Rektor UIII: Neo-Dinasti Jadi Evaluasi Penting Demokrasi karena Jadi Sumber Korupsi

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 22 Oktober 2021 21:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 22 337 2490374 rektor-uiii-neo-dinasti-jadi-evaluasi-penting-demokrasi-S3XHNdVxvc.jpg Rektor UIII Komaruddin Hidayat (Foto: istimewa)

JAKARTA - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komarudin Hidayat menilai bahwa 2024 adalah waktu yang tepat untuk mengevaluas dan menata ulang demokrasi reformasi Indonesia. Evaluasi yang penting jadi perhatian adalah neo-dinasti.

Isu ini diangkat oleh Rektor UIII itu dalam Jakarta Geopolitical Forum V yang berlangsung pada hari ini, Jumat (22/10/2021).

Menurut dia, untuk bicara neo-dinasti perlu ditinjau kembali bagaimana kondisi para pejabat dan tokoh public masa pra-kemerdekaan.

“Ternyata reformasi ini telah melahirkan neodinasti dan sumber korupsi karena biaya politik yang mahal,” kata Komaruddin.

“Mengapa sejak dari pusat sampai daerah muncul neo dinasti dari suaminya menjadi bupati, ganti istrinya, ganti anaknya,” imbuhnya.

Akibat neo-dinasti dan ongkos politik terlalu mahal, bahkan pelaku korupsi adalah kerabat para tokoh publik itu sendiri. “Bahkan kemudian yang korupsi ayahnya, anaknya, Karena ongkos politik terlalu mahal,” tutur Komarudin.

Baca juga: Gubernur Lemhanas: Antusiasme Peserta JGF V Berikan Dampak Baik Bagi Peradaban

Permasalahan neo-dinasti bila tidak diselesaikan akan berdampak pada konstitusi dan partai politik, bahkan hingga ke penggunaan dukungan massa untuk kepentingan politik. “Modal massa ini salah satu instrumennya adalah symbol-simbol emosi agama,” kata Komaruddin.

Baca juga: Lemhanas Gelar Jakarta Geopolitical Forum 2021

Penggunaan simbol agama ini berdampak pada pendangkalan dan pembusukan pada proses demokratisasi di Indonesia. Tantangan selanjutnya bagi demokrasi di masa depan adalah belum adanya sosok membanggakan bagi karakter milenial saat ini. Milenial saat ini, lanjut dia, tak lagi terikat kuat pada tradisinya, contohnya pada bahasa.

“Generasi saat ini tidak bisa bahasa daerah, tapi mereka juga sayangnya belum menemukan bangunan rumah Indonesia secara kokoh dan membanggakan,” kata Komarudin.

Bagi Komarudin pemuda saat ini sulit mencari tokoh yang menginspirasi. “Kita sulit mencari tokoh-tokoh yang menginspirasi dan kalau kita bicara Indonesia. Sekali-kali kita perlu membaca Indonesia dari pinggiran, dari papua, dari perbatasan, maka wajah Indonesia akan lahir,” lanjut Komaruddin.

Menjadi bangsa Indonesia adalah hasil imajinasi ulang. “Jadi yang namanya Indonesia itu satu imajinasi tidak ada peristiwa physical to be Indonesia sebagaiana orang datang ke Amerika,” kata Prof. Komaruddin. Selain itu millennial saat ini adalah hasil perkawinan silang yang melahirkan generasi baru.

Komarudin Hidayat menjadi narasumber dalam Jakarta Geopolitical Forum V yang mengangkat tema Culture and Civilization: Humanity at the Crossroads.

JGF adalah forum yang diinisiasi oleh Lemhannas RI merupakan session sharing bagi para pakar geopolitik dunia dalam menelaahn situasi kawasan di dunia. JGF 2021 mengundang narasumber budaya dan geopolitik terkemuka dunia untuk membahas budaya dan peradaban manusia. Harapannya forum strategis dapat dimanfaatkan bagi pembicara (speaker) maupun peserta untuk mendiskusikan isu geopolitik di tingkat dunia.

Baca juga: Jakarta Geopolitical Forum Sesi Kedua Hadirkan Pakar Politik dan Kemananan Nasional

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini