Share

Membangkang ke Pajang, Panembahan Senopati Ditegur Pamannya Kacang Lupa Kulitnya

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 18 November 2021 07:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 337 2503531 membangkang-ke-pajang-panembahan-senopati-ditegur-pamannya-kacang-lupa-kulitnya-jCz4QPEPdI.jpg Panembahan Senopati (Foto: Ist)

SENOPATI Sutawijaya atau Panembahan Senopati terus melakukan pembangkangan kepada Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang. Padahal, Sultan Hadiwijaya merupakan guru dan bapak angkat dari Senopati Sutawijaya. Tetapi konon keinginannya untuk melepaskan Mataram dari kekuasaan Pajang begitu tinggi.

Konon paman Senopati Sutawijaya bernama Ki Juru Martani mencoba mengingatkan keponakannya. Beberapa kali ia mencoba menegur keponakannya itu seperti dikisahkan pada buku "Tuah Bumi Mataram : Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II" tulisan Peri Mardiyono. 

Baca Juga: Cerita Panembahan Senopati Ajak Menteri Kerajaan Pajang Pesta Miras dan Wanita

Kepada Senopati, sang paman menegur mengapa Senopati memiliki etika yang buruk kepada Sultan Hadiwijaya, orang yang membesarkannya dan merawatnya hingga dewasa. Sultan Hadiwijaya-lah yang mengajari Senopati ilmu kanuragan, sehingga membuat dirinya dihormati dan dimuliakan di Mataram. Bahkan Sultan Hadiwijaya memberikan tanah Mataram ke ayah Senopati Sutawijaya yang sekarang diwarisinya.

Rasa tak punya terima kasih seolah ditunjukkan oleh Sutawijaya kepada Sultan Pajang tersebut. Hal ini membuat sang paman Ki Juru Martani merasa malu melihat ulah keponakannya, yang disebutnya tidak tahu kebajikan dan cenderung seperti kacang lupa kulitnya.

Mendengar kritikan dan masukan dari pamannya, Sutawijaya akhrinya menangis menyadari kesalahannya. Ia pun meminta saran kepada pamannya, yang berujung permintaan sang paman agar Sutawijaya segera menghadap ke Pajang menemui Sultan Hadiwijaya. Tetapi ternyata saran itu tak sepenuhnya dijalankan Senopati Sutawijaya.

Baca Juga:  Siasat Cerdik Panembahan Senopati untuk Taklukkan Madiun

Ramalan dari Sunan Giri sudah membayangi pikiran dan hatinya. Tekadnya kian bulat untuk bisa menjadi raja dan menguasai Pulau Jawa, meski ditempuh dengan cara yang melanggar kebajikan, dan menyakiti orang yang selama ini membesarkannya. Senopati seolah diperbudak oleh nafsu dan ambisinya untuk menjadi raja, sehingga lupa dengan nilai - nilai etika, moral, dan kebajikan.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Senopati sangat yakin dengan apa yang diramalkan oleh Sunan Giri, bahwa dirinya bakal menjadi raja. Taktik pun diambil Senopati, ia akhirnya bersedia sowan kepada Sultan Hadiwijaya di Pajang, tetapi ambisinya masih membara. Senopati yakin bila ramalan itu benar dan sudah menjadi keniscayaan alam, tentu ia akan tetap menjadi raja meskipun dirinya menaruh hormat kepada Pajang.

Suatu ketika akhirnya Senopati benar - benar dikukuhkan sebagai raja di Mataram, ia bergelar Panembahan Senopati. Maka syarat utamanya harus berani membangkang terhadap Pajang. Ia pun menolak kertas bahkan berjanji untuk tidak menghadap ke Pajang. Sikap Senopati Sutawijaya jni justru menggambarkan dirinya seolah ragu dengan ramalan Sunan Giri.

Sebab jika benar - benar yakin dengan ramalan Sunan Giri, Senopati tentunya harus yakin bahwa Pajang, tanpa melalui politik pembangkangan atau pemberontakan, suatu saat Pajang tetap akan runtuh dan akan tergantikan dengan Kerajaan Mataram.

Di sisi lain ramalan Sunan Giri juga diyakini oleh Sultan Hadiwijaya, ia pun menerima lapang dada dan percaya andaikan ramalan Sunan Giri ini benar - benar terjadi. Artinya Sultan Hadiwijaya ini sudah pasrah dan ikhlas, tak menghalangi suratan takdir tentang lahirnya raja besar di Mataram.

Tetapi sayang sikap Senopati ini terkesan kurang baik kepada Kerajaan Pajang dan Sultan Hadiwijaya sebagai penguasanya. Niatnya untuk melakukan perlawanan dan pembangkangan kian tinggi pasca pertemuannya dengan Sultan Hadiwijaya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini