Penyesalan Bung Tomo Menikah di Masa Revolusi Pertahankan Kemerdekaan

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 23 Oktober 2021 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 23 337 2490453 penyesalan-bung-tomo-menikah-di-masa-revolusi-pertahankan-kemerdekaan-rTRhduHGRD.jpeg Bung Tomo dan istrinya, Sulistina. (Foto: Istimewa)

KISAH cinta Bung Tomo dengan Sulistina mengantarkannya ke pernikahan. Tapi konon pernikahannya malah membuat Bung Tomo menyesal dan merasa bersalah.

Dikutip dari buku "Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" tulisan Abdul Waid, pernikahan Bung Tomo dan Sulistina dilakukan pada 19 Juni 1947 di Kota Malang.

Namun, pernikahan ini membuat Bung Tomo merasa bersalah besar. Pasalnya pemilik nama lengkap Sutomo menikah di masa-masa revolusi di mana masyarakat Indonesia masih berada di dalam situasi genting. Hal ini dikarenakan penjajahan yang dilakukan Belanda dan sekutuny belum berakhir kendati Indonesia telah merdeka.

Pada masa-masa itu semua rakyat Indonesia masih dituntut intuk menata kemerdekaan dengan agenda pembangunan, sementara Bung Tomo lebih mementingkan hasrat pribadinya dengan menikah. Meski saat itu melangsungkan pernikahan di Malang dan terlebih dahulu meminta izin dan persetujuan dari kelompok pemuda yang dipimpinnya.

Baca juga: Pertempuran Surabaya Membuat Bung Tomo dan Kekasihnya Jalani LDR

Bung Tomo merasa dirinya seolah dirinya egois dan hanya mencari kenikmatan diri sendiri. Seolah-olah ia merasa sangat berdosa karena pernikahannya diadakan dalam suasana demikian. Selain itu, sebelumnya Bung Tomo juga sempat mengecam pernikahan yang dilakukan di masa revolusi.

Konon hal itu ia sampaikan saat melakukan pidatonya. Tapi justru karena perkataannya itulah menjadikan Bung Tomo seolah bersalah dan menjilat ludah sendiri. Ia terkesan melanggar ucapan sendiri dengan menikahi kekasihnya pada masa-masa revolusi.

Pernikahan ini kala itu juga dipertanyakan oleh banyak pihak. Apalagi dengan pandangan banyak pemuda di masa itu. Perkawinan khususnya yang dilaksanakan di masa revolusi, merupakan adat feodal merupakan ciri egoistis manusia, untuk mengejar kebahagiaan pribadi. Revolusi menuntut pengorbanan dalam segala hal termasuk perkawinan sebagai kenikmatan pribadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini