Share

5 Fakta Gerombolan Preman Usir Paksa Keluarga Polisi, Bermula dari Utang Piutang

Mohammad Adrianto S, Okezone · Selasa 30 November 2021 19:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 30 337 2509658 5-fakta-gerombolan-preman-usir-paksa-keluarga-polisi-bermula-dari-utang-piutang-w6n1RMWB5p.jpg Keluarga polisi diusir dari rumahnya oleh preman. (Foto: MPI)

TANGERANG - Segerombolan preman mengusir keluarga polisi beranggotakan 8 orang yang tinggal di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten.

Kasus yang terjadi Oktober 2021 kini ramai diberitakan dan memiliki sejumlah fakta yang sudah dirangkum sebagai berikut:

1. Diusir dari Oktober 2021

Wanita dengan inisial R (51) mengaku telah diusir paksa dengan gaya premanisme, bersama suami, anak hingga cucunya, dengan total anggota keluarganya yang berjumlah 8 orang oleh puluhan orang preman.

Pengusiran ini sendiri terjadi pada awal Oktober 2021, membuat R dan keluarganya harus berpindah-pindah tempat tinggal.

R sendiri merupakan seorang istri yang dimana suaminya bekerja di Polres Metro Jakarta Barat, dan sudah menempati rumahnya tersebut selama 6 tahun lamanya.

2. Tanpa Membawa Barang Apapun

R mengaku tak membawa harta bendanya sedikitpun. Bahkan, untuk pakaian sendiri tak sehelai baju pun dapat dibawa olehnya kecuali yang menempel di badannya.

"Masih ada didalam rumah barang-barang semuanya (perhiasan, perabotan, sertifikat, baju-baju),” ujar R kepada MNC Portal Indonesia, Senin, (29/11/2021).

Baca juga: Sebar Hoaks, Pasutri yang Viral Dipukul Oknum Satpol PP Gowa Ditahan

"Saya sekarang lagi numpang di rumah anak saya,” lanjutnya.

Baca juga: 

3. Karena Utang Piutang

Kuasa hukum R, Darmon Sipahutar memaparkan permasalahan yang dialami kliennya bermula dari peminjaman uang sebesar Rp200 juta di tahun 2016, ke sebuah PT yang bergerak di bidang finance.

Darmon menuturkan kliennya telah membayar hutangnya itu sebanyak Rp130 juta hingga pada tahun 2018. Namun, diakuinya adanya pandemi Covid-19 membuat pembayaran angsuran nya menjadi tersendat.

Dari hal ini, Darmon menuturkan kliennya sudah mencoba mengajukan surat yang ditujukan untuk PT finance tersebut sebanyak dua kali guna meminta relaksasi.

“Ibu ini (R) berikan surat ke PT untuk diberikan relaksasi terhadap hutang. Tapi tidak ada jawaban karena PT sudah dua kali dibekukan oleh OJK karena dianggap bermasalah," tutur Darmon.

4. Rumahnya Dilelang

Darmon menuturkan kliennya dibuat terkejut bahwa ternyata rumah tersebut telah dilelang di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Tangerang I dengan harga Rp735 juta.

Diketahui sosok bernama J Supriyanto lah yang menjadi pemilik rumah keluarga R, berprofesi sebagai pemilik balai lelang swasta bernama Griya Lestari. Namun, tak berlangsung lama, Supriyanto kembali melelang rumah tersebut dan kini beralih kepada pihak bernama Rasmidi.

Rasmidi diwakilkan pengacaranya, Sopar J Napitupulu menyambangi rumah R untuk memberitahukan kepemilikan baru atas nama Rasmidi pada tanggal 23 September 2021 lalu.

5. Sempat Datang Untuk Somasi

Awalnya, kedatangan Sopar sendiri sebagai upaya melayangkan somasi terhadal keluarga R. Somasi yang pertama terjadi pada 27 September 2021 dan somasi kedua pada tanggal 2 Oktober 2021. Tetapi, di somasi kedua Sopar justru kembali ke rumah R didampingi oleh 30 orang lainnya.

“Ketika dilakukan pengusiran dimana SN ini datang dengan teman-temannya kurang lebih 30 orang," ujar Darmon menceritakan permasalahan kliennya.

6. Sudah Lapor Polisi

R sendiri telah melaporkan hal ini ke Polsek Cipondoh lalu diarahkan ke Polres Metro Tangerang Kota. R melaporkan kasus ini dengan sangkaan Pasal 335 tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. Lalu, Pasal 160, 406 dan 170 KUHP. Serta Pasal 363 tentang Pencurian.

Darmon menegaskan, perlakuan yang dilakukan tersebut tak sesuai dengan prosedur dan janggal. Seharusnya, eksekusi tersebut dilakukan lewat jalur pengadilan.

"Patut diduga karena telah melakukan tindak pidana. Karena sepanjang pengetahuan kami, setiap melakukan eksekusi tidak boleh dilakukan di luar jalur pengadilan. Tapi ini agak lucu dan aneh, mereka lakukan eksekusi diluar Jalur pengadilan. Kami anggap Ini adalah eksekusi premanisme," terang Darmon.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini