Share

BMKG Prediksi Puncak Fenomena La Nina Akan Terjadi pada Januari-Februari 2022

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 29 Oktober 2021 09:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 29 337 2493536 bmkg-prediksi-puncak-fenomena-la-nina-akan-terjadi-pada-januari-februari-2022-aLbjGSCq0j.jpg Illustrasi (foto: dok Okezone)

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengingatkan potensi terjadinya fenomena perubahan iklim La Nina. Diperkirakan puncak La Nina akan terjadi pada Januari-Februari 2022.

Dwikorita mengatakan, hal ini berdasarkan data dari perkembangan suhu muka laut di Samudera Pasifik ekuator yang mulai mengalami anomali hingga minus 0,92 yang sebelumnya 0,63.

“Baru saja ini kami mendapatkan perkembangan suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator semakin mendingin lagi yang saat ini anomalinya sudah mencapai minus 0,92 yang tadinya baru minus 0,63 yang mengindikasi penguatan intensitas. Artinya apabila mencapai 1 itu artinya sudah mulai terjadi La Nina dengan intensitas moderat. Artinya penguatan ini semakin meningkat,” katanya dalam Rakornas BMKG, Jumat (29/10/2021).

Baca juga:  Antisipasi Dampak La Nina, BPBD Diminta Siaga Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi Basah

Tidak hanya dari data BMKG, namun juga pusat iklim dunia juga mendeteksi adanya penurunan suhu laut. Sehingga, diprediksi La Nina akan terjadi hingga level moderat pada Februari, dan puncaknya diprediksi pada Januari-Februari 2022.

“Demikian juga pusat pelayanan iklim dunia lainnya seperti di Amerika oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), di Australia, dan di Jepang memperkirakan bahwa La Nina ini setidaknya akan terjadi hingga level moderat hingga bulan Februari 2022. Dan diprediksi puncaknya berada di bulan Januari dan Februari tersebut,” paparnya.

Baca juga:  BMKG : La Nina Dapat Ancam Sektor Pertanian dan Perikanan

Dwikorita mengatakan berdasarkan evaluasi La Nina tahun lalu yang intensitasnya serupa dengan terjadi yang diprediksi saat ini lemah hingga moderat.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

“Tahun lalu mengakibatkan peningkatan curah hujan dari 20 persen hingga 70 persen di atas normalnya,” bebernya.

Tahun lalu, kata Dwikorita peningkatan curah hujan ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi Selatan.

“Dan ini diperkirakan atau diprediksi menunjukkan peningkatan curah hujan secara konsisten terutama sepanjang November 2020 hingga Januari 2021 lalu," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini