Warga Dihebohkan Kemunculkan Pelangi Ganda, Ini Penjelasan BMKG

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 27 November 2021 17:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 27 337 2508378 warga-dihebohkan-kemunculkan-pelangi-ganda-ini-penjelasan-bmkg-b1hMl7LO5V.jpg Pelangi ganda di Ciputat (foto: tangkapan layar medsos)

JAKARTA - Warga Tangerang Selatan dihebohkan dengan kemunculan dua pelangi secara bersamaan. Fenomena itu bisa dibilang langka, terutama di langit kawasan Jabodetabek. Diketahui, Wilayah Jabodetabek terus diguyur hujan beberapa waktu lalu.

Namun, hujan tersebut membuat langit di sekitar Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan dihiasi banyak pelangi, pagi ini, Sabtu (27/11/2021).

Baca juga:   Heboh Dua Pelangi Muncul Bersamaan di Ciputat

Menanggapi hal itu, Kepala Sub Koordinator Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ida Pramuwardani mengatakan, pelangi ganda tersebut dikarenakan terbentuk ketika sinar matahari dipantulkan dua kali dalam tetesan hujan, dengan cahaya ungu yang mencapai mata pengamat berasal dari titik hujan yang lebih tinggi dan cahaya merah dari titik hujan yang lebih rendah.

"Pelangi ganda adalah pemandangan indah di mana Anda mendapatkan dua tampilan alam yang spektakuler dengan harga satu. Fenomena ini sebenarnya relatif biasa terjadi, terutama pada saat matahari sedang rendah di langit seperti di pagi hari atau sore hari," kata Ida dalam keterangannya, Sabtu (27/11/2021).

Baca juga:  Hujan Terus Mengguyur Jabodetabek, Muncul Banyak Pelangi Pagi Ini

Kata Ida, pelangi kedua lebih redup dan nadanya daripada pelangi primer, karena lebih banyak cahaya yang lolos dari dua pantulan dibandingkan dengan satu pantulan. Pelangi sekunder juga tersebar di area langit yang lebih luas. Lebarnya hampir dua kali lipat dari busur utama.

Fitur utama dari pelangi ganda adalah bahwa urutan warna pada pelangi kedua dibalik, jadi alih-alih merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (ROYGBIV), warna muncul dalam urutan VIBGYOR. Pita gelap di antara dua pelangi dikenal sebagai pita Alexander, setelah Alexander dari Aphrodisias yang pertama kali mendeskripsikannya pada 200AD.

"Pita terbentuk karena antara sudut deviasi pelangi primer dan sekunder tidak ada sinar matahari yang dihamburkan oleh tetesan air hujan ke arah pengamat yang memberikan pita langit gelap," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini