Share

Ketua DPD: Dunia Pendidikan Harus Beradaptasi Hadapi Era Disrupsi

Tim Okezone, Okezone · Minggu 05 Desember 2021 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 05 337 2512193 ketua-dpd-dunia-pendidikan-harus-beradaptasi-hadapi-era-disrupsi-1g9rK6j6kD.jpeg Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti.

BANDUNG – Merespons Era Disrupsi saat ini, Ketua DPD RI, La Nyalla Mattalitti mengatakan bahwa dunia pendidikan harus beradaptasi, termasuk dengan melakukan transformasi kurikulum. Menurutnya, hal ini penting karena teknologi digitalisasi sudah tidak bisa dihindari dan dunia pendidikan perlu bersiap dan berubah agar tidak tertinggal oleh perubahan global.

Hal tersebut disampaikan LaNyalla secara virtual dalam acara Wisuda Sarjana ke-25 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) bertema 'Bright Future Digital Communication of Stikosa-AWS' di Surabaya, Sabtu (4/12/2021).

BACA JUGA: Semua Senator Dukung LaNyalla Perjuangkan Capres Jalur Non Partai

"Hal itu harus diperhatikan dengan jeli oleh dunia pendidikan seperti Stikosa-AWS. Karena kita hanya punya dua pilihan, menjadi objek atau subjek," terang LaNyalla di sela acara di Bandung, Jawa Barat.

Menurutnya, Stikosa-AWS harus melakukan reposisi dan adaptasi cepat dalam memasuki era Dis-rupsi dan percepatan perkembangan teknologi informasi.

"Transformasi Kurikulum Stikosa-AWS wajib dilakukan dengan cepat. Karena semua proses dan output ilmu komunikasi, khususnya komunikasi massa telah berubah," lanjutnya.

LaNyalla memberikan fakta dimana radio harus berubah sejak ada podcast. Televisi harus berubah setelah ada streaming dan youtube. Pola dunia periklanan juga berubah, setelah ada big data yang mampu mengolah algoritma hidup manusia.

BACA JUGAL LaNyalla Didaulat Jadi Pembina Paguron Jalak Banten Nusantara

"Pekerjaan manusia di industri media juga pasti akan digantikan oleh automasi. Seperti yang sudah terjadi di proses pra cetak dan cetak media massa printing. Sekarang tidak perlu lagi petugas pra cetak. Bahkan sejak dari meja layout seorang editor bisa langsung menyusun tulisan di template layout," papar Senator asal Jawa Timur itu.

Mengenai perubahan global dalam koridor dunia digital, LaNyalla menilai ada dua peluang sekaligus tantangan yang dihadapi.

"Pertama adalah percepatan pertumbuhan digitalisasi yang merambah semua sektor. Kondisi ini memaksa kita untuk memasuki digitalisasi ekonomi. Karena semakin pesatnya era automasi dan artificial intelijen, yang akan menggantikan beberapa peran manusia," ucap dia.

Kedua, bangsa Indonesia akan memasuki puncak demografi usia produktif pada tahun 2045. Dimana jumlah populasi penduduk usia produktif mencapai 70 persen dari total penduduk Indonesia pada saat itu.

"Jika puncak demografi usia produktif tidak dikelola dan disiapkan dengan baik, konsekuensinya akan sangat berat. Akan muncul masalah sosial seperti kemiskinan, derajat kesehatan yang rendah, pengangguran dan tingkat kriminalitas. Karena jumlah usia produktif tinggi, sementara lapangan pekerjaan tidak ada," imbuhnya.

Oleh karena itu, tegas LaNyalla, penyiapan sejak saat ini menjadi sangat penting. Sebab, pada tahun 2045, anak-anak muda saat ini akan menjadi pemimpin bagi bangsa. Di tangan mereka, masa depan dan nasib bangsa ini dipertaruhkan.

"Saya termasuk orang yang percaya kekuatan kaum muda. Terutama yang kini menjadi perhatian global dengan hadirnya sejumlah start-up yang mampu mengubah perilaku umat manusia, yang semuanya itu digerakkan oleh anak-anak muda," katanya.

Berdasarkan riset Nelsen Media, menurut LaNyalla, kepemilikan smartphone oleh Generasi Z, mencapai 86 persen. Mereka juga paling sering menggunakan internet, dengan durasi minimal 4 jam sehari.

Yang menjadi pertanyaan apakah digitalisasi yang sudah merasuk itu berdampak positif atau tidak? Apakah kaum muda memanfaatkan teknologi untuk berkreasi dan menciptakan nilai tambah? Atau hanya bermain media sosial untuk game dan scrolling info-info saja?

"Ini menjadi tugas kita bersama untuk menempatkan teknologi dan digitalisasi sebagai infrastruktur penting menuju Indonesia Emas 2045. Terutama dengan anak muda sebagai pilarnya. Ini penting ditekankan agar Indonesia tidak hanya menjadikan sarana teknologi dan digital sebagai sarana hiburan, tetapi bisa menjadi sarana untuk menciptakan produktivitas dan nilai tambah bagi perekonomian," tuturnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini