Ini Kata BMKG Penyebab Rentetan Gempa di Jateng

Binti Mufarida, Sindonews · Minggu 24 Oktober 2021 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 24 337 2490933 ini-kata-bmkg-penyebab-rentetan-gempa-di-jateng-hW3UCYqpVJ.jpg Illustrasi (foto: dok Sindo)

JAKARTA - Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono mengungkapkan rentetan gempa di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga, dan Sekitarnya, provinsi Jawa Tengah yang diawali dengan gempa utama terjadi pada Sabtu 23 Oktober 2021 pukul 00.32 WIB berkekuatan 3,0 magnitudo merupakan fenomena gempa swarm.

“Terkait fenomena swarm yang mengguncang Banyubiru, Ambarawa, Salatiga dan sekitarnya ada dugaan jenis swarm tersebut berkaitan dengan fenomena tektonik (tectonic swarm), karena zona ini cukup kompleks berdekatan dengan jalur Sesar Merapi Merbabu, Sesar Rawapening dan Sesar Ungaran,” ungkap Daryono dalam keterangannya, Minggu (24/10/2021).

Baca juga:  BMKG Mencatat Terjadi 32 Aktivitas Gempa Swarm di Sejumlah Daerah di Jateng

Daryono mengatakan dugaan tektonik swarm ini tampak dari bentuk gelombang geser (shear wave) yang sangat jelas dan nyata menggambarkan adanya pergeseran 2 blok batuan secara tiba-tiba.

“Tectonic swarm umumnya terjadi karena adanya bagian sesar yang mengalami rayapan (creeping) sehingga mengalami deformasi aseismik atau bagian/segmen sesar yang tidak terkunci (locked) bergerak perlahan seperti rayapan (creep),” kata Daryono.

Baca juga:  RSUD Ambarawa Terdampak Guncangan Gempa, BPBD Semarang Bangun Tenda Darurat untuk Pasien

Daryono mengungkapkan fenomena gempa swarm di Banyubiru ini tentu sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut dan menjadi tantangan bagi para ahli kebumian kita untuk mengungkap penyebab sesungguhnya.

Sementara itu, Daryono mengatakan bahwa gempa swarm bukan sekali ini terjadi di Indonesia. Beberapa fenomenanya pernah terjadi beberapa kali, di antaranya di Klangon, Madiun pada Juni 2015; Jailolo, Halmahera Barat pada Desember 2015; dan Mamasa, Sulawesi Barat pada November 2018.

“Masa berakhirnya aktivitas swarm berbeda-beda, dapat berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, hingga beberapa tahun seperti halnya swarm Mamasa Sulawesi Barat yang mulai terjadi sejak akhir tahun 2018 dan masih terus terjadi hingga saat ini,” kata Daryono.

Dampak gempa swarm jika kekuatannya cukup signifikan dan guncangannya sering dirasakan dapat meresahkan masyarakat. “Masyarakat dihimbau untuk tidak panik tetapi waspada. Terjadinya fenomena gempa swarm ini setidaknya menjadikan pembelajaran tersendiri untuk masyarakat, karena aktivitas swarm memang jarang terjadi,” paparnya.

Namun demikian, kata Daryono, jika belajar dari berbagai kasus gempa swarm di berbagai wilayah, sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm tersebut memiliki struktur yang kuat.

“Jika struktur bangunan lemah maka dapat menyebabkan kerusakan bangunan rumah seperti yang saat ini sudah terjadi pada beberapa rumah warga di Banyubiru dan Ambarawa,” ungkap Daryono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini