Sosok Hoegeng: Tak Biarkan Anaknya Nikmati Fasilitas Negara

Tentya Noerani Dewi Richyadie, · Jum'at 26 November 2021 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 337 2507620 sosok-hoegeng-tak-biarkan-anaknya-nikmati-fasilitas-negara-8DQvPkd8W0.jpg Jenderal Hoegeng (Foto: Ist)

“Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tak bisa disuap : Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Hoegeng,” ucap Presiden ke empat Republik Indonesia , KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Taukah kamu siapa Hoegeng yang dimaksud Gus Dur dalam kata katanya di atas ? Ya, ia adalah Jenderal (Pol.) Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru.

Sebagai polisi, Hoegeng dikenal jujur, sederhana, dan tak kenal kompromi. Karenanya, Hoegeng dikatakan seperti Polisi tidur dan patung Polisi, ia tak bisa disuap. Ia adalah sosok teladan seorang polisi yang menjaga integritasnya sampai akhir hayat.

Dalam Buku Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan yang ditulis dari penuturan bekas asisten dan sekretaris pribadi Hoegeng, Soedharto Martopoespito. Keteladanan Hoegeng sebagai polisi dan birokrat patut dijadikan contoh. Hoegeng tak aji mumpung meski menjadi pemimpin dan pejabat negara. Ia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memberi surat izin bagi putranya menjadi taruna ABRI ketika itu, atau kemudahan bagi putrinya untuk sekadar lolos di perguruan tinggi negeri dengan jabatan yang dimilikinya.

Selain sempat menjabat sebagai Kapolri ke-5, Hoegeng juga sempat mengemban tugas dalam jabatan-jabatan sipil di sejumlah kementerian era Presiden Soekarno. Kedisiplinannya pun tergambar bukan hanya saat bertugas di Koprs Bhayangkara, tetapi juga di jabatan-jabatan sipil tersebut. Hoegeng sempat menduduki sejumlah jabatan sipil seperti Kepala Jawatan Imigrasi (kini Direktorat Jenderal Imigrasi) pada 1960, lalu Menteri Iuran Negara pada 1965, dan terakhir sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet tahun 1966.

Dalam buku tersebut, dikisahkan bahwa Hoegeng mengemban jabatan-jabatan sipil tersebut usai bertugas sebagai Kepala Bagian Reserse Kriminal Polda Sumatera Utara di Medan.

"Saat diberitahu akan menjadi Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kantor Kepolisian Provinsi Sumatera Utara, Hoegeng menyambutnya dengan antusias," tulis Suhartono dalam bukunya.

Kala itu, Medan dikenal bukan wilayah yang enteng bagi polisi jujur dan tak bisa kompromi. Sebelum mengemban bidang reserse itu, Hoegeng memiliki pengalaman bertugas di wilayah Jawa Timur sebagai Kepala Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN) atau kini dikenal sebagai bidang intelijen di kepolisian.

Ketika Hoegeng tiba di Medan untuk pertama kali, ia dihadapkan dengan pengusaha setempat yang menyiapkan 'upacara penyambutan' terhadap kehadiran pejabat polisi baru di wilayah itu. Hoegeng disuguhkan sebuah rumah beserta kendaraan untuk dirinya dan keluarga selama di Medan. Bahkan, panitia penyambutan telah menyiapkan sebuah hotel untuknya beristirahat. Namun, semua itu ditolak secara halus, termasuk sejumlah perabotan rumah tangga yang dikirimkan ke rumah dinasnya di Medan.

Usai ditarik kembali ke Jakarta pada 1960, karir Hoegeng sebagai polisi sempat tak menentu. Dia disebutkan akan menjadi Kadit Reskrim Komdak Metro Jakarta (nama lama Polda Metro Jaya), namun jabatan itu tak kunjung diperolehnya. Pasalnya,kala itu sedang terjadi perpecahan di tubuh kepolisian.

Tetapi tak menunggu lama, dia dipercaya Soekarno dan Menteri Koordinator Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata, Jenderal AH Nasution untuk menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada 19 Januari 1961. Kala itu, sosok Hoegeng dinilai cocok untuk mengemban tugas utama organisasi tersebut sehingga tak banyak diintervensi oleh pihak-pihak lain.

"Meskipun Papi pernah menjadi menteri dan Kapolri, kami hidup dalam ekonomi yang pas-pasan. Bahkan adakalanya kekurangan," ucap Putra Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan.

Sejak berhenti sebagai Kapolri hingga tahun 2001, uang pensiun Hoegeng hanya sekitar Rp10 ribu per bulan. Belum lagi, jumlah tersebut masih harus dipotong dengan urusan-urusan lain. Baru pada 2001, ada perubahan surat keputusan sehingga uang pensiun Hoegeng naik jadi Rp1,17 juta per bulan.

"Tapi setelah Papi meninggal pada 2004, Mami hanya menerima separuh karena Mami pensiunan janda Kapolri," tambah Aditya.

Saat mengemban jabatannya dia tak mau dikawal dan tidak mau mengambil jatah beras. Sang istri, Meriyati Roeslani (Meri), memiliki pengertian yang luar biasa akan prinsip hidup suaminya. Saat Hoegeng menjabat sebagai kapolri, ia tak mengizinkan istrinya menjadi Ketua Umum Bhayangkari, yang biasa dijabat istri kapolri.

“Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi,” ucap Hoegeng kepada istrinya.

Kepada anak-anaknya, Hoegeng juga bersikap tegas dan tanpa kompromi. Dia tak ingin anak-anaknya hidup manja dan menggantungkan diri pada jabatan ayahnya. Untuk mengajarkan kemandirian dan kerja keras, Hoegeng mengizinkan anak-anaknya berjualan koran dan kue. Anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, tak pernah merasakan fasilitas negara

Sebagai pejabat negara dan mantan Kapolri, Hoegeng tak memiliki apa-apa sampai wafatnya, kecuali kejujuran itu sendiri. Kisah hidup dan teladan Hoegeng Iman Santoso tentu bisa menjadi cermin perlunya sosok polisi yang bersahaja, terbuka, jujur, profesional, tanpa kompromi, dan anti-KKN. Keteladanan seorang polisi seperti Hoegeng diperlukan untuk mendorong perubahan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini