Kisah Prabu Siliwangi Membawa Kerajaan Pajajaran pada Kejayaan

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 26 Oktober 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 26 337 2491671 kisah-prabu-siliwangi-membawa-kerajaan-pajajaran-pada-kejayaan-XQHMIWZTk9.jpg Prabu Siliwangi (foto: istimewa)

PRABU Siliwangi mampu membawa Kerajaan Pajajaran pada kejayaan. Bahkan di masa kepimpinan Sri Baduga Maharaja inilah rakyat Pajajaran mengalami kesejahteraan dan hidup damai.

Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Pajajaran sebagai raja yang memiliki legitimasi kuat. Dikisahkan pada buku "Hitam Putih Pajajaran : dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquene, disebut raja memiliki legitimasi dan kekuatan untuk memutuskan sesuatu.

Baca juga:  Kemunduran Kerajaan Pajajaran Pasca Kepemimpinan Prabu Siliwangi

Alhasil Prabu Siliwangi yang menjabat sebagai raja Pajajaran memegang kendali penuh dari sistem pemerintahan. Kekuasan dan kendali penuh di tangan raja telah menciptakan sistem klasik, dengan menganut kepercayaan nenek moyang sebelumnya yang bersifat kosmologi.

Menurut Nurhadi, dalam konsep kosmologi terdapat satu keyakinan bahwa keselarasan antara kerajaan dan jagat raya, dapat diraih dengan menyusun konsep kerajaan sebagai gambaran dunia dan seisinya dalam lingkup nilai. Hal ini telah membawa dampak besar bahwa kekuasaan sorang raja didapatkan dari restu para dewa atau sanghyang. Keberadaan seorang raja merupakan representatif dari wakil dewa di dunia yang mendapat mandat memimpin negara.

Baca juga:  Sosok Prabu Siliwangi yang Begitu Dihormati Masyarakat Sunda

Sistem pemerintahan inilah yang membuat Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dengan kekuasan penuh berhasil mengantarkan kesejahteraan rakyat Sunda. Kesuksesan ini jelas bahwa berawal dari mekanisme dari sistem pemerintahan yang diterapkan, setidaknya telah berjalan dengan baik dan sudah tentu ditopang sistem pertahanan dan keamanan yang baik pula. Dari sinilah Kerajaan Pajajaran mampu mengeliminasi segala gangguan keamanan dan usaha - usaha untuk menghancurkan kerajaan.

Pada naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian banyak menceritakan mengenai kedudukan raja yang berada di bawah para dewa dan hyang. Mengingat kekuasan yang dimiliki didapatkan dari restu para dewa dan hyang, maka semua potensi kekuasaan dan aturan - aturan kerajaan harus mengikuti kehendak para dewa dan hyang.

Dengan demikian kekuasan yang dimiliki seorang raja harus mampu digunakan untuk menjamin kemakmuran dan kedamaian seluruh rakyatnya. Maka hal mencoba diterapkan oleh Prabu Siliwangi saat memerintah Kerajaan Pajajaran.

Ketika rakyat sudah mendapatkan hak kesejahteraan dan keadilan, itu berarti keberadaan raja berada di dalam perlindungan para dewa dan hyang. Tetapi sebaliknya, apabila sang raja tidak mampu memimpin kerajaan sehingga terjadi peperangan, pemberontakan, kekacauan, kelaparan, dan kejahatan moral semakin merajalela, semua menandakan bahwa para dewa telah mencabut restu tersebut.

Salah satu usaha kebijakan populer yang diputuskan Sri Baduga Maharaja adalah menciptakan parit besar yang mengitari ibu kota Pajajaran, Pakuan, langkah ini tertulis pada Prasasti Batutulis. Konon parit ini selain sebagai pengairan persawahan warga, juga menjadi sarana melindungi area ibu kota Pajajaran dari lawannya.

Konon parit juga mengelilingi benteng besar nan kokoh yang dibuat oleh Prabu Siliwangi. Pintu gerbangnya terletak di Sungai Cipakancilan, dimana setiap orang yang ingin memasuki Pakuan, harus melewati pintu gerbang terlebih dahulu, itu pun juga dengan penjagaan para prajurit kerajaan. Hal ini pula yang menjadi suasana di ibu kota Pajajaran cukup aman dan damai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini