Saran Gubernur Lemhannas Hadapi Gap Antargenerasi

Tim Okezone, Okezone · Kamis 28 Oktober 2021 12:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 28 337 2493116 saran-gubernur-lemhannas-hadapi-gap-antargenerasi-acBCjlo7j5.jpg Saran gubernur lemhanas hadapi gap antargenerasi/ MPI

JAKARTA- Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menyoroti gap antargenerasi dan peranan generasi sebelumnya bagi generasi milenial maupun generasi Z. Menurutnya, semua pihak harus berbagi peran dengan generasi baru karena cara pandang generasi muda berbeda dengan zaman sebelumnya, sehingga cara berpikir, bersikap dan bertindak akan berbeda.

(Baca juga: Gubernur Lemhanas Yakin Pemuda Telah Banyak Berkontribusi Meski Tak Tertangkap Publikasi)

Demikian diutarakan Agus Widjojo saat menghadiri Webinar Gebyar Wawasan Kebangsaan bertema “Peran Generasi Muda sebagai Agen Perubahan dalam Upaya Menjaga Eksistensi Bangsa Indonesia di Era Digital dan Globalisasi”. Lemhannas menghadirkan narasumber Angkie Yudistia, Staf Khusus Presiden dan Leani Ratri Oktila, peraih medali emas Paralimpiade 2020 cabang olahraga bulu tangkis.

(Baca juga: Gubernur Lemhanas Yakin Pemuda Telah Banyak Berkontribusi Meski Tak Tertangkap Publikasi)

"Kita harus menghargai dan belajar dari generasi masing-masing. Mengutip kata Kahlil Gibran, generasi muda adalah anak panah, kami generasi tua hanyalah busur yang menyiapkan dan melesatkan anak panah," kata dia, Kamis (28/10/2021).

Gubernur Lemhannas meyakini peran para pemuda-pemudi Indonesia memberikan sumbangsih bagi pembangunan bangsa.

"Walaupun ada yang jauh dari hingar bingar publikasi, tapi saya yakin mereka (para pemuda-pemudi) sudah terlibat, mempersiapkan diri, memberi karya nyata dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa sesuai Marwah dari Sumpah Pemuda," kata Agus.

Sementara itu, Angki menjawab pertanyaan arti sumpah pemuda dengan semangat optimisme. Sesuai tema Sumpah Pemuda, bersatu, bangkit, dan tumbuh. Bersatu artinya berdiri bersama, bangkit berarti menyongsong masa depan dan tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang visioner dan membuat Indonesia menjadi negara terhormat. "Maknanya adalah membangun optimisme, bagaimana kita bersatu, berkolaborasi guna membuktikan prestasi dengan karakter dan bakat kita", ujar Angki.

Leani membagikan pengalamannya dalam paralimpiade 2020 yang dia ikuti dan meraih medai emas. Dorongan yang terbersit waktu itu adalah ia ingin mencetak sejarah dan menjadi bagian untuk adik-adik disabilitas dan perempuan Indonesia dengan menunjukkan prestasi. "Selama 41 tahun sebelumnya belum pernah mendapat kita medali emas, maka saya ingin berprestasi", ungkap Leani.

Diketahui, dalam sejarah sebelum Indonesia merdeka, para pemuda memegang peran penting. Kita mengenal adanya perkumpulan mahasiswa di Belanda yang mendirikan organisasi Perhimpunan Indonesia (PI) pada tahun 1908. Pemrakarsa PI ialah Sutan Kesayangan dan R.N. Noto Suroto. Tokoh-tokoh yang tergabung diantaranya Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Majalah Hindia Belanda pada tahun 1923 memuat deklarasi PI yang memakai kata "Bangsa Indonesia". Akhirnya pada tahun 1925 deklarasi tersebut berkembang menjadi manifesto politik. Aksi kegiatan tersebut membuat pemerintah Belanda merasa terancam dengan adanya organisasi pergerakan nasional.

Selain itu, dalam buku Indonesia dalam Arus Sejarah (2013), pada tanggal 7 Maret 1915 berdiri sebuah perkumpulan pelajar bernama Tri Koro Dharmo. Anggotanya terdiri dari para pelajar bumiputera dari sekolah-sekolah dan perguruan yang ada di Jawa. Tujuan perkumpulan pelajar tersebut ialah untuk mengubah cara pandang para pemuda akan kondisi yang terjadi di Hindia Belanda.

Sementara, dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda (1974), setelah Tri Koro Dharmo, muncul berbagai perkumpulan pemuda kedaerahan, diantaranya Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Islaminten Bon, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), dsb. Karena mempunyai kesamaan tujuan, akhirnya muncul inisiatif penggabungan perhimpunan pemuda yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Istilah "Sumpah Pemuda" justru muncul tiga dekade setelah adanya kongres.

Adapun Kongres Pemuda II menghasilkan keputusan yang dinamakan Putusan Kongres, sebagai berikut :

Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia

Pertama: Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku Bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.

Kedua: Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Ketiga : Kami Putera dan Puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Dengan digelarnya Gebyar Wawasan Kebangsaan, Lemhannas RI berharap dapat memberikan semangat kepada para pemuda yang tengah berjuang di masa kini untuk menggapai cita-cita untuk tetap terus melakukan hal positif di tengah situasi pandemi. Terlebih tahun 2045 diproyeksikan menjadi masa emas bagi Indonesia. Pada 2045, Indonesia akan memiliki bonus demografi, dimana angka usia produktif lebih banyak dibandingkan usia tidak produktif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini