KPK Perpanjang Penahanan Bupati Bintan Apri Sujadi Selama 30 Hari

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Rabu 10 November 2021 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 10 337 2499558 kpk-perpanjang-penahanan-bupati-bintan-apri-sujadi-selama-30-hari-mzkT4mmLXi.jpeg Apri Sujadi. (Foto: Antara)

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang penahanan Bupati Bintan Apri Sujadi (AS) selama 30 hari ke depan. Apri sendiri telah ditetapkan tersangka dalam kasus korupsi terkait pengaturan barang kena Cukai dalam pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Wilayah Kabupaten Bintan Tahun 2016 s/d 2018 

Selain, Apri, tim penyidik juga memperpanjang penahanan tersangka lainnya, yakni Plt Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Wilayah Kabupaten Bintan, Mohd. Saleh H. Umar (MSU).

"Tim Penyidik memperpanjang masa penahanan tersangka AS dkk untuk masing-masing selama 30 hari ke depan berdasarkan penetapan kedua dari Ketua PN Tipikor Tanjung Pinang terhitung mulai 10 November 2021 s/d 9 Desember 2021,"ujar Plt Juru bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (10/11/2021).

Ali mengungkapkan nantinya Apri bakal ditahan ditahan di Gedung Merah Putih. Sedangkan Umar bakal ditahan di tahan di Gedung KPK Kavling C1. 

Baca juga: KPK Endus Dugaan Kongkalikong Anggota DPRD Kepri dengan Bupati Bintan

"Pemberkasan perkara para Tersangka, hingga saat ini masih berjalan dengan mengagendakan pemeriksaan saksi-saksi yang terkait dengan perkara," ungkap Ali.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan Bupati Bintan Apri Sujadi (AS) dan Plt Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Wilayah Kabupaten Bintan, Mohd. Saleh H. Umar (MSU) sebagai tersangka.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka korupsi terkait Pengaturan Barang Kena Cukai Dalam Pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Wilayah Kabupaten Bintan Tahun 2016-2018. 

Diduga Apri dari tahun 2017 sampai dengan 2018 menerima uang sekitar sejumlah Rp 6,3 Miliar dan Umar dari tahun 2017 sampai dengan 2018 diduga menerima uang sekitar sejumlah Rp800 juta. Akibat ulah Apri dan Saleh, negara dirugikan Rp 250 miliar.

Atas perbuatannya, AS dan MSU disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-undang 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini