Kisah Klenik Larangan Bung Tomo Berhubungan Badan Agar Tak Kalah Perang

Avirista Midaada, Okezone · Minggu 24 Oktober 2021 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 24 337 2490822 kisah-klenik-larangan-bung-tomo-berhubungan-badan-agar-tak-kalah-perang-8VLiU8cGkQ.jpg Bung Tomo dan istrinya/ ist

TOKOH pergerakan Bung Tomo melangsungkan pernikahan di masa revolusi pada 19 Juni 1947. Pernikahan ini dilaksanakan saat bangsa Indonesia tengah berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda dan sekutunya.

(Baca juga: Penyesalan Bung Tomo Menikah di Masa Revolusi Pertahankan Kemerdekaan)

Namun konon ada alasan kenapa pemilik nama Sutomo ini melangsungkan pernikahan di masa revolusi usai kemerdekaan ini. Diceritakan pada buku "Bung Tomo : Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" tulisan Abdul Waid, konon Bung Tomo harus ke luar negeri lantaran pemerintah Indonesia kala itu memilih jalur kompromi dengan Belanda.

(Baca juga: Pertempuran Surabaya Membuat Bung Tomo dan Kekasihnya Jalani LDR)

Pemerintah Indonesia pada tahun 1947 kemudian membawa Bung Tomo ke Australia ahar terhindar dari intaian Belanda. Di sana nantinya Bung Tomo tetap harus melanjutkan perjuangan melawan Belanda, yaitu dengan melakukan propaganda dari Australia.

Sebab itulah banyak pemimpin pejuang yang khawatir jika Bung Tomo justru kecantol dan terlibat cinta lokasi dengan perempuan Australia. Apalagi perempuan Australia terkenal dengan kecantikannya dibanding perempuan - perempuan Indonesia. Secara pergaulan pun, laki - laki dan perempuan di Australia lebih bebas dibandingkan dengan di Indonesia.

Apalagi Bung Tomo konon termasuk pemuda yang tampan, rupawan, selalu berpenampilan rapi yang mengundang banyak perhatian perempuan. Oleh karena itu sebelum berangkat ke Australia, diputuskan bahwa Bung Tomo harus menikah dulu dengan Sulistina, pada 19 Juni 1947. Tetapi pada akhirnya, Bung Tomo tak jadi diterbangkan ke Australia, karena lapangan terbang Bugis di Malang terlanjur dikuasai oleh Belanda lewat agresi militernya.

Dikarenakan, pernikahan ini dilakukan pada masa - masa genting, maka ada syarat yang harus mereka penuhi. Dikisahkan selama waktu 40 hari terhitung sejak akad nikah, mereka dilarang melakukan hubungan suami istri. Sebab jika mereka melakukannya hubungan suami istri, maka Medan pertempuran bisa dibobol oleh para tentara Belanda dan pasukan Indonesia kalah.

Konon untuk melaksanakan kisah klenik ini Bung Tomo rela melewatkan malam pertamanya sebagai sepasang suami istri dengan Sulistina. Di malam pertama, kedua insan yang tengah dimabuk asmara ini hanya berbicara dan bercanda ria, keduanya bercerita tentang pengalaman selama perjuangan.

Di malam pertama mereka sengaja tidak tidur berdua karena khawatir bisa melanggar syarat yang telah ditetapkan. Mereka pun kuat menahan gejolak dalam jiwa untuk berhubungan suami istri, hingga fajar menyingsing. Keduanya pun berhasil melewati 40 hari tanpa melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri.

Namun tetap saja, pernikahan Bung Tomo dengan Sulistina pada masa - masa perjuangan senjata itu menuai kecaman dari sebagian kalangan, yang menganggap Bung Tomo tidak konsisten dengan kata - katanya sendiri. Salah satu kecaman yang datang dari orang - orang PKI, yang menyatakan jangan percaya kepada Bung Tomo.

Sebab di tahun 1945 Bung Tomo disebut pernah berjanji untuk tidak menikah sebelum masa revolusi selesai. Namun nyatanya ia tetap menikah di masa revolusi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini