Azis Syamsuddin Panggil Rita 'Bunda' saat Arahkan Beri Keterangan Palsu ke KPK

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 18 Oktober 2021 16:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 18 337 2488107 azis-syamsuddin-panggil-rita-bunda-saat-arahkan-beri-keterangan-palsu-ke-kpk-m0rKe5Dggj.jpg Rita Widyasari/ Antara

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari. BAP Rita dibongkar jaksa dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap pengurusan perkara yang ditangani KPK dengan terdakwa mantan penyidik KPK asal Polri, AKP Stepanus Robin Pattuju.

 (Baca juga: Terungkap! Azis Syamsuddin Kenalkan Rita Widyasari ke Penyidik KPK untuk Kondisikan Perkara)

Dalam BAPnya, terungkap adanya arahan mantan Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin kepada Rita Widyasari untuk memberikan keterangan palsu jika diperiksa KPK. Dalam BAP tersebut, terungkap juga panggilan 'Bunda' dari Azis Syamsuddin kepada Rita Widyasari saat mengarahkan untuk memberi keterangan palsu.

(Baca juga: Dicecar soal 8 Bekingan di KPK, Reaksi Azis Syamsuddin Mengejutkan

"Apa Azis sampaikan seperti ini 'Bunda tolong kalau diperiksa KPK akui saja dolar yang dikirimkan ke Robin dari money changer itu adalah milik bunda'. Terus saudara tanyakan ke Pak Azis Syamsuddin 'berapa bang?', Pak Azis sampaikan 'sekitar Rp8 miliar iya itu uang dolar dari saya'," beber Jaksa KPK saat membacakan BAP Rita Widyasari di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (18/10/2021).

Fakta itu bermula ketika salah seorang jaksa KPK mengonfirmasi Rita soal komunikasinya dengan Azis setelah Stepanus Robin Pattuju dan rekannya, Maskur Husain ditetapkan sebagai tersangka. Rita kemudian mengakui bahwa memang pernah dihubungi oleh Azis Syamsuddin.

Azis juga sempat meminta bantuan rekannya bernama Kris untuk menemui Rita di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tangerang. Saat itu, ungkap Rita, Kris meminta agar nama Azis Syamsuddin tidak diseret-seret jika nantinya dia diperiksa KPK.

"Pada intinya beliau (Kris) menyampaikan jangan bawa-bawa Bang Azis. Saya sampaikan, niatnya Bang Azis kan sebetulnya membantu saya, Pak. Beliau bilang jangan bawa beliau. Ada beberapa angka yang harus saya akui," terang Rita.

Rita melanjutkan, bahwa Azis sebenarnya memang berniat membantu mengurus pengembalian 19 asetnya yang disita oleh KPK melalui Peninjauan Kembali (PK). Pengurusan pengembalian aset itu dengan meminta bantuan dari penyidik KPK, Stepanus Robin Pattuju.

Namun, dia mengklaim tidak tahu-menahu adanya pemberian uang Rp8 miliar dari Azis Syamsuddin kepada Stepanus Robin untuk mengurus perkaranya. Jaksa pun kembali mengonfirmasi ihwal klaim Rita tersebut.

"Saya tegaskan ya, dari keterangan saudara tadi, saudara didatangi oleh temannya Pak Azis bernama Pak Kris. Dan Pak Kris menyampaikan ke saudara bahwa intinya jangan bawa-bawa nama Pak Azis Syamsuddin kalau diperiksa KPK," tanya jaksa kepada Rita.

"Dan kedua, terkait uang Rp200 juta yang ditransfer pak Azis ke pak Maskur, serta uang yang berbentuk dolar (Amerika maupun Singapura) agar diakui itu uangnya saudara." Benar begitu?" Sambung jaksa kembali bertanya.

"Iya," jawab Rita.

"Padahal itu bukan uang saudara?" ucap jaksa kembali bertanya.

"Saya enggak punya uang, Pak," ucap dia.

"uang itu dalam rangka apa?" tanya jaksa.

"Karena kan saya ada lawyer fee, lawyer fee belum dibayar. Anggaplah kalau itu saya akui, itu legal," terang Rita.

Dalam perkara ini, Stepanus Robin Pattuju didakwa telah menerima suap sebesar Rp11.025.077.000 dan 36.000 dolar AS atau setara Rp513 juta dari berbagai pihak. Jika ditotal, Stepanus Robin menerima suap Rp11,5 miliar. Ia didakwa menerima suap bersama-sama dengan rekannya seorang pengacara, Maskur Husain.

Adapun, uang sebesar Rp11,5 miliar tersebut berasal dari Wali Kota non-aktif Tanjungbalai, M Syahrial sebesar Rp1,69 miliar. Kemudian, sejumlah Rp3 miliar dan 36.000 dolar AS berasal dari Wakil Ketua DPR RI asal Golkar, Azis Syamsuddin dan mantan Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Aliza Gunado.

Lantas, Stepanus Robin juga disebut menerima Rp507 juta dari mantan Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna dan senilai Rp5,1 miliar dari bekas Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Stepanus juga disebut menerima uang dari Direktur PT Tenjo Jaya, Usman Effendi, sebesar Rp525 juta.

Atas perbuatannya, Stepanus Robin dan Maskur Husain disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini