Satgas Covid-19 Pastikan Ada Lebih 700 Laboratorium Tes PCR di Indonesia

Binti Mufarida, Sindonews · Minggu 24 Oktober 2021 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 24 337 2490918 satgas-covid-19-pastikan-ada-lebih-700-laboratorium-tes-pcr-di-indonesia-Q8kpMRJH8Y.jpg Test PCR (foto: dok Okezone)

JAKARTA - Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Hery Trianto memastikan ada lebih dari 700 laboratorium untuk pengetesan polymerase chain reaction (PCR) di Indonesia.

“Jadi dari awal pandemi hanya 14 laboratorium, sebenarnya sekarang lebih 700 laboratorium di seluruh Indonesia gitu. Tetapi karena memang begitu luas mungkin untuk sampai titik yang ideal tentu saja tidak. Mungkin nanti akan ditambahkan di daerah dengan banyak orang yang bepergian,” ungkap Hery dalam keterangannya, Minggu (24/10/2021).

Baca juga:  Syarat Tes PCR untuk Naik Pesawat, Ini Kata Penumpang

Sementara itu, Hery mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong harga tes PCR di harga terendah.

“Jadi soal harga, tentu saja pemerintah mendorong harga yang lebih murah ya, kemudian memenuhi segala keekonomian,” katanya.

Baca juga:  Satgas: PCR "Golden Tes" dengan Sensitivitas Screening Covid-19 Paling Tinggi

“Sejak awal pandemi Rp1 juta lebih, kemudian ditetapkan maksimal Rp900 ribu, kemudian oleh Presiden ditetapkan maksimal Rp500 ribu, dan tentu saja semakin kesini karena juga juga stok makin banyak, mestinya juga juga semakin murah. Karena buktinya India itu bisa lebih murah,” ungkap Hery.

Bahkan, kata Hery, kini maskapai penerbangan juga bisa menyelenggarakan tes PCR dengan harga yang rendah yakni di kisaran Rp250 ribu.

“Kemudian beberapa maskapai penerbangan ternyata bisa menyelenggarakan atau bisa mencari vendor PCR itu dengan harga 250 ribu. Tentu ini adalah awal yang bagus,” tuturnya.

Hery mengatakan, saat ini Indonesia masih berada di situasi kritis serta ancaman gelombang ketiga Covid-19.

“Kita tidak berharap ini terus-terusan terjadi ketika kemudian pandemi ini makin kita kendalikan. Karena situasinya masih dalam situasi kritis dan ada ancaman gelombang ketiga ini yang benar-benar kita perhatikan,” katanya.

“Jangan sampai karena kita terlalu mempertimbangkan ekonomi misalnya kemudian kita jadi lalai. Tetapi kita juga tidak ingin juga terlalu mengekang ekonomi sehingga masyarakat juga semakin berat,” tambah Hery.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini