Share

Horornya Mako Kopassus Kandang Menjangan, Tempat Serda Ucok Ditempa hingga Markas Untung Surapati

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 12 November 2021 15:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 12 337 2500858 horornya-mako-kopassus-kandang-menjangan-tempat-serda-ucok-ditempa-hingga-markas-untung-surapati-qieollaVQp.jpg Markas Kopassus Kandang Menjangan/ wikipedia

JAKARTA – Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mempunyai beberapa markas komando yang tersebar di Pulau Jawa. Salah satunya adalah markas Kopassus Grup 2 di Kandang Menjangan, Kartasura.

(Baca juga: Miliki Kolam Terdalam, Kopassus Ternyata Mempunyai Pasukan Katak yang Menyelam Tanpa Alat)

Menyebut Kandang Menjangan, tidak lepas dari nama anggota Kopassus Group II Kandang Menjangan Kartasura, Serda Ucok Tigor Simbolon. Prajurit baret merah ini sebelumnya divonis 11 tahun penjara karena terbukti mengeksekusi empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Keempatnya adalah Yohanes Juan Manbait, Gamaliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Benyamin Sahetapy Engel. Mereka bertanggung jawab atas kematian Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe yang juga senior Serda Ucok di Korps Baret Merah.

(Baca juga: Hikayat Pasukan Komando Baret Merah yang Dibentuk Eks Sopir Ratu Wilhelmina)

Markas Kandang Menjangan terlihat sama saja seperti asrama-asrama Kopassus yang rapi, bersih, dan berestetika tipikal TNI. Sama sekali tidak terbayang bahwa ada sebuah bangunan bersejarah yang cukup kuno di dalamnya, pesanggrahan milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Lokasi yang menjadi Markas Kopassus Grup 2 di Kartasura ini berada di atas lahan seluas 250 hektare yang dulunya merupakan lahan yang diberikan Sunan Amangkurat III (1703-1705) dari Kerajaan Mataram berpusat di Keraton Kartasura, kepada Bupati Pasuruan Untung Surapati.

Wilayah yang diberikan kepada Untung Surapati ini berada di sebelah barat Keraton Kartasura yang dikenal dengan nama Kampung Babirong. Kampung ini menjadi tempat bersembunyi dan berlatih perang bagi pengikut Untung Surapati yang berhasil meng-ambush pasukan VOC bersenjata lengkap di bawah Kapitan Francois Tack dan ratusan prajuritnya pada Februari 1686.

“Ketika kekuasaan beralih kepada Pakubuwono I dan ibu kota Keraton Kasunanan berpindah lagi ke Surakarta, wilayah ini dijadikan pesanggrahan keraton lengkap dengan segara dan juga tempat untuk menjerat hewan sehingga kemudian dienal dengan sebutan “grogolan”. Grogol adalah perangkap hewan,” tulis buku Kopassus untuk Indonesia yang dikutip, Jumat (12/11/20021).

Sejarawan Surakarta Heri Priyatmoko yang mengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menerangkan, Sunan Amangkurat II hingga Sunan Pakubuwono II telah menggunakan Kawasan Kandang Menjangan sebagai tempat rusa berbiak untuk diburu para bangsawan dalam kesempatan khusus.

Untuk mencegah rusa melarikan diri dari Kandang Menjangan, sekeliling kawasan tersebut dipagari balok kayu jati. Ribuan rusa berkembang biak dan pada waktu tertentu diadakan acara perburuan. Lokasi ini sempat terlantar Ketika ibu kota Matarm pindah ke Desa Sala (kini Kota Surakarta) pada 1744 menyusul hancurnya Keraton Surakarta sebagai dampak Perang Geger Pacinan melawan VOC pada 1740-1743.

Pada masa kekuasaan Sunan Pakubuwono IV (1788-1820), tepatnya pada 1811 diadakan pembenahan bekas lahan Keraton Kartasura. Hewan-hewan peliharaan dipindahkan Kembali ke bekas lahan Keraton Kartasura termasuk termasuk kawanan rusa sehingga Kandang Menjangan hidup Kembali.

Saat ini, sebagian bangunan pesanggrahan itu masih berdiri utuh dan berada di bagian belakang Markas Grup 2 Kopassus. Bangunan dipelihara dan masih terlihat baik, walaupun dibiarkan kosong.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini