Share

Biografi TB Simatupang, Jenderal yang Tidak Akur dengan Presiden Soekarno

Mohammad Adrianto S, Okezone · Jum'at 05 November 2021 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 05 337 2496970 biografi-tb-simatupang-jenderal-yang-tidak-akur-dengan-presiden-soekarno-ziigghPFSv.jpeg TB Simatupang (ketiga kanan). (Foto: Istimewa)

JAKARTA - TB Simatupang merupakan salah satu pahlawan nasional. Dalam catatan biografi TB Simatupang, dia merupakan orang tertinggi di TNI menggantikan Jenderal Soedirman.

Siapa tidak pernah mendengar nama jalan TB Simatupang di Jakarta? Nama jalan tersebut diabadikan di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Tahi Bonar Simatupang merupakan nama dari seorang Letjen Purnawirawan asal Sumatera Utara. Simatupang menerima gelar pahlawan nasional pada tahun 2013. Dia salah satu konseptor peletak dasar-dasar kemiliteran Indonesia.

Karier militer Simatupang diawali saat ia masuk ke Koninklije Militaire Academie (KMA) Bandung pada tahun 1940. Setelah menempuh pendidikan selama 2 tahun, Simatupang lulus sebagai perwira muda.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Simatupang bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dia mempunyai keunggulan di bidang organisasi dan manajemen ketentaraan. 

Saat itu tidak banyak perwira yang menguasai masalah tersebut. Simatupang turut bergerilya bersama Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman melawan pasukan Belanda. Selama perang tersebut, ia pun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WKSAP) RI pada tahun 1948 hingga 1949.

Dalam kedudukannya, Simatupang ikut mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.

Baca juga: Mengenal Gafur Chaliq, Perintis Pasukan 'Hantu Laut' Denjaka

Ketika Jenderal Sudirman wafat pada tahun 1950, Simatupang diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KSAP) dengan pangkat Mayor Jenderal hingga tahun 1953. Jabatan KSAP secara hirarki organisasi pada waktu itu berada di atas Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Laut, Kepala Staf Angkatan Udara, dan di bawah tanggung jawab Menteri Pertahanan.

“Pak Sim dalam tempo enam tahun telah menjadi mayor jenderal dengan jabatan KSAP yang merupakan jabatan tertinggi dalam angkatan bersenjata RI. Mungkin karir militer seperti itu tak akan ada yang menyamai dalam sejarah Republik Indonesia,” kata Letjen Purn Sayidiman Suryohadiprojo dalam buku 70 Tahun Dr TB Simatupang, Saya Adalah Orang Yang Berhutang terbitan Pustaka Sinar Harapan, dilansir dari jakarta.go.id. 

Selama masa jabatannya, terjadi peristiwa 17 Oktober 1952 masa gelombang demonstrasi di Jakarta yang menuntut pembubaran parlemen. Pada tahun 1953, Presiden Sukarno mengurangi wewenang Simatupang di AD. Sukarno juga menghapus jabatan KSAP, kini disebut Panglima TNI – kemudian tahun 1954, Simatupang diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. 

Cerita ini berawal dari usaha rasionalisasi dan profesionalisasi ABRI yang dilaksanakan TB Simatupang yang bertujuan untuk meningkatkan mutu tentara, mendapat kritik dari para politisi. Pemikiran ini pun berbeda pandangan dengan Bung Karno.

Perselisihan ini berawal dari peristiwa 17 Oktober 1952, ketika tentara menghadapkan moncong meriam ke Istana dan meminta Presiden membubarkan Parlemen. Aksi yang dilakukan oleh Nasution dan kawan-kawan ini membuat Simatupang dituduh terlibat dalam peristiwa tersebut. 

Simatupang bisa jadi merupakan salah satu nama yang tidak disukai oleh Presiden Soekarno hingga akhir dia menjabat. Ditengarai peristiwa itu membuat Sang Proklamator marah besar kepada TB Simatupang.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Melansir buku ‘Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos’, ini lantaran TB Simatupang menolak memenuhi permintaan Sukarno untuk memecat Kolonel AH Nasution yang pada Juli 1952 menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). TB Simatupang menilai itu akan jadi preseden buruk di masa depan jika seorang Presiden bisa seenaknya memecat atau mengangkat seseorang di tubuh militer.

Perbedaan pendapat yang tajam antara Simatupang dan Bung Karno berakhir pencoptan dirinya dan dengan dihapuskannya jabatan KSAP pada 1954. Dia lalu ditunjuk sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan. Sebelum menjadi Penasihat Militer, Simatupang ditawari jabatan sebagai Duta Besar namun ditolaknya.

Ia pensiun muda pada 1959 dan memilih aktif dalam kegiatan gereja dan menulis buku. Melalui tulisan, ia membekali perwira-perwira di sekolah militer. Buku pertama yang ia tulis adalah ‘Laporan dari Banaran’. Buku ini mengisahkan tentang perannya dalam Revolusi Kemerdekaan.

Pada 2013, Presiden SBY memberikan gelar pahlawan nasional kepada TB Simatupang dan namanya diabadikan di jalan besar di kawasan Cilandak. Simatupang meninggal pada tahun 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini