Share

Mengenal Arya Damar, Ahli Mesiu Majapahit yang Jejaknya Misterius

Aan haryono, Koran SI · Selasa 09 November 2021 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 09 337 2498788 mengenal-arya-damar-ahli-mesiu-majapahit-yang-jejaknya-misterius-pKo5gb7KBU.jpg Illustrasi Arya Damar (foto: istimewa)

KERAJAAN MAJAPAHIT begitu kuat di masa kejayaannya. Kumpulan kekuatan itu tak lepas dari hadirnya ahli perang yang mampu mengunci pergerakan musuh dan majunya peradaban Majapahit waktu itu. Salah satunya senjata perang yang bisa membuat langkah musuh untuk berjalan mundur.

Nama Arya Damar tak akan pernah pudar. Meskipun jejaknya misterius, ia tetaplah seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-15 Masehi sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Ia juga banyak dikenal dengan nama lainnya seperti Ario Damar atau Ario Abdilah.

Baca juga:  Nasib Tragis Gajah Mada, Jadi Buronan Pasukan Majapahit di Akhir Hayatnya

Menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang, Arya Damar juga memiliki nama Tionghoa yaitu Swan Liong (Naga Berlian). Namanya tanpa nama marga di depannya, karena ibunya merupakan wanita peranakan Tionghoa.

Arya Damar Pada Mulanya Adalah Kepala Pabrik Mesiu atau orang yang dipercaya mengurusi kebutuhan Mesiu untuk militer Majapahit terutamanya sebagai bahan peledak Meriam yang saat itu pabriknya didirikan di Semarang. Keahliannya dalam bidang Mesiu dan Persenjataan Modern di Zamannya, akhirnya Arya Damar dipindahkan oleh Ratu Kerajaan Majapahit ke Palembang, disana ia diangkat menjadi seorang Adipati.

Dipilihnya Arya Damar sebagai Adipati Palembang tentu mempunyai alasan tersendiri, sebab waktu Itu Palembang merupakan salah satu pangkalan barat angkatan laut Majapahit di luar Jawa. Sehingga memerlukan Pimpinan yang paham betul soal senjata, terutamanya Meriam dan Mesiunya. Kekuatan itu yang melambungkan namanya.

Baca juga:  Situs Tempat Bersembahyang Ditemukan di Tuban, Diduga Berasal dari Zaman Pra-Majapahit

Arya Damar juga dikenal ketika dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343. Dengan gagah perkasa, ia memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara, sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama.

Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan desa Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri.

Arya Damar kembali ke Majapahit untuk melaporkan kemenangan di Ularan. Pemerintah pusat yang saat itu dipimpin Tribhuwana Tunggadewi marah atas kelancangannya, yaitu membunuh musuh yang sudah menyerah. Arya Damar pun dikirim kembali ke medan perang untuk menebus kesalahannya.

Arya Damar tiba di Bali bergabung dengan Gajah Mada yang bersiap menyerang Tawing. Disini, sempat terjadi kesalahpahaman, dimana Arya Damar menyerbu lebih dulu sebelum datangnya perintah. Namun keduanya akhirnya berdamai sehingga pertahanan terakhir Bali pun dapat dihancurkan.

Baca juga: Ketika Tikaman Belati Ra Tanca kepada Raja Majapahit Buka Jalan Trah Singasari

Seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan. Pemerintahan Bali kemudian dipegang oleh adik-adik Arya Damar, yaitu Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang. Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Ia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.

Sejarawan Cornelis Christiaan Berg memberikan catatan kritis dan menjelaskan kalau Arya Damar identik dengan Adityawarman, yaitu penguasa Pulau Sumatra bawahan Majapahit. Nama Adityawarman ditemukan dalam beberapa prasasti yang berangka tahun 1343 dan 1347 sehingga jelas kalau ia hidup sezaman dengan Arya Damar.

Menurut Berg, Arya Damar adalah penguasa Sumatra, Adityawarman juga penguasa Sumatra. Karena keduanya hidup pada zaman yang sama, maka cukup masuk akal apabila kedua tokoh ini dianggap identik. Di samping itu, karena Adityawarman adalah putra Dara Jingga, maka Arya Damar dan adik-adiknya juga dianggap sebagai anak-anak putri Melayu tersebut.

Namun asumsi ini belum tentu betul karena daerah yang dipimpin Adityawarman bukan Palembang, melainkan Pagaruyung, sedangkan kedua negeri tersebut terletak berjauhan. Palembang sekarang masuk wilayah Sumatra Selatan, sedangkan Pagaruyung berada di Sumatra Barat.

Sementara itu, berita Tiongkok dari Dinasti Ming (1368-1644) menyebutkan bahwa di Pulau Sumatra terdapat tiga kerajaan dan semuanya adalah bawahan Pulau Jawa (Majapahit). Tiga kerajaan tersebut adalah Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung. Dengan demikian, Arya Damar bukan satu-satunya raja di Pulau Sumatra, begitu pula dengan Adityawarman. Karena itu, Arya Damar tidak harus identik dengan Adityawarman.

Meskipun Arya Damar dan Adityawarman hidup pada zaman yang sama, serta memiliki jabatan yang sama pula, tetapi keduanya belum tentu identik. Arya Damar adalah Raja Palembang sedangkan Adityawarman adalah Raja Pagaruyung. Keduanya merupakan wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Sumatra.

Arya Damar adalah pahlawan legendaris sehingga nama besarnya selalu diingat oleh masyarakat Jawa. Dalam naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi, tokoh Arya Damar disebut sebagai ayah tiri Raden Patah, raja Demak pertama.

Dikisahkan ada seorang raksasa wanita ingin menjadi istri Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad). Ia pun mengubah wujud menjadi gadis cantik bernama Endang Sasmintapura, dan segera ditemukan oleh patih Majapahit (yang juga bernama Gajah Mada) di dalam pasar kota. Sasmintapura pun dipersembahkan kepada Brawijaya III untuk dijadikan istri.

Namun, ketika sedang mengandung, Sasmintapura kembali ke wujud raksasa karena makan daging mentah. Ia pun diusir oleh Brawijaya III sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan. Putra sulung Brawijaya III itu diberi nama Jaka Dilah.

Setelah dewasa Jaka Dilah mengabdi ke Majapahit. Ketika Brawijaya ingin berburu, Jaka Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan di halaman istana. Brawijaya III sangat gembira melihatnya dan akhirnya sudi mengakui Jaka Dilah sebagai putranya.

Jaka Dilah kemudian diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Arya Damar. Sementara itu Brawijaya V telah menceraikan seorang selirnya yang berdarah Tiongkok karena permaisurinya yang bernama Ratu Dwarawati (Putri Campa) merasa cemburu. Putri Tiongkok itu diserahkan kepada Arya Damar untuk dijadikan istri.

Arya Damar membawa putri Tiongkok ke Palembang. Wanita itu melahirkan putra Brawijaya V yang diberi nama Raden Patah. Kemudian dari pernikahan dengan Arya Damar, lahir Raden Kusen. Dengan demikian terciptalah suatu silsilah yang rumit antara Arya Damar, Raden Patah, dan Raden Kusen.

Setelah dewasa, Raden Patah dan Raden Kusen meninggalkan Palembang menuju Jawa. Raden Patah akhirnya menjadi raja Demak pertama, dengan bergelar Panembahan Jimbun.

Kisah hidup Raden Patah juga tercatat dalam kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang. Dalam naskah itu, Raden Patah disebut dengan nama Jin Bun, sedangkan ayah tirinya bukan bernama Arya Damar, melainkan bernama Swan Liong (Naga Berlian).

Swan Liong adalah putra raja Majapahit bernama Yang-wi-si-sa yang lahir dari seorang selir Tiongkok. Mungkin Yang-wi-si-sa sama dengan Hyang Wisesa atau mungkin Hyang Purwawisesa. Kedua nama ini ditemukan dalam naskah Pararaton.

Swan Liong di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat perguruan agama Islam di Surabaya, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

Swan Liong di Palembang memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi raja Majapahit. Mungkin Kung-ta-bu-mi adalah ejaan Tionghoa untuk Bhre Kertabhumi. Dari wanita itu lahir dua orang putra bernama Jin Bun (Orang Kuat) dan Kin San (Gunung Emas).

Pada tahun 1474 Jin Bun dan Kin San pindah ke Jawa untuk berguru kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Tahun berikutnya, Jin Bun mendirikan kota Demak sedangkan Kin San mengabdi kepada Kung-ta-bu-mi di Majapahit.

Tidak diketahui dengan pasti sumber mana yang digunakan oleh pengarang kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong di atas. Kemungkinan besar si pengarang pernah membaca Pararaton sehingga nama-nama raja Majapahit yang ia sebutkan mirip dengan nama-nama raja dalam naskah dari Bali tersebut. Misalnya, si pengarang kronik tidak menggunakan nama Brawijaya yang lazim digunakan dalam naskah-naskah babad.

Jika dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi, isi naskah kronik Tiongkok Sam Po Kong terkesan lebih masuk akal. Misalnya, ibu Arya Damar adalah seorang raksasa, sedangkan ibu Swan Liong adalah manusia biasa. Ayah Arya Damar sama dengan ayah Raden Patah, sedangkan ibu Swan Liong dan Jin Bun berbeda.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini