Share

5 Fakta Gempa 35 Kali di Salatiga dan Sekitarnya, Fenomena Swarm Bisa Berlangsung Bertahun-tahun

Tim Okezone, Okezone · Selasa 26 Oktober 2021 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 26 337 2491802 5-fakta-gempa-35-kali-di-salatiga-dan-sekitarnya-fenomena-swarm-bisa-berlangsung-bertahun-tahun-5IRdWK9OiN.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Gempa bumi mengguncang wilayah Jawa Tengah dalam tiga hari terakhir. Daerah yang mengalami guncangan tersebut meliputi Banyubir, Ambarawa, Salatiga, dan sekitarnya.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi sejak Sabtu 23 Oktober 2021 hingga Selasa 26 Oktober dini hari.

Baca Juga:  Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Bantul Yogyakarta

Berikut fakta-faktanya:

1. Gempa mengguncang 35 kali

BMKG menyebutkan gempa yang berlangsung selama 3 hari itu mengguncang kawasan Jawa Tengah sebanyak 35 kali. Pada 23 Oktober sebanyak 24 kali, 24 Oktober 9 kali dan 25 Oktober 2 kali.

2. Magnitudo Kecil

 

Meski gempa yang mengguncang wilayah tersebut sebanyak 35 kali. Namun, Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menyebutkan, gempa yang terjadi didominasi magnitudo kecil.

Gempat dengan magnitudo kurang dari 3,0 sebanyak 29 kali. Sementara gempa magnitudo 3,1 sampai 4 terjadi 6 kali.

3. Fenomena Swarm

Daryono menyebutkan, gempa yang terjadi merupakan fenomena swarm. Ada dugaan swarm berkaitan dengan fenomena tektonik karena zona ini cukup kompleks berdekatan dengan jalur sesar Merapi, Merbabu, sesar Rawapening dan sesar Ungaran.

Baca Juga: BMKG: Salatiga dan Sekitarnya Diguncang 35 Kali Gempa dalam Tiga Hari 

Dugaan ini tampak dari bentuk gelombang geser yang sangat jelas menggambarkan adanya pergeseran 2 blok batuan secara tiba-tiba. Masa berakhirnya aktivitas swarm berbeda-beda, dapat berlangsung beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Hal itu sama dengan di Mamasa, Sulawesi Barat, yang mulai terjadi sejak akhir 2018 dan masih terus terjadi hingga saat ini.

 

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

4. Waspada Bangunan Retak

Daryono mengingatkan agar tetap waspada terhadap gempa swarm ini. Dia meminta agar masyarakat yang tempat tinggalnya mengalami retakan sebaiknya tidak ditempati lagi karena akan berisiko keselamatan jika terjadi gempa lagi.

“Munculnya retakan akibat swarm menunjukkan kualitas bangunan tembok yang rendah. Jika makin besar retakan maka untuk sementara sebaiknya tidak ditempati karena jika guncangan lebih besar akan makin rusak dan berisiko bagi keselamatan bagi penghuninya,” ujarnya.

5. Masyarakat Jangan Panik

Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada. Fenomena swarm ini setidaknya menjadikan pembelajaran. Daryono menilai, gempa swarm sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm memiliki struktur yang kuat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini