Hari Santri Nasional: Resolusi Jihad dan Peran KH Hasyim Asy'ari Pertahankan Kemerdekaan

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 22 Oktober 2021 07:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 22 337 2489908 hari-santri-nasional-resolusi-jihad-dan-peran-kh-hasyim-asy-ari-pertahankan-kemerdekaan-GWLaQ5lyWp.jpg Hari Santri Nasional: Resolusi Jihad dan Peran KH Hasyim As'yari Pertahankan Kemerdekaan (Okezone)

SETIAP 22 Oktober seluruh santri di Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan HSN 2021, Kementerian Agama RI mengangkat tema “Santri Siaga Jiwa dan Raga”. Tema tersebut memiliki makna bahwa santri di seluruh Indonesia harus selalu siap siaga untuk menyerahkan jiwa dan raga guna membela tanah air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia.

(Baca juga: Habib Husein Sebut Pesantren Adalah Penjara Suci)

 "Tahun ini tema Hari Santri adalah 'Santri Siaga Jiwa Raga'. Ini sebagai bentuk pernyataan sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga menyerahkan jiwa dan raga untuk membela Tanah Air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia," ujar Menag saat peluncuran tema dan logo peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Kementerian Agama, beberapa waktu lalu.

"Siaga Jiwa Raga juga merupakan komitmen seumur hidup santri untuk membela Tanah Air yang lahir dari sifat santun, rendah hati, pengalaman, dan tempaan santri selama di pesantren," lanjutnya.

(Baca juga: Hari Santri Nasional 2021 Mengusung Tema 'Santri Siaga Jiwa Raga')

Menag menegaskan, bahwa Siaga Jiwa bermakna pula bahwa santri tidak lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai, dan ajaran Islam rahmatan lil’alamin serta tradisi luhur bangsa Indonesia. Maka itu, santri tidak akan pernah memberikan celah masuknya ancaman ideologi yang dapat merusak pemikiran dan komitmen terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia.

Penetapan HSN merupakan implementasi pengakuan Pemerintah, atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI.

Selain itu, moment peringatan HSN dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama. Pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai HSN merujuk pada peristiwa bersejarah tanggal 22 Oktober 1945 saat Pahlawan Nasional KH Hasyim As’ari membacakan seruan kepada Umat Islam untuk berjuang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin kembali menjajah Republik Indonesia.

Dilansir Kemenagpolman, Jumat (22/10/20201), fatwa jihad tersebut seketika menggelorakan semangat juang rakyat Indonesia dari seluruh penjuru Tanah Air, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari mempunyai esensi bahwa berjuang mempertahankan kemerdekaan merupakan kewajiban agama. Pengakuan pemerintah terkait dengan sejarah tersebut diwujudkan dalam bentuk penetapan Hari Santri Nasional. Sebuah moment penting untuk mengenal sepak terjang santri dan umat Islam mewujudkan keyakinannya bahwa “Hubbul Wathan min al- Iman” Mencintai tanah Air bagian dari Iman.

Peran Santri Mempertahankan Kemerdekaan

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para Kiai dan Santri, Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, rupanya bangsa penjajah tidak tinggal diam. Inggris bergandengan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ingin kembali menguasai Indonesia yang telah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Melihat hal itu, Umat Islam tidak tinggal diam. Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syech KH. Hasyim As’ari bersama para kyai dan santri perwakilan NU di seluruh Jawa dan Madura menyerukan jihad melawan penjajah. Deklarasi itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945. Belakangan deklarasi itu populer dengan istilah Fatwa Resolusi Jihad.

Selanjutnya setelah tanggal 22 Oktober 1945 para Kyai dan Santri mulai bergerak dan berdatangan ke Surabaya sebagai bentuk perlawanan terhadap pasukan Inggris dan NICA yang datang. Seruan jihad yang dikumandangankan dari masjid ke masjid, dari musholla ke musholla. Bung Tomo pada tanggal 24 Oktober 1945 berpidato di Radio berpesan kepada arek-arek Surabaya agar jangan berkompromi dengan sekutu yang akan datang ke Surabaya. Penyebaran Resolusi Jihad tersebut dengan suka cita disambut penduduk surabaya dengan berapi-api untuk melawan kembalinya penjajah.

Melalui Resolusi Jihad seruan perang suci yang diteriakkan untuk melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, yang membakar semangat Kiai dan Santri serta arek-arek Surabaya untuk menyerang Markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Pada saat itu Jenderal Mallaby tewas bersama pasukannya.

Akibat dari serangan 3 hari tersebut meletuslah perang 10 November 1945, peperangan sengit antara pasukan Inggris yang berhadapan dengan masyarakat pribumi yang didominasi oleh Kiai dan Santri. Ribuan Pahlawan gugur, darah berceceran di Surabaya dan perang sekitar 3 minggu tersebut di catat sebagai perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Peristiwa 10 November 1945 kemudian populer dengan sebutan Hari Pahlawan

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini