Saat Intel Belanda Intai Peristiwa Sumpah Pemuda

Mohammad Adrianto S, Okezone · Rabu 27 Oktober 2021 13:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 27 337 2492526 saat-intel-belanda-intai-peristiwa-sumpah-pemuda-35eIojB7ad.jpg Saat intel belanda intai peristiwa sumpah pemuda/ repro okezone

JAKARTA - Sumpah Pemuda yang terjadi tanggal 28 Oktober 1928. merupakan salah satu peristiwa bersejarah di Indonesia yang memelopori kebangkitan perjuangan di Indonesia melawan penjajah.

(Baca juga: Isi Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Sejarahnya)

Peristiwa ini bermula dari Kerapatan atau Congres (Kongres) Pemuda I pada 1926, dimana sekumpulan pemuda dan pelajar Indonesia mengadakan rapat. 2 tahun kemudian, mereka berkumpul lagi dalam Kongres Pemuda II (27–28 Oktober 1928).

Kala itu, mereka sepakat semangat kebangsaan untuk meleburkan diri, tanpa embel-embel suku maupun budaya, melainkan sebagai pemuda Indonesia Tujuan mereka satu, melepaskan belenggu penjajahan Belanda.

(Baca juga: Para Tokoh dan Makna Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928)

Namun, siapa sangka, dalam perjuangan mereka membebaskan diri dari Belanda, sang penjajah justru secara langsung memantau pergerakan ini? Okezone pernah melakukan wawancara terhadap pemandu Museum Sumpah Pemuda bernama Bakti Ari mengenai kejadian beberapa waktu lalu.

Perlu diketahui, Kongres Pemuda II itu sendiri dilaksanakan pada malam Minggu pada tanggal 27 Oktober, dan dilaksanakan di aula perkumpulan Katholieke Jongenlingen Bond di Waterlooplein, pada pukul 19:30-23:300 malam. Aula Gereja Katedral sendiri sudah menjadi Lapangan Banteng, berlokasikan di Jakarta Pusat.

Di tanggal 28 Oktober, kongres kembali diasakan kali ini berlangsung pukul 8:00-12:00. Lokasinya pun tidak lagi di aula Gereja Katedral

"Setelah di Waterlooplein, hari kedua pindah ke Bioskop Jawa atau Oost-Java Bioscoop. Kalo sekarang sudah jadi tempatnya Kimia Farma. Baru pada malamnya, tempat kongres (kedua) lanjutan di sini yang dulu namanya Gedung Kramat 106. Penutupannya di sini, pencetusan Sumpah Pemudanya juga di sini. Termasuk pertama kali dimainkannya lagu ‘Indonesia Raya’ ciptaan WR (Wage Rudolf) Soepratman,” ungkap Ari.

Perlu diketahui, lagu kebangsaan Indonesia Raya kali pertama tidak dimainkan di sebuah tempat mewah, melainkan hanya di sebuah indekos milik orang Tionghoa.

Di malam itu juga, WR Soepratman juga sebenarnya menyiapkan lirik untuk Indonesia Raya. Tetapi, karena satu dan lain hal, dirinya hanya bisa melantunkan lagu kebangsaan ini menggunakan biola buatan Nicolaus Amateus Fecit.

Rupanya, yang tidak diketahui oleh masyarakat umum adalah kongres tersebut ternyata dipantau langsung oleh PID (Politike Inlichtingen Dienst) atau Dinas Politik dan Intelijen Hindia Belanda.

“Ya, gelaran Kongres Pemuda II itu memang dipantau langsung intel Belanda. Tidak hanya dari luar, mereka bahkan masuk dan hadir dalam kongres. Makanya saat itu, lagu ‘Indonesia Raya’ tidak disertai liriknya,” papar Ari.

Di saat krusial tersebut, para pemuda itu dengan beraninya menggagas Sumpah Pemuda di hadapan kelompok yang notabene merupakan lawan mereka. Keberanian mereka adalah titik awal kebebasan Indonesia dari belenggu penjajahan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini