Sumpah Pemuda, Dubes RI untuk Australia Minta PPI Dunia Perkuat Misi People to People Diplomacy

Tim Okezone, Okezone · Kamis 28 Oktober 2021 21:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 28 337 2493409 sumpah-pemuda-dubes-ri-untuk-australia-minta-ppi-dunia-perkuat-misi-people-to-people-diplomacy-qJaXSPMr49.jpg Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto. (Foto: Istimewa)

CANBERRA - Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S. Legowo mengatakan, pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri merupakan aset penting yang dapat memperkuat hubungan Indonesia dengan negara mitra. Hubungan antarnegara dapat terjadi dalam beberapa tingkatan, seperti government to government, business to business dan bisa juga people to people. Dalam konteks hubungan luar negeri, hubungan people to people yang baik antara kedua negara dapat membantu mempererat hubungan antar pemerintah.

Hal ini disampaikan Kristiarto saat pelantikan pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia Periode 2021-2022. Pelantikan yang dihadiri secara daring oleh sekitar 250 orang aktivis dan pengurus PPI di seluruh dunia ini bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda Ke-93.

Dalam arahan pelantikannya, Kristiarto mengingatkan kepada mahasiswa bahwa mereka adalah kelompok elite yang mendapatkan kesempatan terbaik untuk bisa belajar di luar negeri, oleh karena itu akan datang saatnya di mana mereka harus berkontribusi bagi bangsa dan negara.

“Memperkuat misi people to people diplomacy juga merupakan bagian dari kontribusi bagi Negara, karena hubungan baik antar dua Negara tidak hanya bergantung pada hubungan antar pemerintah, tapi juga hubungan antar masyarakatnya,” ucap Kristiarto.

Baca juga: Mahfud MD: Mahasiswa di Luar Negeri Duta Bangsa Pembawa Citra Positif Indonesia

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi ada sebanyak 8,31 persen dari total penduduk berusia 15 tahun ke atas. Mayoritas penduduk Indonesia, yaitu 65 persen berpendidikan kurang dari SMP. Jika dilihat lagi, mereka yang berkesempatan kuliah di luar negeri, tentu jumlahnya akan lebih sedikit lagi.

Dijelaskan Kristiarto, mahasiswa yang saat ini sedang kuliah di luar negeri sesungguhnya merupakan bagian dari kelompok elite yang sedang mendapatkan privilege yang luar biasa. Oleh karena itu, kiranya penting untuk disadari bahwa hak istimewa ini juga harus bersamaan dengan kewajiban moral untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa dan Negara.

Kepada para pemimpin PPI seluruh dunia, Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu ini juga mengajak untuk sama-sama meneledani perjuangan para pemuda untuk mempersatukan Tanah Air, bangsa dan bahasa di Indonesia. Menurut Kristiarto, para pendiri bangsa kita ketika itu juga adalah orang-orang yang semangat dalam menuntut ilmu, mereka belajar di sekolah tinggi, bahkan sampai ke luar negeri. Namun, ditengah kesibukannya menuntut ilmu itu, mereka tetap meluangkan waktunya untuk berpikir dan berbuat bagi negerinya.

“Kita ingat pada awal tahun 1900-an, para pemuda dan pelajar berjuang agar suku-suku yang ada di Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, mau bersatu, mau mengikatkan diri pada tumpah darah yang satu, mau mengikrarkan diri sebagai bangsa yang satu, dan mau menjunjung tinggi bahasa yang satu yaitu Indonesia. Dengan kebulatan tekad untuk bersatu itu, dengan semangat persatuan yang kuat, maka perjuangan membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajah saat itu menjadi semakin hebat, sehingga hari ini kita bisa bersyukur karena kita sama-sama dapat menikmati buah perjuangan mereka yaitu kita hidup di alam kemerdekaan yang penuh kedamaian,” jelas Kristiarto.

Sementara itu, pada saat yang sama KBRI Canberra bersama PPI-Canberra dan Darma Wanita Persatuan (DWP) menyelenggarakan Upacara Sumpah Pemuda. Para mahasiswa dengan pakaian adat daerah masing-masing, para staf KBRI dengan berpakaian batik serta ibu-ibu pengurus DWP bersemangat mengikuti upacara sampai selesai. Dalam kesempatan itu pula para mahasiswa bersama-sama membacakan ikrar sumpah pemuda. Dengan segenap kesadaran, mereka berikrar untuk bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu dan menjunjung tinggi bahasa yang satu, yaitu Indonesia.

Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan (ATDIKBUD) KBRI Canberra, Mukhamad Najib, mahasiswa yang terlibat dalam ikrar sumpah pemuda ini adalah mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Australia National University (ANU) dan University of Canberra (UC).

“Sebenarnya banyak diantara mahasiswa Indonesia yang ingin bersama-sama mengikuti upacara, namun karena masih diterapkannya protokol kesehatan yang membatasi jumlah orang yang boleh hadir, maka hanya pengurus PPI Canberra saja yang bisa hadir secara luring,” ucap Najib.

Namun begitu, meski tidak seluruh mahasiswa bisa hadir langsung, hal itu sama sekali tidak mengurangi makna dan kehidmatan dari acara peringatan hari sumpah pemuda yang sudah berusia 93 tahun ini. Najib menyampaikan harapannya agar mahasiswa Indonesia di Australia kelak bisa menjadi agent of change yang bisa membawa kemajuan bagi Indonesia.

Saat ini, tambah Najib, negara sedang melakukan investasi besar-besaran dalam bidang sumber daya manusia dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa untuk bisa belajar di manca Negara.

“Tentu saya berharap mereka bisa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dan yang tidak kalah penting lagi mereka harus menyadari bahwa ilmu yang mereka peroleh nanti bukan hanya untuk mereka sendiri. Mereka harus ingat akan jasa-jasa para pahlawan, mereka harus ingat bahwa mereka sangat diharapkan untuk bisa kembali dan berkontribusi bagi tanah air yang telah dibebaskan dari penjajahan oleh para pahlawan dahulu,” tutup Najib.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini