Usut Kasus Dugaan Pencabulan 3 Anak di Luwu Timur, Polisi Periksa 52 Saksi

Puteranegara Batubara, Okezone · Senin 08 November 2021 18:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 08 337 2498661 usut-kasus-dugaan-pencabulan-3-anak-di-luwu-timur-polisi-periksa-52-saksi-cvpwgfUdO8.jpg Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan. (Foto : MNC Portal Indonesia/Felldy Utama)

JAKARTA - Polisi memeriksa 52 saksi terkait kasus dugaan pencabulan tiga anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel).

"Masalah Luwu Timur, jadi sekarang Polres Luwu Timur telah melakukan pemeriksaan terhadap 52 orang saksi," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Jakarta, Senin (8/11/2021).

Ramadhan menuturkan, ke-52 orang saksi tersebut berasal dari berbagai unsur. Mulai dari ibu korban hingga dokter yang melakukan pemeriksaan terhadap korban.

"Ya macam-macam. Termasuk pemeriksaan terhadap ibu korban. Ada juga teman kerjanya, ada juga di situ dokter puskesmas, dokter rumah sakit vale, 52 pokoknya ya," ujar Ramadhan.

Menurut Ramadhan, dari hasil pemeriksaan puluhan orang tersebut, pihaknya belum menemukan adanya tanda kekerasan terhadap anak tersebut.

"Sampai saat ini belum ditemukan, hasil pemeriksaan keterangan 52 ini belum ditemukan adanya kekerasan terhadap 3 anak tersebut," ucap Ramadhan.

Sebelumnya, tim penyidik sudah melakukan penyelidikan dengan mengambil keterangan dalam bentuk BAP kepada dokter IM, yaitu dokter yang memeriksa ketiga korban di RS Vale Sorowako.

Lalu, penyidik akan dalami hasil pemeriksaan dari tempus atau waktu 25 Oktober sampai diperiksanya ketiga korban pada 31 Oktober 2019.

Baca Juga : 5 Fakta Mengejutkan Ayah di Luwu Timur Diduga Cabuli 3 Anaknya, Ini Temuan Polisi

“Kenapa? Karena disampaikan bahwa pemeriksaan visum tanggal 9 Oktober 2019, dokter menyatakan tidak ada kelainan. Pemeriksaan kedua 24 Oktober, dokter menyatakan tidak ada kelainan,” ucap Ramadhan.

Namun, kata dia, pemeriksaan medis oleh ibu korban RS pada 31 Oktober 2019, itu menunjukkan ada kelainan oleh dokter IM. Tapi, hal itu tidak bisa disampaikan vulgar karena hasil visum tidak bisa dibuka.

“Penyidik akan mendalami peristiwa Tempus atau waktu mulai tanggal 25 Oktober-31 Oktober 2019. Orang tua korban melakukan pemeriksaan sampai 4 atau 5 kali dan terakhir tanggal 10 Desember 2019,” ujarnya.

Hingga saat ini, Ramadhan mengatakan tim maupun penyidik di Polda Sulawesi Selatan maupun Polres Luwu Timur masih bekerja melakukan penyelidikan. Untuk itu, ia meminta masyarakat percayakan kepada Polri penanganan kasus ini.

“Perbedaan itu, adanya visum dan pemeriksan medis secara mandiri dan dengan waktu yang berbeda. Sehingga, penyidik mendalami peristiwa dengan Tempus atau waktu mulai tanggal 25-31. Kita tunggu,” tutup Ramadhan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini