Kisah Jenderal Hoegeng Tak Mau Suratnya Diterima Perantara, Kecuali ke Bung Karno

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Kamis 02 Desember 2021 06:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 02 337 2510595 kisah-jenderal-hoegeng-tak-mau-suratnya-diterima-perantara-kecuali-ke-bung-karno-0Co8V7xs74.jpg Jenderal Hoegeng (Foto: Ist)

JAKARTA - Salah satu sosok pemimpin sederhana, jujur, tak kenal kompromi dan tegas yakni Jenderal (Pol) Hoegeng Iman Santoso. Hoegeng merupakan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru.

Ia juga pernah menjadi Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet dan Menteri Iuran Negara, serta Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada periode tahun 1961-1966. Dalam buku berjudul Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan yang ditulis Suhartono, menceritakan sosok Hoegeng apabila mengirim surat harus diterima pejabat itu sendiri terkecuali Presiden Soekarno.

Baca Juga:  11 Titik Jalan Sekitar Monas dan Istana Ditutup hingga Pukul 21.00 WIB

Hoegeng merupakan sosok yang tertib dalam bekerja, terutama dalam urusan surat-menyurat. Surat-surat dinas yang ditujukan kepada pejabat tertentu, Hoegeng minta agar langsung diterima oleh yang bersangkutan. 

Ia tak mau suratnya dititipkan kepada petugas penerima surat, sekretaris, dan ajudan, apalagi pengawal. Surat kepada beberapa menteri, misalnya, apa pun kendalanya, harus sampai ke tangan sang menteri. Hanya surat kepada Presiden Soekarno yang cukup diterima oleh ajudannya. Namun, Hoegeng biasanya memberitahukan lebih dulu kepada ajudan Presiden tentang orang yang akan mengantar surat tersebut.

Suatu saat, Dharto, sekretarisnya diminta menyampaikan surat kepada Presiden Soekarno melalui ajudannya di Istana Negara. Selepas melewati pintu penjagaan pengawal Presiden yang waktu itu dikenal dengan Tjakrabirawa, Dharto pun diizinkan masuk. Baru beberapa meter dari pos penjagaan, tiba-tiba ada seseorang berteriak memanggil namanya dari arah pintu masuk ke Istana Negara.

"Mas Dharto... Mas Dharto... sini," ujar pria yang berdiri di ujung Istana sambil melambaikan tangannya.

Dia adalah Mangil, bernama lengkap Mangil Martowidjojo, ajudan Presiden yang berpangkat Komisaris Besar. Mangil juga dikenal sebagai Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden Tjakrabirawa.

Baca Juga:  Antisipasi Reuni 212, Ribuan Aparat Gabungan Diterjunkan

Dharto tentu terkejut karena ada yang memanggil namanya di kawasan Istana. Mangil langsung mendekati dan mengenalkan diri.

"Saya Mangil, ajudan Presiden. Saya sudah ditelepon Pak Hoegeng. Katanya, nanti ada sekretaris Pak Hoegeng namanya Mas Dharto. Saya agak ragu karena menurut Pak Hoegeng, Mas Dharto itu orangnya tinggi besar, dan berkumis baplang, "ujar Mangil seraya tertawa.

Mangil memang sudah terbiasa dengan kebiasaan Pak Hoegeng yang senang guyon. Jadi, dia tak marah melihat Dharto dengan ciri-cirinya yang bertolak belakang dengan yang disebutkan Hoegeng. Dharto sendiri paham dengan gaya Hoegeng yang suka bercanda.

Suatu saat, Hoegeng juga pernah meminta Dharto untuk mengantarkan dua surat dengan kategori sangat rahasia kepada Waperdam Roeslan Abdulgani dan Idham Chalid. Permintaan Hoegeng, surat tersebut harus sampai ke tangan mereka. Jangan lewat sekretaris apalagi ajudan, kata Hoegeng.

Pertama, surat harus diantar ke Roeslan Abdulgani. Kebetulan, sekretarisnya rekan Dharto waktu di Setneg sehingga Dharto berharap suratnya mudah disampaikan kepada Roeslan. Namun ternyata tak mudah. Meskipun sekretarisnya adalah rekannya, dia tetap minta Dharto menitipkan suratnya itu kepadanya.

Menurut sekretarisnya, Roeslan tengah beristirahat tidur siang sehingga tak bisa diganggu untuk sekadar menerima surat. Surat pun dimintanya untuk disampaikan nanti setelah Roeslan bangun tidur. Tetapi, Dharto bersikeras bahwa surat harus langsung disampaikan kepada Roeslan, tanpa perantara siapa pun seperti yang ditugaskan Hoegeng.

Dari kisah kesederhanaan, kejujuran, dan tegas saat menjabat inilah yang membuatnya patut dijadikan sebagai contoh yang baik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini