Share

Kisah Pengorbanan Yos Sudarso dan KRI Macan Tutul di Pertempuran Laut Aru

Riezky Maulana, iNews · Rabu 10 November 2021 09:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 10 337 2499463 kisah-pengorbanan-yos-sudarso-dan-kri-macan-tutul-di-pertempuaran-laut-aru-3zqGABmnWL.jpg Yos Sudarso. (Foto: IG Kemhan)

JAKARTA - Hari Pahlawan di Indonesia diperingati pada 10 November setiap tahunnya. Peringatan ini didasarkan pada Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno.

Membicarakan Hari Pahlawan, tak lengkap nampaknya tanpa sosok pahlawan nasional Laksamana Madya Anumerta Yosaphat "Yos" Sudarso. Dirinya dan anak buahnya gugur dalam tugas bersama KRI Macan Tutul di pertempuran Laut Aru, perairan Maluku, tanggal 15 Januari 1962, melawan kapal perang Belanda.

Dari infografis yang diunggah Kementerian pertahanan (Kemhan) di akun Instagram resminya, Yos Sudarso rela mengorbankan diri agar dua KRI lain milik Indonesia, yaitu KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang bisa selamat.

"Tembakan meriam Belanda membakar KRI Macan Tutul. Dan sebelum tenggelam, ia meneriakkan perintah 'Kobarkan terus semangat pertempuran'," tulis Kemhan dikutip Rabu (10/11/2021).

Kemhan menuturkan, kisah kepahlawanan Yos dkk bermula pada Desember Tahun 1961. Saat itu, Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat atau Trikora guna membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda.  

Baca juga: Hari Pahlawan, Jokowi: Bangsa Ini Semakin Kokoh Bagaikan Karang

Patroli di daerah-daerah pun ditingkatkan, yang mana Yos Sudarso mengomandoi langsung patroli tersebut. Akhirnya pada 15 Januari 1962, Yos beserta anak buahnya berangkat patroli ke Laut Aru, Maluku.  

Saat patroli, Yos membawa tiga unit kapal jenis Motor Torpedo Boat (MTB). Misi patroli yang bersifat senyap itu ternyata ketahuan oleh pihak Belanda. 

Tak tinggal diam, Belanda langsung mengejar dengan kapal perusak yang dimilikinya. KRI Macan Tutul yang ditumpangi akhirnya menjadi umpan agar dua KRI lain dapat melarikan diri. 

Ketika dalam kondisi terdesak, perintah dari Yos Sudarso kepada para awak hanya satu, yaitu laksanakan pertempuran. Akan tetapi, kekuatan yang tak berimbang harus dibayar mahal, KRI Macan Tutul beserta seluruh awak ya harus gugur dan tenggelam. 

Yos Sudarso meninggalkan seorang istri bernama Siti Mustini, dan 3 orang anak. Putranya yang terkecil saat itu baru berusia 18 bulan.

Sebagai tanda penghargaan pemerintah atas jasa-jasanya, selain Bintang Dharma yang diterimanya, pangkat Komodor Yos Sudarso dinaikkan satu tingkat menjadi Laksmana Muda anumerta. Penghargaan tertinggi diberikan pemerintah berupa gelar pahlawan nasional pada 1973, dengan Surat Keputusan Presiden Nomor R088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

"Semoga semangat dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh para pahlawan, dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan bangga menjadi bagian dari NKRI," pungkas Kemhan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini