Share

Kisah Tinta Emas Diplomasi Benny Moerdani Di Korea Selatan Hingga Akrab Dengan Intelijen KCIA

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 03 Desember 2021 05:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 02 337 2511075 kisah-tinta-emas-diplomasi-benny-moerdani-di-korea-selatan-hingga-akrab-dengan-intelijen-kcia-qi4LtZV3d7.jpg Benny Mordani (Foto: Ist)

JAKARTA - Salah satu kisah Benny Moerdani yang menarik disimak adalah saat Benny Moerdani menjadi Konsul Jenderal Indonesia di Korea Selatan usai di mutasi dari Konsul Jenderal di Malaysia Barat.

Dikutip dari Buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap. Kisah berawal dari Benny yang memutuskan untuk belajar bahasa Korea. Ia berujar bahwa jika ingin mengetahui isi hati suatu bangsa harus lewat bahasa nya.

Berbekal penguasaan bahasa Korea yang amat baik. Ia suka menyapa warga setempat dan menjalin hubungan kepada semua kalangan. Bahkan Benny pernah mengajak seorang pengusaha untuk berinvestasi ke Indonesia.

Dalam proses nya tersebut pun membawa Benny bisa akrab dengan Presiden Korea Selatan saat itu yakni Park Chung-Hee. Ada dugaan keakraban itu lantaran keduanya punya kesamaan latar belakang intelijen.

Saat Park memimpin dewan militer, berdirilah Jung-Ang Jeongbobu alias KCIA ( Korean Central Intelligence Agency ).

Pengamat militer Richard Tanter berpendapat bahwa Benny Moerdani terilhami KCIA dalam menjadikan Badan Intelijen Strategis (BAIS) punya wewenang besar.

Sementara Agum Gumelar yang merupakan anak buah Benny pada saat menjadi Komandan Satuan Tugas Intelijen Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (KOPKAMTIB) menepis argumen bahwa KCIA adalah referensi Benny dalam mengembangkan BAIS.

“ Saya kira tidak, Intelijen Korea amat mengejutkan karena kepala intelijennya membunuh Presiden Park, saya yakin Pak Benny bercita-cita untuk meningkatkan profesionalitas intelijen,” tutur nya.

Negeri Ginseng menjadi penutup petualangan diplomatik Benny. Walaupun beredar kabar bahwa kursi duta besar di Belanda pernah disiapkan untuk nya. Namun Meletusnya peristiwa Malari tahun 1974 membuat Presiden Soeharto menarik Benny dari kegiatan diplomatiknya.

Pemerintah Korea Selatan menganggap Benny sangat berjasa dan meninggalkan tinta emas dalam membangun persahabatan kedua negara. Ia dianugerahi Bintang Jasa Keamanan Nasional oleh Presiden Tae-Woo di istana Chongwadae pada 17 Juni 1988.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini