Cekcok Arteria Dahlan-Wanita 'Anak Jenderal', Jubir Partai Perindo: Norma Kesantunan Harus Dijunjung Tinggi

Tim Okezone, Okezone · Selasa 23 November 2021 12:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 23 337 2506063 cekcok-arteria-dahlan-wanita-anak-jenderal-jubir-partai-perindo-norma-kesantunan-harus-dijunjung-tinggi-oE51RvNOYC.jpg Juru Bicara Partai Perindo Yerry Tawalujan (Foto: Perindo)

JAKARTA - Cekcok Arteria Dahlan dan ibunya dengan seorang wanita mengaku anak jenderal terjadi di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Dalam video yang viral, terlihat wanita yang terbilang masih muda itu membentak ibunda Arteria yang sudah berusia lanjut.

Juru bicara DPP Partai Perindo Bidang Sosial Yerry Tawalujan menyoroti kasus cekcok Arteria Dahlan-Wanita 'Anak Jenderal' itu. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan penyakit sosial dalam masyarakat.

"Ini tandanya ada penyakit sosial dalam masyarakat. Padahal, norma kesantunan dalam budaya kita, yaitu yang muda menghormati yang berusia lanjut, sopan santun dijunjung tinggi. Yang dipertontonkan dalam video cekcok itu adalah sikap mentang-mentang dan petantang-petenteng. Merasa sebagai anak jenderal dan kenal dengan petinggi-petinggi partai politik jadi bisa berbuat seenaknya pada orang lain dan mengabaikan kesantunan. Itu penyakit sosial namanya," ujar Yerry yang juga Ketua DPP Partai Perindo Bidang Sosial itu.

Baca Juga:  Mabes TNI Turun Tangan Usut Cekcok Ibu Arteria Dahlan dan Wanita Ngaku Anak Jenderal

Dalam ilmu komunikasi dikenal teori Patron-Klien, pemimpin sebagai Patron ditaati dan dihormati oleh pengikutnya sebagai Klien. Patron sebagai pemimpin mendapatkan penghormatan bahkan penundukan diri dari pengikutnya.

"Pada kasus ini, wanita 'Anak Jenderal' itu mempergunakan atau menyalahgunakan atribut sang patron, yaitu jenderal bintang tiga, dan merasa berhak memakai privilege untuk dihormati selayaknya sang patron. Disinilah penyakit sosialnya, jabatan publik seseorang dipergunakan oleh keluarga atau orang dekatnya, sehingga merasa orang lain juga harus tunduk menghormatinya," tegas Yerry.

Kasus ini seharusnya menjadi pembelajaran sosial untuk semua pihak agar bijak menempatkan diri dalam masyarakat.

"Jabatan yang melekat pada seseorang jangan dipertontonkan di ranah publik untuk mendapatkan penghormatan dan perlakuan khusus, apalagi kalau hanya mengaku ngaku kenal dengan pejabat," ujar Yerry.

Baca Juga: TB Hasanuddin: Pria yang Dampingi Wanita Pemaki Ibu Arteria Dahlan Berpangkat Brigjen

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini