Share

Ramalan Sabdopalon, Pageblug di Pulau Jawa 'Pagi Sakit Sore Mati'

Mohammad Adrianto S, Okezone · Sabtu 13 November 2021 06:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 12 337 2500972 ramalan-sabdopalon-pageblug-di-pulau-jawa-pagi-sakit-sore-mati-j49owh7rhs.jpg Sabdopalon (Foto: Youtube)

JAKARTA - Kejatuhan Majapahit berawal dari candrasengkala dengan bunyi "sirna ilang kretaning bumi " dibaca sebagai 0041, memiki arti sebagai tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Sengkala sendiri bisa dipahami sebagai “sirna hilanglah kemakmuran bumi”.

Beberapa sumber menjelaskan candrasengkala adalah gugurnya Bre Kertabumi atau Brawijaya V, raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

"Padahal, Brawijaya V sebenarnya tidak gugur, ketika Keraton majapahit diserang, Brawijaya V lolos dari kepungan prajurit Girindrawardhana. Dia menyamar sebagai pendeta Budha, kabur bersama abdi dalemnya Sabdopalon Noyogenggong. Mereka mempunyai tujuan ke Gunung Lawu. Sehingga Brawijaya dikenal dengan nama Eyang Lawu," ungkap Mas Syarif Hidayat, paranormal yang tinggal di Jababeka, Cikarang, Bekasi.

Baca Juga:  Nasib Tragis Gajah Mada, Jadi Buronan Pasukan Majapahit di Akhir Hayatnya

Sabdopalon adalah abdidalem yang sakti mandraguna. Mas Syarif Hidayat melanjutkan, Sabdopalon akan pergi selama 500 tahun, dan berjanji akan datang kembali di bumi Tanah Jawa (tataran nusantara) dibarengi dengan sejumlah tanda.

Tanda utamanya yaitu muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya, dengan baunya yang tidak sedap dan disusul bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdopalon telah datang.

Di dunia pewayangan, situasi ini dilambangkan dengan judul, “Semar Ngejawantah”. Secara hakekat, nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” memiliki dua simbol yang menyatu, yaitu Hindu – Budha (Syiwa Budha).

Dalam kepercayaan Islam, dua satuan ini berbentuk dua kalimat Syahadat. Sementara di Bali, simbol tersebut dilambangkan dengan apa yang kita kenal sebagai “Sad Kahyangan Jagad”, yang memiliki arti delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi.

Baca Juga: Situs Tempat Bersembahyang Ditemukan di Tuban, Diduga Berasal dari Zaman Pra-Majapahit

Sementara dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo merupakan sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa lain. Gunung Merapi melambangkan hakekat tempat atau sarana menitisnya dewa ke bumi.

"Hal ini berhubungan dengan ramalan Sabdopalon tentang tanah Jawa. Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. Mereka berbicara, Sabdopalon mengatakan, kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa," papar Mas Syarief.

Ibarat seorang menyeberang sungai dan sedang berada di tengah-tengah, tiba-tiba sungainya banjir besar dan menghanyutkan sejumlah manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

Bahaya ini perlahan menyebar ke seluruh tanah Jawa, dan tidak bisa terhindarkan karena sudah menjadi kehendak Tuhan, karena dunia ini berada di genggaman-Nya. Ini bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuat.

Terdapat berbagai bencana yang membuat tanah Jawa rusak. Ini menyebabkan orang-orang bekerja tanpa hasil mencukupi, para priyayi banyak yang susah hatinya, saudagar selalu mengalami kerugian, begitu juga orang-orang pertanian.

Penghasilan mereka banyak yang hilang di hutan, karena di Bumi sendiri sudah mulai berkurang hasilnya. Terdapat banyak hama menyerang, dan hilangnya kayu.

Ini menimbulkan kerusakan hebat, sebab orang-orang berebutan, tidak hanya itu, ini juga merusak moral manusia. "Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan," ungkapnya.

Mereka melupakan undang-undang karena tidak sanggup menahan lapar. "Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati," lanjut Mas Syarief.

Bencana-bencana melanda, mulai dari hujan tidak tepat waktu, angin besar menerjang dan merobohkan pohon-pohon, dan sungai meluap dan menyebabkan banjir, menghanyutkan kayu, warga, dan bebaguan.

Gunung-gunung besar mengeluarkan lahar panas dan menghancurkan desa maupun hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali.

Semuanya hancur sampai tidak ada yang tertinggal. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanah pun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.

"Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia," pungkasnya. (ari)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini