Ketika Pangeran Diponegoro Marah Akibat Residen Belanda Penggoda Istri Pejabat Jawa

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 26 Oktober 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 26 337 2491672 ketika-pangeran-diponegoro-marah-akibat-residen-belanda-penggoda-istri-pejabat-jawa-JfqKbkBpdO.jpg Pangeran Diponegoro (foto: ist)

PANGERAN Diponegoro dibuat geram dengan residen baru Belanda bernama Nahuys van Burgst. Pribadinya memang mempunyai pandangan dan visi yang sangat jelas tentang kebijakan - kebijakan ekonomi apa yang cocok diterapkan di Hindia Belanda.

Van Burgst kerap melakukan pendekatan untuk meningkatkan jumlah penyewa perkebunan asing di tanah - tanah wilayah keraton. Tapi konon Nahuys memiliki kepentingan pribadi yang begitu kuat dibalik kepemimpinannya.

Baca juga:  Ketika Pangeran Diponegoro Ajarkan Sultan Hamengku Buwono IV Kitab

Konon sang pemimpin Belanda ini kerap mengumbar kenikmatan dan huru - hara. Gaya hidup Nahuys berbeda dengan Crawfurd yang dihadapi Diponegoro sebelumnya. Nahuys lebih dikenal sebagai pribadi yang suka pesta dan mabuk - mabukan. Bahkan Nahuys begitu suka bermain judi, suatu hal yang tidak disukai Pangeran Diponegoro, lantaran melanggar aturan agama Islam.

Satu perilaku lain Nahuys Van Burgst yang tidak disukai Pangeran Diponegoro adalah perilaku seksnya. Pejabat senior Belanda ini kerap meniduri secara bergantian perempuan yang sama, mulai dari istri D'Abo, Anna Louisa Van den Berg, yang kemudian dinikahi oleh Nahuys.

Baca juga:  Saat Pangeran Diponegoro Jatuh Cinta Pandangan Pertama dengan Raden Ayu

Nahuys juga terkenal sering menggoda ibu anak - anak ningrat atau istri - istri para penguasa Jawa kala itu. Van Burgst kerap bermain asmara dengan istri pejabat bawahan, dan itu merupakan suatu hal yang dideskripsikan hal biasa.

Alhasil karena dinilai tak sesuai norma umum yang berlaku inilah, Diponegoro begitu menentang Nahuys karena perilakunya. Bahkan kerabat dekat Diponegoro menggambarkan pejabat Belanda itu sebagai kebejatan moral yang menjadi salah satu kunci yang harus dibereskan Belanda, sebelum Perang Jawa dapat diakhiri.

Diponegoro menilai eksploitasi seks atas kaum perempuan oleh orang - orang Eropa yang berkuasa, sebagai sisi lain penghinaan atas status kolonial mereka yang baru. Konon dalam tahun menjelang Perang Jawa di abad ke - 18, hubungan orang Eropa dan Jawa sekarang sudah lebih bersifat eksploitatif, menjarah harta benda keraton, dan membawa pergi perpustakaannya di zaman Inggris. Kemudian bertambah menjadi penjarahan tubuh - tubuh putri - putri Raden Ayu Keraton.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini