Share

4 Konflik Keluarga Akibat Rebutan Harta Warisan

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 03 Desember 2021 15:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 03 337 2511463 4-konflik-keluarga-akibat-rebutan-harta-warisan-s5GGP0IY3K.jpg Ibu di Bekasi digugat anaknya terkait harta warisan. (MNC Portal)

HARTA warisan seringkali menimbulkan masalah. Banyak konflik keluarga yang bermula dari harta peninggalan anggota keluarga yang telah tiada ini. Berikut adalah beberapa konflik keluarga yang terjadi akibat harta warisan di Indonesia, dilansir dari berbagai sumber, Jumat (3/12/2021) :

Bekasi, Jawa Barat

Awal Desember 2021, seorang wanita berinisial R (72) dilaporkan lima orang anak kandungnya ke pihak kepolisian lantaran masalah harta warisan. Warga Kampung Gudang Huut, Desa Sindangjaya, Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat ini dilaporkan atas dugaan penggelapan.

Melansir berbagai sumber, anak pertama R yang berinisial S melaporkannya dengan tuduhan telah menggadaikan sertifikat tanah seluas 9.000 meter persegi dengan harga Rp500 juta. Ibu yang telah duduk di kursi roda ini diantar ketiga anak kandungnya yang lain untuk menjalani pemeriksaan. Berdasarkan penuturan R, kelima anaknya itu memang sering berperilaku tidak baik padanya semenjak suaminya meninggal dunia.

Lombok Tengah, NTB

Pria berinisial Y (45) dikabarkan menggugat ibu kandungnya karena masalah harta warisan, pada Mei 2021. Harta yang dimaksud adalah sebidang tanah kebun seluas 13 are (1.300 meter persegi). Y menganggap sang Ibu, S (70), tidak pernah mendengarkan perkataannya saat melakukan musyawarah terkait tanah warisan ini dan lebih mendengarkan perkataan anak perempuannya.

Meskipun telah mencoba melakukan mediasi, Y tetap ingin menggugat ibunya agar tetap mendapat haknya. Dari 13 are lahan tersebut, Y mendapat warisan seluas 2 are. Namun, menurut S, mendiang suaminya berpesan agar lahan tersebut tidak dijual, karena dapat digunakan untuk biaya hidup dan mendaftar haji.

Majalengka, Jawa Barat

Pada Mei 2021, seorang ibu berinisial KLN (84) memasukkan gugatan ke pihak Pengadilan Negeri Majalengka terkait pembatalan kutipan Akta Kelahiran agar IW (62), tidak lagi tercatat sebagai anak KLN. Hal ini dilakukan lantaran KLN merasa sang anak tidak lagi mengurusnya dan terlalu ikut campur masalah harta warisan. Menurut kuasa hukum penggugat, IW memang bukan merupakan anak kandung KLN. KLN dan suaminya merawat IW sejak berusia 6 tahun.

Baca Juga : Viral PNS Cantik Gugat Ibu Kandung karena Warisan, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Namun, sejak suaminya meninggal, KLN merasa tidak lagi diperhatikan IW. Padahal menurutnya, IW telah menerima warisan dari suaminya. IW merasa kaget dengan gugatan tersebut dan tidak paham dengan sikap KLN. IW mengaku sering berkomunikasi dengan ibunya dan setiap hari mengunjungi KLN untuk mengirim makanan serta uang jajan.

Banyuasin, Sumatera Selatan

Ibu bernama D (78) harus berjuang menghadapi gugatan yang dilayangkan oleh tiga anak perempuan dan seorang cucunya. Pada Juni 2020, warga Kelurahan Kedondong Raye, Banyuasin, ini digugat lantaran harta warisan peninggalan suaminya berupa tanah seluas 12.000 meter persegi, yang dibagi ke dalam 3 surat. Menurut penuturan D, anak-anaknya jarang menjenguknya setelah suaminya meninggal di tahun 2019.

Pada Lebaran 2020, seorang anaknya sempat mengirim bingkisan, tetapi tidak datang untuk menjenguknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh dua anaknya yang lain. Sementara, cucu laki-lakinya, A, sempat menjenguknya. Namun tujuannya hanya untuk meminta uang. Hanya anak bungsunya yang sering mengunjungi D. Ia sendiri kaget ketika tahu anak kandungnya menggugat dirinya atas tanah warisan tersebut. Padahal menurut D anak-anaknya telah mendapat warisan tanah masing-masing seluas 750 meter persegi. (dilansir dari berbagai sumber/Andin Danaryati/Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini