KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah yang Juga Keturunan Sunan Gresik

Vilda Rizky Ananda, Okezone · Rabu 24 November 2021 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 337 2506683 kh-ahmad-dahlan-pendiri-muhammadiyah-yang-juga-keturunan-sunan-gresik-AvHQbnJdSD.jpg KH Ahmad Dahlan/ suara muhammadiyah

JAKARTA – KH Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. Pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan kemerdekaan nasional pada 27 Desember 1961, berdasarkan SK Presiden RI No.657 Tahun 1961.

Ahmad Dahlan mempunyai nama kecil Muhammad Darwisy. Pria kelahiran Kauman, Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868 ini merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara dengan ayah bernama KH Abu Bakar.

(Baca juga: Haedar Nashir Minta Panglima TNI Andika Perkasa Teladani Jenderal Soedirman)

Sang ibu yang bernama Siti Aminah merupakan putri dari H Ibrahim yang pada masa itu menjabat sebagai penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

(Baca juga: KH Ahmad Dahlan Ulama Pejuang Pelopor Pendidikan Modern di Indonesia)

Dilansir dari beragam sumber, Rabu (24/11/2021)  KH Ahmad Dahlan merupakan keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim atau disebut Sunan Gresik yang merupakan seorang wali besar dan terkemuka diantara Wali Songo, serta dikenal sebagai penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

KH Ahmad Dahlan semenjak kecil dididik di lingkungan pesantren. Lingkungan tersebut menjadi tempat dirinya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab.

Pada saat berumur 15 tahun, Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Mekah selama lima tahun.

Dimulai dari sinilah dia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaruan dalam dunia islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Pandangan dari tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembaruan pemahaman agama Islam. Di sebagian besar dunia Islam saat itu masih bersifat ortodoks (kolot), maka dari itu mereka dengan jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaruan itu untuk menampilkan corak keagamaan yang sama yaitu melalui Muhammadiyah.

Ortodoks ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) umat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbarui dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada Alquran dan Hadits.

Pada saat usia 20 tahun, KH Ahmad Dahlan pulang ke kampung halamannya. Sepulang dari Makkah, KH Ahmad Dahlan diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902-1904, KH Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Mekah.

Sepulang dari Makkah, dia menikah dengan Siti Walidah, saudara sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang pahlawan nasional dan pendiri Aisyiyah.

Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.

Disamping itu, KH Ahmad Dahlan pernah juga menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Dia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH Ahmad Dahlan juga mempunyai putra dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Dia pernah juga menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta.

Pada tahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. KH Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntutan agama Islam. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi , baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan, hasutan datang bertubi-tubi kepadanya.

Namun dia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan itu.

Pada tanggal 20 Desember 1912, dia mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914.

Namun, izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi itu. Maka dari itu, kegiatannya dibatasi.

Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri, dan lain-lain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda.

KH Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah.

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah.

Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).

Pada 23 Februari 1923 , pada usia 54 tahun KH Ahmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Kemudian dia dimakamkan di kampong Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini