Share

3 Korban Pelecehan Seksual yang Justru Dilaporkan Balik Terduga Pelaku

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 17 November 2021 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 337 2503134 3-korban-pelecehan-seksual-yang-justru-dilaporkan-balik-terduga-pelaku-aN77jbwPNm.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Nasib nahas menimpa para korban pelecehan seksual ini. Alih-alih ingin membagikan kisahnya perihal pengalaman pahitnya, mereka justru dituntut balik oleh pelaku karena dinilai telah mencemarkan nama baik. Berikut kisahnya.

1. Mataram, NTB

Guru honorer asal Mataram, NTB berinisial BN melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya pada Maret 2017. Melansir Sindonews, BN mengalami pelecehan dari atasannya berinisial M di tahun 2012.

Kala itu, M menelepon korban dan membahas pengalaman seksualnya dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Jika BN tak menanggapi, M akan tersulut emosi. Tak sekali, kejadian semacam itu terjadi beberapa kali.

Hingga timbul kabar burung yang menyatakan bahwa korban memiliki hubungan spesial dengan M. Karena tidak ingin selalu dipandang negatif dan merasa telah dilecehkan, maka BN berinisiatif merekam percakapannya dengan M. Hal itu dimaksudkan untuk membuktikan jika ia tidak memiliki hubungan khusus dengan atasannya itu.

BN menyimpan rekaman itu dan menceritakan kepada rekannya, I. Rekaman itu juga ditransfer ke laptop milik I. Ternyata, rekaman itu tersebar dan diketahui oleh M. Alhasil, M melaporkan kejadian tersebut ke Polres Mataram dengan menuding BN melakukan pelanggaran UU ITE.

BN diancam penjara 6 bulan dan denda sebesar Rp 1 miliar. Di tahun 2019, BN mendapat amnesti dari Presiden Joko Widodo. Melalui Keppres yang ditandatanganinya, Jokowi menyatakan BN bebas murni. Bahkan, ia akan sangat senang jika BN ingin bertemu dengannya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

2. DKI Jakarta

Publik Tanah Air sempat dihebohkan dengan kasus pelecehan seksual yang terjadi di instansi KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).

Kasus itu ramai menjadi perbincangan pada September 2021, setelah seorang korban berinisial MS membagikan pengalaman pahitnya itu ke akun media sosialnya.

Menurut MS, peristiwa itu terjadi sejak awal ia bergabung dengan KPI pusat di tahun 2011. Ketika itu, dirinya sering mendapat perundungan dan makian dari para seniornya di instansi tersebut. Bahkan, di tahun 2015 MS sempat pula mendapatkan pelecehan seksual. Usai kejadian, korban mengaku tertekan, trauma dan stres. Akan tetapi, ia tidak bisa berbuat banyak karena khawatir akan kehilangan pekerjaan.

Mengutip Sindonews, pihak KPI sebenarnya sudah pernah menyelesaikan persoalan ini secara internal. Yakni dengan memindahkan korban ke ruang lain, yang terpisah dengan pelaku. Namun, perundungan dan pelecehan tetap saja diterimanya.

Karena kasusnya langsung melesat dan mendapat kritikan tajam dari masyarakat, terduga pelaku berusaha melaporkan balik korban lantaran takut keluarganya menjadi sasaran perundungan di media sosial. Akan tetapi, keputusan terduga tersangka ini justru menjadi bumerang. Ia semakin dipojokkan publik karena dinilai memutarbalikkan fakta dan mencari kesalahan korban.

3. Luwu Timur, Sulawesi Selatan

Kasus pencabulan 3 anak oleh ayahnya terjadi di Luwu Timur pada 2019. Ibu korban yang berinisial RS melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian. Tak berselang lama usai laporan dibuat, ketiga korban melakukan visum di puskesmas.

Hasilnya, tidak ada kelainan pada kelamin dan dubur korban. Hasil visum juga menunjukkan tidak ada luka yang diderita para korban. RS kemudian membawa anak-anaknya untuk melakukan visum di rumah sakit. Hasilnya, ditemukan peradangan pada kelamin dan dubur korban.

Meskipun sudah terjadi 2 tahun lalu, namun kasus ini kembali ramai diperbincangkan publik. Sebab, penyelidikannya diketahui berhenti. Ibu korban meminta pertolongan agar mendapatkan keadilan.

Kejadian itu disampaikan oleh seorang pengguna Twitter lalu menjadi viral. Informasi terbaru, terduga pelaku justru melaporkan balik ibu korban ke pihak kepolisian pada 16 Oktober 2021. Selain itu, terduga pelaku dengan inisial SF ini juga melaporkan pemilik akun Twitter tersebut. Ia beranggapan bahwa nama baiknya telah tercemar.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini