HSN 2021, Salah Satu Kunci Kemajuan Desa Ada di Santri dan Kiai

Agregasi Sindonews.com, · Sabtu 23 Oktober 2021 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 23 337 2490605 hsn-2021-salah-satu-kunci-kemajuan-desa-ada-di-santri-dan-kiai-UajahqjVDn.jpg Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar saat hadiri peringati Hari Santri Nasional 2021 (Foto: Ist/Sindonews)

JAKARTA - Santri memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi desa. Bahkan, pondok pesantren yang berada di tengah-tengah desa mempunyai arti penting secara spiritual, sosial, dan ekonomi bagi warga desa.

"Secara kultural pesantren dan desa seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Sebagian besar pesantren-pesantren berada di tengah-tengah desa," ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ( Mendes PDTT ) Abdul Halim Iskandar pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2021, Jumat 22 Oktober 2021.

"Para kiai pesantren merupakan rujukan utama warga desa jika mereka membutuhkan pandangan terkait masalah spiritual dan sosial. Dewasa ini, pesantren juga menjadi penggerak ekonomi desa," imbuhnya.

Baca Juga:  Ini Kesan Afi Ridho Usai Jadi Menteri Sehari Gantikan Menag Yaqut

Abdul Halim mengatakan, secara spiritual, pesantren menjadi pusat kegiatan-kegiatan keagamaan. Sedang makna sosial pesantren melahirkan tokoh-tokoh agama yang berperan penting di tengah masyarakat.

"Kalau mau jujur harus diakui jika salah satu kunci kemajuan desa terletak pada peran aktif kiai maupun santri yang bisa bersinergi dengan masyarakat desa. Jika sinergi ini bisa terus dipertahankan maka kemajuan desa segera direalisasikan," tuturnya.

Gus Halim, panggilan akrab Abdul Halim Iskandar, mengungkapkan mulai dekade 1970-an, pesantren menjadi pusat inovasi pertanian desa. Bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pembangunan desa, pesantren kerap memunculkan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

"Saat itu, kerja sama pesantren, dan LSM dalam pembangunan desa bisa menghasilkan berbagai produk pertanian berkualitas mulai dari varietas bibit terbaru, tata cara bercocok tanam mutakhir, hingga pengelolaan usaha tani yang lebih efisien," ujarnya.

Baca Juga:  Hari Santri Nasional 2021, Menag Yaqut: Jangan Terjebak Identitas Santri Hanya Pantas Pakai Sarung!

Tentu saat itu, kata Gus Halim, warga desa tidak mudah menerima perubahan. Namun, berbagai inovasi baru tersebut mula-mula diterapkan di lahan-lahan pesantren. Saat terbukti meningkatkan hasil panen maka perlahan-lahan inovasi tersebut diterima secara luas warga desa.

"Kami berharap pola-pola tersebut bisa kembali diterapkan dalam arti pesantren menjadi pusat inovasi kemajuan desa," katanya.

Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini mengungkapkan, berdasarkan data BPS, pada 2018, ada 28.961 pesantren tersebar di 14.020 desa. Menurutnya, pesantren-pesantren ini berpotensi menggerakan sektor ekonomi desa. Biasanya setiap pesantren memiliki lahan atau kolam yang diolah para santri. Tak jarang warga desa turut menggarap lahan-lahan pesantren. Hasil garapan yang berlebih juga dijual ke pasar lokal.

Selain itu, pesantren juga menjadi pasar bagi masyarakat desa sekitar pesantren. "ini pasti, sekitar pesantren pasti tumbuh subur usaha-usaha masyarakat, mulai dari penjual makanan, pakaian, alat tulis, kitab, dan semacamnya, semuanya untuk kebutuhan santri," kata pria yang dibesarkan di pesantren ini.

Bagi Desa, lanjut Gus Halim, Pesantren menopang pencapaian tujuan SDGs Desa ke-4; Pendidikan Desa Berkualitas, serta tujuan SDGs Desa ke-18: Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif. "Dengan demikian, pesantren dan santri adalah penyangga kualitas SDM, menggerakkan ekonomi desa, pesantren menunjang dinamika kelembagaan desa dan menopang budaya desa," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini