BMKG dan Kementerian ESDM Perkokoh Sistem Peringatan Dini Tsunami

Fahmi Firdaus , Okezone · Minggu 17 Oktober 2021 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 17 337 2487529 bmkg-dan-kementerian-esdm-perkokoh-sistem-peringatan-dini-tsunami-vZwtEel71h.jpg BMKG dan Kementerian ESDM jalin kerja sama/ ist

BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggandeng Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Hal ini bertujuan untuk intensifikasi data sharing dan kajian bersama untuk memperkuat Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

(Baca juga: Suhu di Indonesia Semakin Panas, Ini Penjelasan BMKG)

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan tujuan utama dari agenda kerja sama ini yaitu melengkapi data agar sistem peringatan dini tsunami bisa beroperasi lebih handal, secara lebih cepat, tepat dan akurat.

"Targetnya adalah untuk mengintegrasikan data kegempaan akibat aktivitas gunung api yang selama ini dimonitor oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berada di Badan Geologi, di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),” ujar Dwikorita, Minggu (17/10/2021).

(Baca juga: Update Gempa Bali: 704 Rumah dan 111 Pura di Karangasem Rusak)

“Sehingga kemungkinan terjadinya tsunami yang dibangkitan oleh erupsi gunung api laut (tsunami non tektonik) dapat terdeteksi dini,” sambungnya.

Dia juga menyampaikan perlunya suatu Joint Standard Operasional Prosedure ( Joint SOP ) antara Pusat Gempabumi dan Tsunami di BMKG dengan PVMBG di Badan Geologi, agar Sistem Peringatan Dini Tsunami Non Tektonik akibat erupsi gunung api laut dapat terwujud, meskipun masih ada keterbatasan sensor-sensor monitoring aktivitas gunung api laut secara digital dan otomatis.

"Kita bisa buat SOP bersama, jadi meskipun belum terpasang alat monitoring digital real time pada gunung api laut yang dimonitor PVMBG Badan Geologi yang dapat langsung diintegrasikan secara otomatis dan real time ke Sistem Peringatan Dini Tsunami (InaTEWS) di BMKG, infomasi dari Pos Pengamatan Gunungapi tetap dapat masuk ke media komunikasi InaTEWS secara semi manual" bebernya.

Menurutnya, SOP bersama ini mendesak untuk diterapkan karena belajar dari peristiwa tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, yang tidak dapat terdeteksi akibat tidak masuknya data/informasi aktivitas kegempaan vulkanik ke InaTEWS . Selain kerja sama, Dwikorita juga mengajak Badan Geologi untuk bergabung dalam The International Consortium on Landslides. Organisasi nirlaba dan non-pemerintah ini rencananya akan menggelar pertamuan di Kyoto pada awal November 2021 yang juga akan membahas upaya kerjasama dalam Studi Tsunami Non Tektonik akibat longsor atau erupsi gunung api laut.

Sementara itu, Kepala Pusat Seismologi, Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono menambahkan, SOP Bersama BMKG dan Badan Geologi penting untuk melengkapi peringatan dini tsunami.

"Karena warning tsunami ada di BMKG, dan pengamatan gunung bawah laut ada di Badan Geologi," ucap dia.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Bambang S. Prayitno menyampaikan pula perlunya pencermatan bersama antara BMKG dan Badan Geologi untuk mengidentifikasi zona-zona yang Rawan Tsunami Non Tektonik akibat erupsi gunungapi atau longsor laut, pada peta beresolusi cukup tinggi. Hal ini juga akan didukung oleh Badan Informasi Geospasial (BIG).

“Jadi untuk mewujudkan Peringatan Dini yang lebih cepat, tepat dan akurat, memang diperlukan kolaborasi multi lembaga sebagaimana ditetapkan dalam Perpres no 93 tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami,” ujarnya.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan siap mendukung kajian operasional dan sharing data untuk memperkuat Early Warning System Tsunami akibat kejadian non-tektonik, patahan aktif, dan lainnya.

"Data kita sangat diperlukan masyarakat untuk peringatan dini sehingga pihak-pihak di hilirnya bisa mengantisipasi dan menyelamatkan masyarakat," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini