Share

Misteri Omah Demit di Klaten, Wujudnya Terlihat Jelas tapi Tak Ada Warga yang Bisa Memasukinya

Agregasi Solopos, · Rabu 17 November 2021 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 337 2503395 mister-omah-demit-di-klaten-wujudnya-terlihat-jelas-tapi-tak-ada-warga-yang-bisa-memasukinya-38xjB7iw01.jpg Omah Demit di Klaten masih menyimpan banyak misteri (Foto: Solopos/Taufiq Sidik)

KLATEN – Bagi warga yang biasa melintasi jalan Klaten-Rawa Jombor, tentu sudah tidak asing dengan Omah Demit yang berdiri di atas bukit di Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Keberadaan Omah Demit itu menjadi misteri. Pasalnya, walau tampak terlihat jelas dengan pandangan mata, tak ada warga yang bisa memasuki rumah peninggalan zaman kolonial Belanda itu.

Deretan bukit kapur kokoh berdiri di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat. Kawasan tersebut dipopulerkan dengan nama Bukit Patrum Photorium.

Diantara deretan bukit, ada salah satu bukit yang terpisah dengan ujung bukit terdapat rumah kecil. Sekeliling rumah ditumbuhi rumput serta tanaman. Tak ada jalan untuk menuju ke rumah itu. Rumah tersebut kerap dikenal dengan nama Omah Demit. Tak ada yang tinggal di rumah tersebut pun halnya dengan isi rumah kosong.

Keberadaan rumah yang kokoh berdiri sendiri di ujung bukit tersebut tak bisa terpisahkan dengan sejarah masa lalu kawasan perbukitan yang dikenal sebagai lokasi pertambangan kapur. Pertambangan itu aktif pada masa kolonial Belanda.

Bukit yang ada rumahnya tersebut pada masa lalu menyambung dengan perbukitan lainnya. Rumah itu menjadi salah satu tempat untuk menyimpan dinamit atau bahan peledak yang digunakan untuk memecah batu kapur. “Dinamit dimasukkan ke bukit kemudian pecah,” kata Kepala Desa Krakitan, Nurdin, Rabu (10/11/2021).

Sebagian pecahan batu kapur dibawa ke wilayah Gondang, Kecamatan Jogonalan untuk campuran bahan bakar pabrik gula. Sementara, sebagian lainnya diolah untuk campuran bahan bangunan. Selepas masa kolonial, kawasan perbukitan tersebut masih digunakan untuk kegiatan pertambangan kapur.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Kawasan perbukitan itu tak lagi aktif untuk pertambangan kapur pada 1980-an. Nurdin mengatakan awalnya masih ada akses menuju bekas rumah dinamit tersebut saat kawasan perbukitan masih menyambung.

Rumah tersebut juga kerap digunakan untuk tempat istirahat para penambang. Namun, perbukitan yang menghubungkan rumah tersebut dengan perbukitan lainnya ambrol.

“Dulu masih menyambung. Karena faktor alam dan efek dari kegiatan pertambangan, akhirnya ambrol. Waktu ambrol itu saya masih TK,” jelas Nurdin.

Kawasan perbukitan tersebut pada 2017 ditata dan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) menjadi objek wisata alam bernama Bukit Patrum Photorium. Namun, objek wisata tersebut ditutup sejak ada pandemi Covid-19.

“Belum ada rencana untuk dibuka lagi. Karena satu sisi harus ada pembenahan lagi fasilitas-fasilitas yang ada di sana,” kata dia.

Kawasan perbukitan yang terdapat satu rumah tersebut dulunya sering digunakan latihan panjat tebing komunitas pecinta alam. “Tetapi kami peringatkan dulu agar tidak digunakan untuk kegiatan tersebut. Karena kami juga belum punya safety dan pengawasan,” ungkap dia.

Salah satu warga Dukuh Mojopereng, Misdi, 66, mengatakan dulunya ada dua rumah di ujung perbukitan tersebut. Lantaran faktor usia, salah satu rumah roboh. Dia juga menjelaskan dulunya kawasan perbukitan menyambung.

Soal akses menuju bekas rumah dinamit, Misdi mengatakan tak ada akses menuju ke tempat tersebut. ”Tidak bisa didatangi. Tidak ada jalannya. Sekarang di rumah itu sudah tidak ada isinya apa-apa,” kata Misdi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini