Kisah Hoegeng Tolak Diberikan Pengawal: Kalau Mau Mati, Ya Mati Saja

Fay Cilla, Okezone · Jum'at 03 Desember 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 02 337 2511077 kisah-hoegeng-tolak-diberikan-pengawal-kalau-mau-mati-ya-mati-saja-zDg57cBqfG.jpg Jenderal Hoegeng Iman Santoso (Foto: Arsip Nasional)

JAKARTA - Hoegeng merupakan salah satu tokoh Kepolisian Negara yang terkenal paling jujur dan mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid sempat memujinya "hanya ada 3 polisi jujur di negara ini: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng". Hoegeng sempat menjabat menjadi Sekertaris Kabinet Indonesia pada tahun 1966.

Ada kisah yang unik saat Hoegeng menjadi Sekertaris Kabinet Indonesia, pada saat pengangkatannya menjadi mentri, Sekertarisnya Dharto ingin mengetahui apa saja hak yang didapatkan oleh Hoegeng saat menjabat. Lalu ia melapor kepada Kepala Biro I Bidang Administrasi dan Organisasi Setneg, Sarjono Hanggoro. Menurut Hanggoro, Hoegeng berhak memperoleh Pengawal Pribadi di rumah atau di kantor, kemudian uang operasional, beras 100kg, gula 50kg dan minyak goreng satu kaleng.

Saat itu uang operasional dapat diwakili pengambilannya oleh Dharto di Bagian Keuangan Setneg jika Hoegeng tak bisa mengambilnya, lalu untuk bahan pokok setiap bulannya Dharto harus datang sendiri di Yayasan Soedirman bertemu dengan Roto Soewarno.

Dharto melaporkan hal tersebut kepada Hoegeng, namun ciri khas yang kuat pada sisi Hoegeng yaitu sederhana tidak ingin memanfaatkan fasilitas negara. Hoegeng berkata kepada Dharto secara halus karena menolak fasilitas tersebut. Dikutip dalam buku Hoegeng Polisi dan Mentri Teladan karya Suhartono:

“Mas Dharto sampaikan salam hormat dan terimakasih Hoegeng kepada Pak Hanggoro. Sampaikan juga permohonan maaf Hoegeng karena Hoegeng tidak memerlukan pengawal pribadi dikantor maupun dirumah”

Alasan Hoegeng tidak ingin mengambil pengawal pribadi untuk dirinya, dia tetap bisa bekerja dengan baik meskipun tanpa adanya pengawal dan Hoegeng takut jika teman-temannya tidak ada yang ingin berkunjung kerumah dan harus melapor jika kerumahnya. Dikutip dalam buku Hoegeng Polisi dan Mentri Teladan karya Suhartono:

“Hidup Hoegeng berserah saja, tak perlu dikawal-kawal. Kalau Hoegeng mau mati ya mati saja. Tidak usah pakai pengawal atau penjaga di rumah”

“Nanti, teman-teman Hoegeng tidak ada yang berani berkunjung ke rumah karena harus lapor lebih dulu ke petugas penjaga. Jadi, tidak usah, Mas Dharto. Biar saja bebas”tambahnya.

Tak sampai situ kesederhanaan Hoegeng, diketahui bahwa Hoegeng tidak memakai fasilitas negara sejak dipercaya sebagai Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia maupun Mentri Iuran Negara. Hal tersebut diketahui Dharto melalui supirnya, Aco yang sering mengobrol dengan Hoegeng.

Bahkan saat ia menjabat menjadi Kapolri, ia juga menolak pengawalan yang diberikan kepadanya. Dan diketahui hanya ada dua staf, staf ajudan yang bergantian bertugas saat hari kerja dan staf ajudan yang membantunya sehari-hari. Mereka juga tidak diizinkan memakai pakaian dinas kecuali ajudan dinas yang mendampinginya sehari-hari lalu staf lainnya diminta berpakaian preman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini