Kemunduran Kerajaan Pajajaran Pasca Kepemimpinan Prabu Siliwangi

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 20 Oktober 2021 07:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 337 2488855 kemunduran-kerajaan-pajajaran-pasca-kepemimpinan-prabu-siliwangi-2pKqgabqoG.jpg Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi (foto: istimewa)

KEMUNDURAN Kerajaan Pajajaran mulai terasa semenjak Prabu Siliwangi meninggal dunia. Sang anak Surawisesa yang menggantikan posisi Sri Baduga Maharaja, konon tidak memiliki kecakapan layaknya sang ayahnya Prabu Siliwangi.

Hal ini ditambah mulai bermunculannya kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon. Dikisahkan pada buku "Hitam Putih Pajajaran : dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquene, Pajajaran yang memiliki hubungan diplomatik dengan Portugis.

Kekuatan hubungan dengan Portugis ini membuat Portugis melakukan perjanjian dengan Pajajaran untuk mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Tak hanya itu, setiap kapal yang dikemudikan Portugis mendarat di Malaka, akan diberi muatan lada yang kemudian ditukar dengan barang - barang keperluan yang dibutuhkan pihak Sunda.

Baca juga: Awal Mula Islam Masuk ke Pajajaran saat Diperintah Prabu Siliwangi

Perjanjian antara Pajajaran di bawah Surawisesa dengan Portugis ini mendatangkan kecemasan dari Kerajaan Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana. Kecemasan mengacu pada Selat Malaka yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara. Menurut Trenggono, dengan jatuhnya Sunda dan Malaka dikuasai Portugis, secara otomatis akan melumpuhkan sektor maritim kerajaan di Nusantara. Terlebih Selat Malaka sebagai urat nadi kehidupan ekonomi Kerajaan Demak akan terputus.

Maka Sultan Trenggono menghimpun kekuatan dan melakukan segala cara untuk bisa mengantisipasinya. Pernikahan politik dengan Cirebon, menjadikan Demak dan Cirebon memiliki hubungan yang kuat. Kelak dua kerajaan inilah yang akhirnya menyerbu ke daerah kekuasaan Portugis.

Baca juga:  Hubungan Mesra Kerajaan Pajajaran-Portugis di Bawah Kepemimpinan Prabu Siliwangi

Gabungan pasukan Demak - Cirebon inilah yang menjadi kekuatan untuk menyerang Banten wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, pintu utama Selat Sunda. Sebelum pasukan ini datang di Banten, telah terjadi huru - hara yang dilakukan Pangeran Hasanuddin dan para pengikutnya. Serangan tersebut membuat masyarakat ketakutan, bahkan Bupati Banten dan keluarga besarnya kala itu terpaksa memutuskan mengungsi ke ibu kota Pakuan Pajajaran.

Di tahun 1527 Masehi, pasukan gabungan Demak - Cirebon inilah berhasil merebut Pelabuhan Kalapa dari tangan Pajajaran. Penaklukan ini tidak karena pasukan yang dipimpin Fatahillah menggunakan meriam yang tidak dimiliki oleh pasukan Pajajaran. Sehingga pasukan dari Pakuan berhasil dipukul mundur.

Portugis saat itu sebenarnya ingin membantu, bahkan armada yang dipimpin Francisco de Sa yang mendapat tugas dari atasannya untuk membangun proyek benteng diangkat menjadi Gubernur di India. Keberangkatan armada pasukan pun telah disiapkan, total ada 6 kaapl berangkat dari Goa India. Tetapi sesampainya di tengah perjalanan armada ini diterpa badai di Teluk Benggala, sehingga harus memakan waktu lebih lama untuk tiba di Sunda.

Akhirnya ekspedisi Portugis yang awalnya menuju Banten, bergeser ke Malaka. Sebab Portugis mengetahui bahwa Banten telah jatuh di kekuasaan Hasanuddin.

Di masa kepemimpinan Surawisesa inilah kedigdayaan Kerajaan Pajajaran mulai menurun, jika dibandingkan dengan Sri Baduga Maharaja masih hidup. Pajajaran dengan Cirebon berada pads generasi yang sejajar. Walaupun yang berkuasa di Cirebon adalah Syarif Hidayatullah, tetapi di belakangnya berdiri orang - orang besar seperti Cakrabuana atau yang memiliki nama asli Haji Abdullah Iman.

Kekuatan Cirebon memang saat itu masih lemah, tapi pernikahan politiinya dengan Demak ditambah hubungan diplomatik dnegan Demak membuat kekuatan Cirebon bertambah. Cirebon lambat laun mulai tumbuh dan memiliki jati diri kuat di Jawa Barat. Cirebon dan Demak berhasil menguasai kota - kota dekat pelabuhan.

Di sebelah timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pada tahun 1528 Masehi, Cirebon mengalami pertempuran dengan Galuh. Pertempuran ini juga memperlihatkan peran Demak yang cukup signifikan. Demak mengirim meriam beserta pasukan perang pada saat Cirebon terdesak mundur. 

Sehingga pasukan Galuh tidak berdaya menghadapi panah besi yang besar dsn menyemburkan kukur ireng dengan suara seperti guntur kemudian memuntahkan logam panas. Pada akhirnya Galuh yang merupakan kekuasaan Kerajaan Pajajaran jatuh ke tangan Cirebon - Demak. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

Bahkan Cirebon mulai merangsak masuk menguasai Sumedang yang memaksa Surawisesa melakukan kesepakatan dengan Cirebon. Konon kesepakatan ini membuat Surawisesa, sedikit bisa bernapas dan mengumpulkan beberapa kekuatan yang sempat dibuat kocar-kacir. (wal)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini