Kisah Hidup HOS Cokroaminoto, Bapak Bangsa dan Guru Proklamator Soekarno

Tentya Noerani Dewi Richyadie, · Kamis 25 November 2021 11:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 337 2507184 kisah-hidup-hos-cokroaminoto-bapak-bangsa-dan-guru-proklamator-soekarno-guRzTFuBWY.jpg HOS Cokroaminoto/ medsos

SETIAP tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Hari peringatan untuk pahlawan tanpa tanda jasa itu sudah menginjakkan yang ke-76.

Banyak sosok besar yang menjadi pendidik saat era kolonialisme. Salah satunya adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau dikenal HOS Cokroaminoto.

(Baca juga: Upacara Hari Guru Nasional, Nadiem: Pandemi Tak Padamkan Semangat Guru)

HOS Cokroaminoto merupakan seorang pahlawan nasional yang dijuluki Bapak Bangsa sekaligus pemimpin Sarekat Islam (SI). Ia memimpin SI sejak 1914 hingga akhir hayatnya. SI sempat menjadi salah satu organisasi massa terbesar dalam sejarah pergerakan nasional di bawah kendali HOS Cokroaminoto.

(Baca juga: KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah yang Juga Keturunan Sunan Gresik)

HOS Cokroaminoto lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur pada 16 Agustus 1882, dan mengembuskan napas terakhirnya di usia 52 tahun, tepatnya pada 17 Desember 1934. Ia merupakan keturunan bangsawan, ayahnya, R.M. Tjokroamiseno, seorang wedana atau asisten bupati. Sedangkan sang kakek, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah menjabat Bupati Ponorogo.

Pada 1902 , Cokroaminoto lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. OSVIA adalah sekolah bagi calon abdi negara pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tamat dari OSVIA, Cokroaminoto sempat bekerja di kesatuan pegawai administratif di Ngawi.

Cokroaminoto juga merupakan guru, dalam kiprahnya sebagai guru, ia mampu menghasilkan murid yang menjadi tokoh-tokoh berpengaruh bangsa yang tinggal di rumahnya. Seperti Sukarno presiden pertama Indonesia, Semaoen, Musso, hingga Maridjan Kartosoewirjo. Maka, tidaklah berlebihan jika Cokroaminoto mendapat gelar Bapaknya Bapak Bangsa.

Bukan hanya itu, Sukarno disebut meniru HOS Tjokroaminoto dalam berpenampilan. Salah satu yang Soekarno tiru ialah mengenakan kopiah seperti Tjokroaminoto. Padahal, sebelumnya Soekarno gemar mengenakan blangkon. Setelah itu, kopiah tak lagi menjadi identitas kalangan santri tapi sudah menjadi pakaian nasional.

Sepanjang perjalanan hidup Tjokroaminoto , ia bersentuhan langsung dengan perkembangan Sarekat Islam. Sejak usia 22 tahun Tjokroaminoto sudah aktif dalam organisasi tersebut. Pada 1912, atas saran Cokroaminoto, Haji Samanhoedi mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI).

Tak sampai disitu, HOS Tjokroaminoto juga mencetuskan pendirian cabang-cabang SI di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Puncaknya pada 13 Januari 1913, Tjokroaminoto memimpin rapat besar anggota organisasi tersebut di Surabaya yang dihadiri 80 ribu orang, Selang dua bulan setelah itu, pada 25 Maret 1913 di Surakarta, Cokroaminoto ditunjuk menjadi wakil Ketua CSI (Centraal Sarekat Islam) mendampingi Hadji Samanhoedi sebagai Ketua CSI yang berpusat di Solo.

Jabatan yang diembannya pun mengantarkan HOS Cokroaminoto menjadi Ketua Umum Sarekat Islam, menggantikan Samanhoedi. Terpilih pada 19-20 April 1914 pada saat kongres kedua yang berlangsung di Yogyakarta. Di tahun pertama kepemimpinan Tjokroaminoto, anggota resmi SI tercatat mencapai 400.000 orang. Kemudian Ia memimpin SI hingga akhirnya berubah menjadi partai politik hingga ia wafat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini