulis Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular juga menulis Kakawin Arjunawijaya. Kedua naskah tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang sangat mirip. Naskah tersebut berisi calon Buddha Bodhisattva dilahirkan kembali sebagai Sutasoma, putra Mahaketu raja Hastinapura.

Sementara itu, kitab Kakawin Arjunawijaya ditulis Mpu Tantular sekitar tahun 1379 Masehi. Adapun kitab Kakawin Arjunawijaya mengisahkan tentang kelahiran anak - anak Wisrawa, yaitu Dasamuka dan saudara - saudarinya, kemenangan Rahwana, atas pasukan raja - raja sekutu Arjuna Kartawirya, dan kematian Patih Suwanda, dan kemenangan Arjuna Kartawirya atas Rahwana.

Tema dan bahan Kakawin Arjunawijaya diambil dari Kitab Uttarakanda yang versi prosanya menggunakan bahasa Jawa Kuno. Di Kitab ini pula kisah Arjuna Kartawirya mengunjungi kompleks religius dharma, Siwa Buddha. Pendeta itu mengingatkan pada Arjuna Kartawirya untuk selalu memelihara candi - candi, baik yang sudah ada maupun yang mengalami kerusakan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini