Semangat Jihad Pangeran Diponegoro Pimpin Pasukan Islam Bikin Ciut Nyali Belanda

Mohammad Adrianto S, Okezone · Selasa 19 Oktober 2021 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 337 2488573 semangat-jihad-pangeran-diponegoro-pimpin-pasukan-islam-bikin-ciut-nyali-belanda-djH1Gmh8Z3.jpg Semangat jihad Pangeran Diponegoro/ ist

JAKARTA - Di masa lampau, Belanda berkali-kali berusaha mengambil alih Indonesia. Ini tidak lepas dari beberapa faktor, mulai dari ingin meniru kolonial serupa dengan negara Eropa lain seperti Inggris dan Prancis, hingga ingin menguasai rempah-rempah di Tanah Air.

(Baca juga: Muslim yang Taat, Pangeran Diponegoro Tolak Bantuan Nyi Roro Kidul Lawan Belanda)

Menyadur buku Nusantara Sejarah Indonesia karya Sejarahwan Bernard H. M. Vlekke, keinginan Belanda untuk menjajah Tanah Air sempat mendapat perlawanan dari kerajaan-kerajaan Indonesia di masa lampau. Namun, yang paling menyulitkan di antara mereka semua, merupakan kerajaan Islam.

Bermula dari ketegangan dan konflik yang terjadi antara kerajaan kerajaan Islam dan kerajaan Jawa, serta kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya. Para pelaut Eropa berusaha membuat negara koloni di kawasan itu, sehingga berpuncak pada kejatuhan negara di masa itu.

(Baca juga: Peristiwa 3 Agustus: Berakhirnya Perang Padri)

Vlekke menjelaskan, bahwa suksesnya Belanda menjajah Indonesia bukan karena negeri kincir angin itu lebih perkasa dan memiliki kekuatan militer yang besar, melainkan karena selama lebih daripada 60 tahun kerajaan-kerajaan Nusantara saling berperang dan saling berusaha menguasai.

Belanda masuk pada saat yang tepat, kadangkala sebagai "penonton", kadang sebagai "wasit" yang memihak satu kelompok yang menang untuk kemudian dikuasai.

Satu-persatu kerajaan Nusantara jatuh ke tangan Belanda, akibat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengontrol sebagian besar jalur perdagangan di kawasan ini. Pada 1680, hampir seluruh perairan yang pernah dikuasai Majapahit direstorasi oleh Belanda, dan jadilah kekuatan kolonial ini sebagai penguasa kedua yang berhasil menyatukan Nusantara setelah Gajah Mada.

Dari sekian banyaknya kepulauan Indonesia, hanya beberapa pulau kecil yang lepas dari kontrol Belanda, seperti Bali karena sifat rakyatnya yang suka perang. Belanda juga tampak tidak bernafsu menguasai Bali, karena pulau itu tak memiliki sumber alam yang berharga.

Kontrol Belanda atas Indonesia tidaklah mudah. Selama tiga setengah abad keberadaannya, Belanda menghadapi ratusan pemberontakan dan berbagai macam konflik sosial dan perang ketika menguasai Indonesia.

Perlawanan terhadap pemerintahan kolonial datang dari beragam etnis, suku, dan agama. Namun, perlawanan yang paling gigih dan paling ditakuti Belanda adalah pemberontakan yang mengatasnamakan Islam.

Ketakutan Belanda akan pemberontakan Islam bukan karena kaum Muslim memiliki persenjataan canggih atau memiliki organisasi militer yang kuat, melainkan karena solidaritas keagamaan yang mereka galang. Solidaritas ini bisa melibatkan banyak sekali orang, membuat pasukan Islam sukar dibendung.

Salah satu ikatan solidaritas yang mampu mengetuk setiap hati kaum Muslim untuk melakukan perlawanan kepada pemerintah kolonial adalah jihad. Konsep ini kali pertama didengungkan di akhir abad ke-17, ketika kerajaan Mataram dan Banten jatuh ke tangan Belanda.

Wacana jihad perlahan menyebar, dengan mengobarkan semangat juang kaum Muslim yang selama itu merasa tidak puas dengan keadaan dengan cepat terpancing untuk terlibat dalam gerakan-gerakan jihad. Belanda harus bekerja keras membasmi gerakan jihad ini dan berusaha menangkap para pemimpinnya.

Salah satu tokoh agama yang dituduh Belanda sebagai pengobar semangat jihad adalah Syeikh Yusuf, seorang ulama asal Makasar yang memiliki banyak pengikut di Banten. Ulama ini ditangkap dan kemudian diasingkan Belanda ke Afrika Selatan.

Di Mataram, istilah jihad sudah digaungkan kala kontrol Belanda terhadap keraton semakin kuat. Tetapi, barulah memasuki tahun 1825, ketika seorang pangeran Jawa yang taat, Diponegoro, menyerukan konsep ini dan mengobarkan semangat perang melawan Belanda.

Jihad yang dikomandoi Diponegoro merupakan gerakan yang paling berbahaya dan paling massif yang pernah dihadapi Belanda di Jawa, dan mungkin juga di seluruh Nusantara. Diponegoro melakukan jihad selama lima tahun dengan cara terang-terangan dan bergerilya.

Peristiwa ini akhirnya dikenal sebagai Perang Jawa, dan berakhir pada 1830 dengan ditangkapnya sang Pangeran yang kemudian dibuang ke Minahasa. Menurut Vlekke, hampir 15.000 serdadu pemerintah gugur, di antaranya 8.000 orang Eropa, dan jumlah orang Jawa yang mati akibat dampak peperangan ini diperkirakan mencapai 200.000 jiwa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini