8 Fakta Memilukan Anak Panti Asuhan Diperkosa dan Disiksa, Otak Pelaku Terungkap

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 24 November 2021 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 337 2506768 8-fakta-memilukan-anak-panti-asuhan-diperkosa-dan-disiksa-otak-pelaku-terungkap-Ef9pqjTJQi.jpeg Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

MALANG - Bocah perempuan berusia 13 tahun yang tinggal di panti asuhan mengalami kejadian tragis. Korban diperkosa lalu disiksa oleh sejumlah anak-anak lainnya. Video penyiksaan yang beredar begitu mengiris hati.

Tujuh korban pelaku perundungan dan persetubuhan kepada akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka ini seiring gelar perkara yang dilakukan oleh kepolisian. 

Ada beberapa fakta menarik mengenai perundungan dan persetubuhan yang menimpa remaja berusia 13 tahun, yang telah dirangkum sebagai berikut: 

1. Disetubuhi Tetangganya

Sebelum jadi korban perundungan dan penganiayaan, korban diduga kuat mengalami pemerkosaan oleh tetangga panti asuhan tempat tinggal korban. Korban dihubungi pelaku kemudian diminta datang ke rumahnya.

Di sanalah diduga kuat korban dipaksa melakukan hubungan suami istri oleh pelaku pria, yang ternyata telah memiliki istri dan anak. 

"Kejadian itu terjadi di tanggal Kamis 18 November 2021 sekitar jam 10 (pagi), sampai Maghrib ada dua kejadian. Anak ini diperdaya disetubuhi itu terjadi di rumah pelaku di Teluk Grajakan. Setelah disetubuhi itu dibawa oleh teman-temannya untuk dianiaya," ucap salah satu kuasa hukum korban Leo Angga Permana, dari LBH Ikadin Malang Raya

2. Tinggal di Panti Asuhan

Korban sehari-harinya tinggal di panti asuhan Jalan Teluk Grajakan Gang XVII, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Ia adalah siswa kelas XI sebuah sekolah dasar swasta di Kota Malang. 

Kuasa hukum korban Leo Angga Permana menuturkan, korban sehari-harinya tinggal di panti asuhan karena keluarganya tak mampu. Sang ibu bermata pencaarian sebagai pembantu rumah tangga, sementara ayahnya adalah penderita gangguan jiwa alias ODGJ. 

"Jadi korban ini sehari-hari tinggal di panti asuhan itu, karena ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ayahnya ODGJ, karena tidak ada yang merawat dia tinggal di situ," ucap Leo.  

Baca juga: Anak Panti Asuhan Korban Pemerkosaan dan Penyiksaan Trauma Berat, Masih Didampingi Psikolog

3. Dianiaya Teman Sekitar Panti

Aksi perundungan yang viral terekam di video itu dilakukan di kawasan Perumahan Puri Palma, tak jauh dari tempat tinggal pelaku di Jalan Teluk Grajakan. Seluruh pelaku adalah tetangga sekitar panti, yang juga, mengenal korban. 

Aksi perundungan dan penganiayaan oleh delapan orang kemudian direkam dengan ponsel salah seorang pelaku yang ada di lokasi kejadian. Terlihat di video yang beredar, korban mengalami tendangan, pukulan, jambakan, bahkan cacian oleh temen-temannya.  

"Dianiaya di sekitar perumahan Puri Palma sekitar pukul 3, habis ashar dianiaya sampai setelah Maghrib, dianiaya 8 orang remaja, yang menganiaya ini teman dia main tetangga panti, anak sekitar panti tersebut. Pertama memancing korban oleh pelaku pertama untuk disetubuhi, baru kemudian setelah persetubuhan dibawa dan dianiaya," papar kuasa hukum korban.  

4. Motif Penganiayaan

Korban dirundung dan dianiaya karena hasutan perempuan yang juga istri pelaku pencabulan korban. Korban disebut sebagai pelakor.

Kasatreskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo menerangkan, istri pelaku persetubuhan kesal lantaran korban tidur dengan suaminya. Hal ini memicu istri pelaku persetubuhan menyeret korban untuk dirundung oleh teman-temannya. 

"Motif yang kita dalami dari para pelaku ini memang ada kekesalan karena melihat suami siri tidur dengan seorang perempuan. Dari sana membuat kekesalan daripada teman-teman dari istri. Inilah yang memicu kejadian tersebut," tutur Tinton. 

5. Pelaku Pasutri Nikah Siri

Diketahui bahwa dua pelaku persetubuhan dan perundungan adalah suami istri yang menikah secara siri. Keduanya menikah secara siri dan masih berstatus anak di bawah umur, di mana suaminya yang merupakan pelaku persetubuhan berusia di bawah 18 tahun. 

"Suami istri itu, adalah pasangan masih pernikahan siri. Belum secara resmi. Jadi kita anggap masih anak-anak, dan dalam undang-undang kita anggap sebagai anak-anak, karena pernikahannya secara agama bukan secara hukum Indonesia," ucap Tinton Yudha.  

Dari beberapa sumber yang didapat, pasutri ini menikah siri dan telah memiliki anak. Keduanya tinggal di Jalan Teluk Grajakan, Blimbing, Kota Malang. 

6. Pelaku Masih di Bawah Umur 

Kepolisian bertindak cepat usai menerima laporan dari tim kuasa hukum korban dan korban saat mendatangi Mapolresta Malang Kota, pada Jumat 19 November 2021. Kepolisian akhirnya mengamankan 10 orang terduga pelaku, termasuk satu pria yang diduga kuat menjadi pelaku pencabulan kepada korbannya.  

Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto menegaskan, para terduga pelaku seluruhnya adalah anak-anak di bawah umur. Maka pihaknya sangat berhati-hati melakukan penanganan kasus hukumnya. 

"Kami menyampaikan bahwa korban ini dan para pelaku statusnya masih anak-anak. Sehingga kami bekerja sama dengan psikolog, P2TP2A, dan Bapas dalam menangani kasus ini," ucap Buher, sapaan akrabnya. 

7. Tujuh Orang Jadi Tersangka 

Setelah melakukan gelar perkara berdasarkan keterangan saksi, analisa video, dan hasil visum, Polresta Malang Kota akhirnya menetapkan 7 orang tersangka.  

Kasatreskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo mengatakan, dari 7 orang itu, satu orang pelaku persetubuhan yakni pria yang telah menikah siri. Sedangkan enam orang lainnya adalah pelaku perundungan dan penganiayaan, dimana satu orang merupakan istri siri dari pelaku persetubuhan. 

8. Enam Orang Ditahan di Sel Khusus Anak 

Usai menetapkan 7 orang tersangka kasus perundungan dan persetubuhan, enam orang anak di bawah umur dipastikan ditahan kepolisian. Sementara satu orang tersangka tidak dilakukan penahanan karena berusia di bawah 14 tahun.  

"Dari 7 orang, 6 orang dilakukan penahanan di sel tahanan anak, satu orang tidak dilakukan penahanan, karena di bawah umur 14 tahun, sesuai undang-undang sistem peradilan anak di pasal 32, bahwa anak di bawah usia 13 tahun tidak bisa ditahan," ucap Tinton, saat memberikan keterangan di Mapolresta Malang Kota, pada Rabu pagi (24/11/2021).

Tinton menambahkan, bila enam orang tersangka berstatus anak - anak ini bakal menjalani penahanan selama 15 hari ke depan. Oleh karena itu, pihaknya bakal berkoordinasi dengan jaksa penuntut umum (JPU) mempercepat proses penanganan perkara.

Ketujuh orang anak yang ditetapkan tersangka dijerat dengan pasal berbeda. Enam orang tersangka sebagai pelaku pengeroyokan dan satu orang pelaku laki-laki ditetapkan tersangka pencabulan. 

"Ancaman yang persetubuhan 5 - 15 tahun penjara. (Yang pengeroyokan) pasal 170 ayat 2 ke 1 ancaman hukuman 7 tahun. Kita terapkan Undang - Undang Perlindungan Anak," tandas Tinton. 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini