Wapres: Libur Maulid Nabi Digeser untuk Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19

Antara, · Minggu 17 Oktober 2021 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 17 337 2487584 wapres-libur-maulid-nabi-digeser-untuk-antisipasi-lonjakan-kasus-covid-19-uG1Jyn7yoL.jpg Wapres Maruf Amin bersama dengan Menko PMK Muhadjir Effendy (Foto: Antara)

JAKARTA - Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan keputusan pemerintah menggeser hari libur Maulid Nabi atau Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dari Selasa 19 Oktober 2021 menjadi Rabu 20 Oktober 2021 bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.

"Kami menggeser itu untuk menghindari orang memanfaatkan hari kejepit itu, sehingga orang keterusan (liburan). Oleh karena itu, kami coba (menggeser) itu, walaupun memang (kasus Covid-19) sudah rendah, tapi kita tetap antisipatif," kata Wapres Ma’ruf Amin di sela-sela kunjungan kerjanya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (17/10/2021).

Dia menambahkan bahwa upaya antisipatif terhadap potensi lonjakan kasus penularan Covid-19 dilakukan agar tidak terjadi pelonggaran protokol oleh masyarakat saat memanfaatkan hari libur keagamaan seperti India.

"India itu kan ketika dia sudah rendah, kemudian terjadi pelonggaran-pelonggaran bahkan ada acara keagamaan, akhirnya naik lagi. Itu kami tidak ingin itu terulang di Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menambahkan bahwa keputusan penggeseran hari libur tersebut untuk menghindari masyarakat yang memanfaatkan libur panjang setelah akhir pekan.

Baca juga: Pantun Wapres Tutup Pelaksanaan PON Papua

"Itu pertimbangannya semata-mata adalah untuk menghindari masa libur yang panjang, karena di celah antara hari libur dengan libur reguler (Sabtu dan Minggu) itu ada haris kejepit, yaitu hari Senin," kata Muhadjir mendampingi Wapres di Kupang.

Baca juga: Bertemu Ormas Islam di Papua Barat, Wapres: Kita Jaga NKRI dengan Kerukunan

Sehingga, lanjut Muhadjir, apabila libur nasional Maulid Nabi tetap dilakukan, maka akan berpotensi banyak masyarakat mengambil cuti atau membolos di Senin 18 Oktober 2021 agar mendapat libur panjang.

"Kalau liburnya tetap di Selasa, akan banyak orang memanfaatkan Senin itu untuk bolos atau izin, tapi sebetulnya niatnya untuk memperpanjang liburnya dan itu akan terjadi pergerakan orang besar-besaran," ucap dia menjelaskan.

Mobilitas orang besar-besaran tersebut dapat menyebabkan potensi kenaikan angka penularan kasus Covid-19. Oleh karena itu, Pemerintah tidak ingin penurunan kasus penularan Covid-19 saat ini justru dapat membawa kenaikan kasus.

"Justru dengan keadaan turun itu, kami tidak ingin main-main lagi, karena kita sudah pengalaman setiap turun kemudian kita membiarkan libur panjang tanpa ada intervensi kebijakan, itu akan diikuti dengan kenaikan kasus," ujar Muhadjir.

Baca juga: Ketika Wapres Wujudkan Keinginan Pedagang Pinang di Manokwari Papua

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini