9 Daftar Pelaku Mafia Pajak, Ada yang Sempat Bikin Heboh Publik

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 25 November 2021 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 337 2507030 9-daftar-pelaku-mafia-pajak-ada-yang-sempat-bikin-heboh-publik-7SGRBoJEVA.jpg Angin Prayitno. (MNC Portal)

SEBAGAI parasit di dalam sistem pemerintahan, kasus korupsi yang melibatkan para pejabat harus diberantas hingga tuntas. KPK berperan penting dalam penyelidikan dan penangkapan oknum terduga korupsi di setiap lapisan pemerintahan. Hingga kini, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan memiliki banyak kasus korupsi yang dilakukan tikus-tikus berdasi. Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah daftarnya.

Gayus Tambunan

Kasus korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan sempat menjadi perbincangan hangat di tahun 2011. Kisah mengenai dirinya sempat diabadikan oleh Bona Paputungan dalam lagu berjudul ‘Andai Aku Gayus Tambunan’.

Mantan pegawai pajak ini terbukti bersalah atas penyalahgunaan wewenang, memanipulasi pajak, memberikan keterangan palsu, menyuap penyidik, hakim, serta jaksa yang menangani kasusnya. Beberapa kasus yang menjeratnya, antara lain:

Menyalahgunakan wewenang saat menangani keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal (SAT) sehingga merugikan negara Rp570,92 juta.

Terbukti turut serta memberikan uang kepada polisi senilai total 10.000 dolar AS.

Lalu memberikan uang kepada hakim sebesar 40.000 dolar AS saat berperkara di PN Tangerang. Memberikan keterangan palsu soal uangnya senilai Rp28 miliar yang diduga berasal dari hasil korupsi.

Awalnya Gayus divonis dengan hukuman 20 tahun penjara. Namun, keputusan akhir yang jatuh pada dirinya tanggal 19 Januari 2011 hanya membebankan hukuman 7 tahun penjara. Majelis hakim mempertimbangkan hal yang meringankan dakwaan terhadap Gayus Tambunan, antara lain terdakwa berterus terang, belum pernah menjalani hukuman, serta memiliki anak yang masih butuh bimbingan orangtua.

Tommy Hindratno

Salah seorang pegawai pajak, Tommy Hindratno, merupakan terdakwa kasus suap pengembalian pajak lebih bayar (restitusi) PT Bhakti Investama Tbk. Melansir berbagai sumber, ia terbukti menerima suap sebesar Rp280 juta dari Komisaris Independen PT BI Tbk., Antonius Z. Tonbeng, melalui terpidana kasus sama dan mantan pegawai pembukuan PT Agis Elektronik, James Gunaryo Budiraharjo. Uang itu merupakan imbalan karena Tommy telah membantu konsultasi pengembalian pajak lebih bayar PT Bhakti Investama Tbk., sebesar Rp3,4 miliar. Semula Jaksa Penuntut Umum menuntut Tommy dengan pidana penjara 5 tahun, ditambah denda sebesar Rp100 juta. Namun, beberapa pertimbangan meringankan hukuman penjaranya menjadi hanya selama 3,5 tahun.

Eko Darmayanto dan Muhammad Dian Irwan Nuqisra

Pada 2013, dua orang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perpajakan pada DJP, Eko Darmayanto dan Muhammad Dian Irwan Nuqisra, terbukti menerima suap sebesar 600 ribu dolar Singapura untuk pengurusan pajak PT The Master Steel. Mereka juga menerima Rp3,2 miliar terkait pengurusan pajak PT Delta Internusa, serta dana 150 ribu dolar AS untuk pengurusan kasus pajak PT Nusa Raya Cipta (NRC). Masing-masing terdakwa kemudian dijatuhi hukuman 9 tahun penjara serta denda sebesar Rp300 juta.

Handang Soekarno

Kasus tindak pidana suap kembali terjadi di kalangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perpajakan pada DJP, tahun 2017. Handang Soekarno terbukti menerima suap sebesar Rp1,9 miliar dari Direktur PT EK Prima Ekspor Indonesia (EKP), Ramapanicker Rajamohanan Nair. Dakwaan ini membuatnya divonis hukuman pidana penjara 10 tahun serta denda Rp500 juta. Vonis akhir ini lebih ringan dari tuntutan awal jaksa KPK, yakni 15 tahun penjara dengan denda Rp 750 juta.

Pargono Riyadi

Ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan wajib pajak dan pengurusan pajak kepada Asep Hendro. Pargono dijatuhi hukuman 4,5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.

Agoeng Pramoedya

Pegawai pajak KPP Madya Gambir, Jakarta Pusat, Agoeng Pramoedya, terbukti menerima suap dalam penjualan faktur pajak dari beberapa perusahaan, secara langsung maupun tidak langsung, dengan total Rp14 miliar.

Angin Prayitno Aji dan Wawan Ridwan

Kasus mafia pajak yang masih hangat diperbincangkan, dilakukan oleh mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan pada DJP, Angin Prayitno Aji. Ia terbukti terlibat dalam tindak pidana korupsi pemeriksaan perpajakan di tahun 2016-2017. Sedangkan Wawan Ridwan diduga sebagai kaki tangan Angin dalam melakukan aksinya. Ia merupakan Supervisor Tim Pemeriksa Pajak yang diberikan arahan khusus oleh Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani untuk memeriksa wajib pajak dari PT Gunung Madu Plantations (GMP) untuk tahun pajak 2016, PT Bank PAN Indonesia (BPI) untuk tahun pajak 2016, dan PT Jhonlin Baratama (JB) untuk tahun pajak 2016 dan 2017. Dari ketiga wajib pajak inilah pihak KPK mencurigai adanya kesepakatan suap agar nilai perhitungan pajak dapat dibelokkan. Dari uang suap yang diterima, Wawan diduga mendapat bagian sebesar 625.000 dolar Singapura dari keseluruhan uang suap yang diterima oleh pejabat DJP. (dilansir dari berbagai sumber/Andin Danaryati/Litbang MPI)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini