Ketika Sultan Hamengku Buwono IV Tunjuk Tan Jin Sing Jadi Bupati Yogya

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 22 Oktober 2021 06:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 21 337 2489845 ketika-sultan-hamengku-buwono-iv-tunjuk-tan-jin-sing-jadi-bupati-yogya-4qUxIw87CY.jpg Sultan Hamengku Buwono IV (foto: istimewa)

JAKARTA - Di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IV kejutan pernah dilakukan oleh sang penguasa Mataram. Salah satu yang menonjol tentu keputusannya memilih Bupati Yogya dari etnis China bernama Tan Jin Sing.

Dikisahkan pada buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" tulisan Peter Carey, Tan Jin Sing uang dipilih sebagai Bupati Yogyakarta ini bergelar Raden Tumenggung Secodiningrat dengan tanah jabatan 800 cacah, yang sebagian besar berlokasi di Lowanu, di sebelah timur Bagelen.

Baca juga:  Mengenal Pangkat dan Kedudukan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Surat penunjukan tersebut diteken oleh Sultan Hamengku Buwono IV pada 6 Desember 1813 secara tegas menyatakan, bahwa bupati Tan Jin Sing diberi gelar tersebut dalam rangka penghargaan atas pengabdiannya kepada Inggris.

Langkah pemilihan bupati bukan dari orang dalam istana dan keturunan Jawa ini sontak dianggap karena keraton di bawah tekanan Inggris. Sebab belum pernah ada cerita seorang Tionghoa diberi jabatan yang demikian tinggi, di lingkungan Keraton Yogyakarta. Memang benar di abad ke - 17 dan awal abad ke - 18 pernah ada kasus dimana orang - orang Tionghoa pemungut pajak dari para petani diberi wewenang mengelola distrik - distrik administratif di pantai utara, atas penguasa Mataram.

Baca juga:  Sejarah Kanjeng Nyai Jimat, Kereta Tertua Milik Sri Sultan Hamengkubuwono I

Namun setelah itu etnis Tionghoa tidak pernah ada lagi menjadi petugas pemungut pajak, usai perjanjian Giyanti. Sultan Mangkubumi secara tegas bahkan melarang orang Tionghoa menjalin hubungan yang terlalu dekat dengan keluarga keraton, dengan alasan bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan ketidakharmonisan.

Konon selama memerintah menjadi pejabat di Yogyakarta, Kapitan Cina harus bermain dengan di antara tiga dunia, kemudian teringkaskan dalam olok - olok gaya khas Yogya, "tidak lagi cina, Belanda belum, Jawa pun tanggung". Bahkan digambarkan sang bupati 'asing' ini seolah mirip dengan kondisi orang Jawa yang menerima pendidikan asing seperti putra - putra Suro Adimenggolo.

Tetapi terlepas dari begitu kontroversinya penunjukan bupati dari etnis Tionghoa kala itu, Tan Jin Sing masih dapat membina hubungan baik dengan Diponegoro. Dalam tahun - tahun meletusnya Perang Jawa, para pengawal pribadi Pangeran Diponegoro diberi makan oleh Tan Jin Sing.

Bahkan saat memerintah Tan juga mengambil sikap netral terhadap intrik - intrik di dalam keraton yang sangat menjangkiti kesultanan pada dekade sebelum perang. Namun tetap saja penunjukannya sebagai pejabat penting keraton dipandang oleh banyak kalangan di Yogyakarta sebagai rangkaian fase kemerosotan wibawa dan kemerdekaan kesultanan era pasca Juni 1812.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini