Ramalan Jayabaya soal Pulau Jawa Terbelah, Ini Penjelasan Ahli

Tim Okezone, Okezone · Rabu 24 November 2021 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 337 2506782 ramalan-jayabaya-soal-pulau-jawa-terbelah-ini-penjelasan-ahli-GTho3TZpuT.jpg foto: istimewa

JAKARTA - Prabu Jayabaya adalah raja di masa kerajaan Hindu Budha masih berkuasa di Nusantara.

Sri Mapanji Jayabaya memimpin Kerajaan Kediri pada 1135-1179. Dia juga dikenal dengan sebutan Warmeswara. Selama bertahta, Jayabaya dianggap berjasa atas penyatuan Kerajaan Kediri yang sebelumnya pecah di masa kepemimpinan Raja Airlangga.

Jayabaya dikenal dengan penegakan keadilan hingga pembawa masa kejayaan Kerajaan Kediri. Bahkan, ia dianggap sebagai perwujudan Dewa Hindu Wisnu. Jayabaya juga dikenal dengan sebutan sang Ratu Adil, raja yang lahir kembali di masa kegelapan dan penderitaan yang dikenal dengan sebutan “Jaman Edan.”

Selain itu, yang paling dikenal dari Jayabaya adalah ramalannya. Tidak sedikit ramalannya terjadi sesuai dengan prediksinya. Ramalan Jayabaya yang paling dikenal adalah kedatangan para penjajah kulit putih dan kulit jagung.

Ramalan ini ditulis pada masa Kerajaan Kediri periode 1051-1062. Ramalan tersebut berbunyi bahwa Pulau Jawa kelak akan diperintah bangsa kulit putih dan kemudian dari arah utara akan datang bangsa Katai yang berkulit kuning seperti jagung dan bermata sipit. Namun pemerintahan bangsa kulit kuning itu tidak lama, hanya seumur jagung seperti jenis warna kulitnya.

Baca juga: 4 Ramalan Jayabaya Paling Mengejutkan, Pulau Jawa Terbelah hingga Teror Bencana Alam

Ramalan Jayabaya yang satu ini benar terjadi di mana Indonesia kedatangan bangsa kulit putih, yaitu bangsa Belanda yang saat itu mendarat di Banten pada 1596 dibawah kepemimpinan Cornelis de Houtmen. Pada era 1811-1816, Pulau Jawa berada dibawah kepemimpinan Pemerintahan Inggris dan kemudian dikembalikan lagi kepada Belanda pada 19 Agustus 1816. Masa Pemerintah Belanda ini berlangsung hingga 350 tahun dan berakhir pada 1942.

Baca juga: Ramalan Ronggowarsito : Munculnya Pemimpin yang Bersenjata Dzikir

Pada 1942, Indonesia dibawah pemerintahan Jepang yang berlangsung 3,5 tahun yang berakhir pada 17 Agustus 1945. Masa pemerintahan Jepang ini berakhir saat pasukan Sekutu memborbadir dua kota di Jepang, yaitu Nagasaki dan Hiroshima pada 9 Agustus 1945 dan membuat Jepang menyerah kepada Sekutu dan melepaskan tanah jajahannya, salah satunya Indonesia.

Ramalan Jayabaya berikutnya adalah keberadaan kendaraan sebagai alat transportasi manusia. Jayabaya meramalkan bahwa akan ada kereta berjalan tanpa kuda (kereta api, sepeda motor dan mobil), kemudian pulau Jawa akan berkalung besi (rek kereta api) serta perahu terbang di angksa (maskapai penerbangan dan pesawat luar angkasa).

Ramalan ini juga tidak bisa ditepis lagi keberadaannya karena saat ini, mobilitas manusia sudah sangat dipermudahkan dengan keberadaan alat transportasi canggih sekaran ini.

Kemudian ada juga ramalan tentang perilaku manusia yang menyimpang, seperti seks bebas yang kian merajalela dan menyebabkan kehamilan di luar pernikahan. Dia juga berujar bahwa agama banyak ditentang, rasa kemanusiaan hilang hingga munculnya dunia tanpa batas yang terlihat dengan adanya teknologi komunikasi modern saat ini.

Baca juga: Jayabaya Bisa Disejajarkan dengan Archimedes atau Isaac newton

Ramalan Pulau Jawa Terbelah

Namun ada satu ramalan Jayabaya yang belum terbuktikan yakni membelahnya Pulau Jawa akibat meletusnya Gunung Slamet di Jawa Tengah. Berdasarkan catatan sejarah vulkanologi Gunung Slamet yang dilansir dari vsi.esdm.go.id, awal meletusnya Gunung Slamet terjadi pada 11-12 Agustus 1772. Letusan ini menghasilkan aliran lava hingga hujan abu vulkanik.

Letusan besar Gunung Slamet yang juga menghasilkan aliran lava dan hujan abu terjadi kembali pada 1930, 1932, 1953, 1955, 1958, 1973, dan 1988. Selain itu, aktivitas vulkanologi gunung ini hanya berupa peningkatan aktivitas yang diikuti dengan semburan abu, dentuman suara hingga kegempaan.

Baca juga: Teka-teki Ramalan Jayabaya Tanah Jawa Berkalung Besi & Bumi Makin Menyusut

Dari serangkaian letusan di Gunung Slamet, tidak ada indikasi yang tercatat secara saintifik bahwa Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua. Menurut analisa pakar vulkanologi, karakter letusan di Gunung Slamet bersifat ringan yang hanya menghasilkan luncuran abu serta batu pijar namun erupsi di Gunung Slamet ini berlangsung lama yang akhirnya membuat kawah gunung membesar.

Bisa jadi, makna terbelah menjadi dua ini diartikan sebagai Gunung Slamet yang ukurannya semakin membesar dan menjadi pembatas dua bagian di pulau Jawa atau bisa bermakna lain lagi.

Meskipun demikian, prediksi terkait letusan parah di Gunung Slamet juga tidak ditepis oleh pakar vulkanologi. Ahli vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Agung Harijoko mengatakan bahwa Gunung Slamet juga berpotensi mengalami letusan cukup besar di masa yang akan datang.

Agung juga menjelaskan bahwa dari peta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencama Geologi (PVMBG), Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 akan masuk ke arah Guci. Namun masih belum dapat diperkirakan kapan dan seberapa dahsyat letusan tersebut hingga kemungkinan dampak yang terjadi.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Kutai: Sumber, Lokasi hingga Peninggalan

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini